Pelatihan Aksara Jawa di Keparakan Diserbu Generasi Muda

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Sabtu, 23 Mei 2026 11:27 WIB
Pelatihan Aksara Jawa di Keparakan Diserbu Generasi Muda

-

Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan, terus mendorong pelestarian budaya Jawa melalui pelatihan menulis Aksara Jawa yang digelar di Pendopo Kelurahan Keparakan. Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari puluhan peserta, terutama kalangan generasi muda dan pegiat budaya di wilayah setempat.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman sekaligus menjaga keberlangsungan penggunaan Aksara Jawa atau Hanacaraka agar tetap dikenal masyarakat, khususnya anak muda di Kota Jogja.

Lurah Keparakan, Yusup Ahbari, menegaskan pentingnya menjaga eksistensi Aksara Jawa sebagai bagian dari warisan budaya Yogyakarta. Menurutnya, Kelurahan Keparakan selama ini dikenal memiliki empat zona unggulan, yakni wisata, kerajinan, kuliner, dan seni budaya.

“Keparakan sudah dikenal dengan empat zona unggulannya, yaitu wisata, kerajinan, kuliner, dan seni budaya. Pelatihan ini menjadi salah satu wujud nyata komitmen kami dalam mengembangkan zona seni budaya,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar penulisan Aksara Jawa melalui materi sejarah singkat Hanacaraka hingga praktik menulis secara langsung. Pelatihan dirancang agar peserta dapat memahami bentuk huruf sekaligus cara penggunaannya dalam penulisan sehari-hari.

Materi yang diberikan meliputi pengenalan 20 huruf dasar Hanacaraka beserta sandhangan vokal dan konsonan, cara menulis kata dan kalimat sederhana, hingga teknik penulisan yang benar termasuk arah goresan dan proporsi huruf.

Narasumber pelatihan, Danang Rusmandoko, menjelaskan metode pembelajaran dilakukan secara interaktif dengan memanfaatkan lembar latihan dan proyeksi contoh aksara untuk memudahkan peserta memahami materi.

“Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan berlangsung. Sejumlah peserta yang awalnya mengaku kesulitan mulai mampu menulis aksara Jawa setelah beberapa kali mencoba,” katanya.

Suasana pelatihan berlangsung aktif karena peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan penulisan aksara Jawa secara bertahap. Pendekatan tersebut dinilai membuat peserta lebih cepat memahami bentuk serta penggunaan Hanacaraka.

Salah satu peserta, Ita, mengaku senang dapat kembali mempelajari aksara Jawa yang sebelumnya pernah diajarkan saat masih duduk di bangku sekolah.

“Senang sekali bisa belajar lagi aksara Jawa. Dulu waktu sekolah sempat diajarkan, tapi sekarang hampir lupa,” katanya.

Ia berharap kegiatan pelestarian budaya seperti pelatihan aksara Jawa dapat rutin digelar di tingkat kelurahan. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menarik apabila dikembangkan ke tingkat lanjutan atau dipadukan dengan workshop kerajinan berbasis motif aksara Jawa agar semakin diminati generasi muda.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online