Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Status Siaga Belum Berubah

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Rabu, 01 Juli 2026 07:37 WIB
Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Status Siaga Belum Berubah

Wisatawan berada di kawasan wisata lereng Gunung Merapi, Bungker Kaliadem, Sleman - Andreas Fitri Atmoko

Harianjogja.com, SLEMAN—Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) memastikan pendakian Gunung Merapi masih ditutup hingga waktu yang belum dapat ditentukan. Kebijakan tersebut tetap diberlakukan karena status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) dengan aktivitas erupsi yang dinilai masih tinggi.

Penegasan itu disampaikan BTNGM menyusul maraknya unggahan di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian serta ajakan untuk kembali membuka jalur menuju puncak Gunung Merapi. Balai mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan otoritas vulkanologi.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, T. Heri Wibowo, menjelaskan pendakian Gunung Merapi sudah tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018 ketika status aktivitas meningkat dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Selanjutnya, pada 5 November 2020, status Gunung Merapi kembali meningkat menjadi Level III (Siaga) dan hingga kini belum mengalami perubahan.

Mengacu pada laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19–25 Juni 2026 yang diterbitkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas vulkanik Merapi masih didominasi erupsi efusif dengan suplai magma yang terus berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas guguran di kawasan yang masuk zona bahaya.

Potensi ancaman saat ini meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya, yakni ke Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik diperkirakan dapat terlontar dalam radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

BTNGM juga mengingatkan bahwa jalur pendakian New Selo menuju puncak berada di kawasan yang masuk zona berbahaya. Area tersebut meliputi Pintu Gerbang, Pos I, Pos II, hingga Pasar Bubrah. Selain jalur pendakian, sejumlah lokasi wisata soft trekking, termasuk kawasan OWA Kalitalang, juga berada pada radius sekitar 3,3 kilometer dari Pos IV atau pos terakhir pendakian.

Heri menegaskan penutupan pendakian dilakukan sepenuhnya untuk mengikuti rekomendasi instansi yang berwenang sekaligus mengutamakan keselamatan masyarakat.

"Pendakian Gunung Merapi sampai saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," katanya.

Secara terpisah, Kepala Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Cangkringan, Prakasita Nastiti, mengatakan pihaknya terus melakukan langkah mitigasi bagi wisatawan yang berkunjung ke OWA Kalitalang maupun Plunyon. Salah satu upaya yang dilakukan adalah tetap menutup jalur trekking menuju kawasan Watu Gebyok Plunyon demi mengurangi risiko bagi pengunjung.

“Kami hingga saat ini masih menutup jalur trekking yang menuju ke arah Watu Gebyok Plunyon,” kata Prakasita.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online