Jembatan Berjo Sidoluhur Rampung, Swadaya Warga Tembus Rp155 Juta
Jembatan Berjo di Sidoluhur rampung berkat kolaborasi BKK Rp224 juta dan swadaya warga Rp155 juta, memperkuat akses dan konektivitas.
RSUD Sleman - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Tiga dari sebelas bayi yang berhasil dievakuasi dari sebuah rumah di wilayah Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, saat ini masih harus menjalani perawatan intensif di RSUD Sleman. Langkah medis ini diambil setelah ketiganya terdeteksi mengalami gangguan kesehatan serius yang memerlukan pemantauan tenaga ahli secara berkelanjutan.
Direktur RSUD Sleman, dr. Wisnu Murti Yani, mengonfirmasi bahwa ketiga bayi tersebut menderita penyakit bawaan sejak lahir. Meski penyakit tersebut bersifat alami, dr. Wisnu menduga situasi lingkungan dan pola pengasuhan di lokasi sebelumnya turut memperburuk kondisi kesehatan fisik para bayi malang tersebut.
“Memang tidak karena perlakuan tertentu [penelantaran], tetapi mungkin itu [pengasuhan] justru menambah keparahan dari sakitnya,” jelas dr. Wisnu saat memberikan keterangan di Kompleks Pemda Sleman pada Senin (11/5/2026). Saat ini, pihak rumah sakit menerapkan penanganan medis yang dipisahkan berdasarkan tingkat keparahan diagnosa masing-masing pasien.
Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Sleman, dr. Veronika Evita Setianingrum, merinci bahwa salah satu bayi yang baru berusia satu bulan terdeteksi mengalami kondisi kuning atau jaundice. Tim medis masih melakukan observasi mendalam untuk memastikan apakah kondisi tersebut dipicu oleh kekurangan asupan nutrisi atau adanya kelainan pada fungsi hati.
Sementara itu, dua bayi lainnya ditempatkan di Ruang Melati RSUD Sleman untuk penanganan yang lebih spesifik. Satu bayi dilaporkan mengidap kelainan jantung bawaan yang membutuhkan pengawasan ketat, sedangkan satu bayi lainnya menderita hernia yang memerlukan tindakan medis lanjutan guna mencegah komplikasi yang lebih fatal.
“Kemudian yang dua itu di Ruang Melati. Yang satu karena kelainan jantung bawaan dan yang satu ada hernia. Itu butuh penanganan lebih lanjut,” tutur dr. Evita. Kehadiran mereka di RSUD Sleman merupakan rujukan langsung dari Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman yang melakukan penjemputan pada Jumat sore lalu.
Hingga berita ini diturunkan, ketiga bayi tersebut masih berada dalam fase observasi ketat oleh tim dokter spesialis anak. Pihak rumah sakit terus berupaya menstabilkan kondisi fisik mereka sembari menunggu perkembangan lebih lanjut terkait status pengasuhan dan langkah hukum dari instansi terkait.
Kasus penemuan belasan bayi di wilayah Pakem ini telah memicu perhatian publik di Kabupaten Sleman. Fokus utama saat ini adalah memastikan hak kesehatan para bayi terpenuhi sepenuhnya agar mereka dapat pulih dan mendapatkan lingkungan pengasuhan yang lebih layak di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Berjo di Sidoluhur rampung berkat kolaborasi BKK Rp224 juta dan swadaya warga Rp155 juta, memperkuat akses dan konektivitas.
Prof Dante tegaskan obesitas adalah penyakit serius yang meningkatkan risiko jantung dan kanker, perlu penanganan menyeluruh.
BRIN dorong pembahasan RUU Pemilu dipercepat agar Pemilu 2029 berjalan berkualitas dan sesuai tahapan.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.
KPK menetapkan Bupati Langkat Syah Afandin sebagai tersangka OTT terkait suap proyek dan gratifikasi senilai Rp3,5 miliar.
Witan Sulaeman resmi perpanjang kontrak 3 tahun di Persija Jakarta. Siap tampil maksimal di bawah pelatih Shin Tae-yong.