Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Sabtu 23 Mei, Tarif Rp12.000
Layanan ini menghubungkan kawasan Malioboro dengan Pantai Parangtritis, memberikan alternatif transportasi praktis bagi wisatawan yang ingin menikmati destinasi
Imam Besar New York asal Indonesia, Shamsi Ali, M.A., Ph.D., saat menghadiri Rapat Senat Terbuka Penganugerahan UMY Awards 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (23/5/2026). /Istimewa-UMY.
Harianjogja.com, JOGJA— Tragedi 11 September 2001 atau 9/11 disebut menjadi titik balik perkembangan Islam di Amerika Serikat. Di tengah meningkatnya Islamofobia dan kejahatan kebencian terhadap Muslim, angka konversi ke Islam justru melonjak tajam dalam dua dekade terakhir.
Pernyataan itu disampaikan Imam Besar New York asal Indonesia, Shamsi Ali, M.A., Ph.D., saat menghadiri Rapat Senat Terbuka Penganugerahan UMY Awards 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (23/5/2026).
Sebagai tokoh Muslim yang telah lama berdakwah di New York, Shamsi Ali menilai tragedi 9/11 menjadi momentum paradoksal bagi komunitas Islam di Amerika Serikat.
“9/11 adalah momentum paradoksal. Di satu sisi, komunitas Muslim menghadapi tekanan yang luar biasa berat. Di sisi lain, justru itulah titik ketika Islam tumbuh paling pesat dalam sejarah Amerika,” ujar Shamsi Ali.
Islamofobia Naik, Konversi ke Islam Ikut Melonjak
Shamsi Ali menjelaskan, pasca-serangan 9/11 pemerintah Amerika Serikat memberlakukan PATRIOT Act, melakukan profiling terhadap Muslim asal Timur Tengah dan Asia Selatan, serta memperketat pengawasan terhadap masjid-masjid di New York selama lebih dari satu dekade.
Ia menyebut, data Federal Bureau of Investigation (FBI) mencatat kejahatan berbasis kebencian terhadap Muslim meningkat hingga 1.600 persen setelah tragedi tersebut.
Namun di tengah tekanan itu, angka konversi ke Islam justru meningkat lebih dari 400 persen. Al-Qur’an bahkan menjadi salah satu buku yang paling banyak dicari masyarakat Amerika Serikat saat itu.
“Setiap kali tekanan datang, Islam justru semakin dikenal. Kebencian itu tanpa sadar telah menjadi jalan dakwah yang paling efektif,” imbuhnya.
Menurut Shamsi Ali, Islamofobia di Barat bukan fenomena baru yang lahir akibat satu peristiwa semata. Ia menilai akar persoalan tersebut telah berlangsung panjang sejak era Perang Salib, kolonialisme, hingga konflik modern yang membentuk narasi Islam sebagai ancaman global.
“Setiap kali ada konflik yang melibatkan dunia Islam, Muslim di Amerika selalu ditempatkan pada posisi yang sama, yakni memilih antara iman, kemanusiaan, dan loyalitas kepada negara. Ini tidak adil dan perlu diatasi dengan cara yang cerdas,” katanya.
Jumlah Muslim Amerika Disebut Lebih Besar dari Data Resmi
Dalam kesempatan yang sama, Shamsi Ali juga mengungkapkan jumlah Muslim di Amerika Serikat saat ini diperkirakan mencapai 10 hingga 15 juta jiwa. Angka tersebut dinilai jauh lebih besar dibanding data resmi pemerintah yang hanya mencatat sekitar 5 hingga 7 juta Muslim.
“Data resmi yang ada saat ini masih undercounting. Jumlah sesungguhnya telah melampaui dua kali lipat angka yang dipublikasikan,” ujarnya di hadapan civitas academica UMY dan para tamu undangan.
Menurut dia, selisih data tersebut bukan semata persoalan teknis pendataan, melainkan juga berkaitan dengan minimnya pengakuan terhadap kontribusi komunitas Muslim di Amerika Serikat selama ini.
Shamsi Ali turut memaparkan profil demografi Muslim Amerika Serikat yang dinilainya berbeda dari stereotipe umum di masyarakat. Berdasarkan data Pew Research Center, sekitar 58 persen Muslim Amerika berusia di bawah 40 tahun. Sementara dari sisi pendidikan, sekitar 44 persen Muslim di AS memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi, melampaui rata-rata nasional sebesar 33 persen.
“Kebanyakan dari mereka mendominasi bidang kedokteran, teknologi informasi, teknik, dan hukum,” jelasnya.
Masjid di Amerika Capai 4.500 Unit
Pertumbuhan komunitas Muslim di Amerika Serikat juga terlihat dari meningkatnya jumlah masjid dalam beberapa dekade terakhir. Shamsi Ali menyebut jumlah masjid yang pada awal 1960-an hanya sekitar 200 kini telah mencapai lebih dari 4.500 unit di seluruh Amerika Serikat.
Bahkan, Kota New York disebut memiliki lebih dari 300 masjid yang menjadi pusat aktivitas komunitas Muslim dari berbagai latar belakang etnis dan budaya.
“Sekitar 20 hingga 25 persen Muslim di Amerika Serikat saat ini adalah mualaf, mayoritas berasal dari kalangan Afrika-Amerika dan Latin. Dalam tren terbaru, gelombang konversi juga mulai datang dari kelompok yang sebelumnya jarang dikaitkan dengan Islam, yaitu warga kulit putih Amerika,” ungkapnya.
Fenomena tersebut, lanjut Shamsi Ali, muncul karena Islam dipandang sebagai agama yang rasional, seimbang, dan mampu menjawab kekosongan spiritual sebagian masyarakat Amerika modern.
Dengan tingkat fertilitas Muslim Amerika Serikat yang disebut mencapai 2,7 persen, ia memproyeksikan pengaruh komunitas Muslim akan terus meningkat pada masa mendatang, baik secara sosial, ekonomi, maupun politik.
“Pada 2050 mungkin jumlah Muslim masih sekitar 3 sampai 5 persen dari populasi, tetapi pengaruhnya bisa mencapai 15 hingga 20 persen di berbagai sektor kehidupan nasional,” jelasnya.
Pada acara tersebut, Shamsi Ali menerima UMY Awards 2026 yang diserahkan langsung oleh Rektor UMY Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. Penghargaan itu diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan dakwah dan komunitas Islam di Amerika Serikat selama puluhan tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Layanan ini menghubungkan kawasan Malioboro dengan Pantai Parangtritis, memberikan alternatif transportasi praktis bagi wisatawan yang ingin menikmati destinasi
Isu pocong berkeliaran di Kulonprogo viral di media sosial. Polisi memastikan kabar tersebut hoaks dan meminta warga tidak panik.
Bareskrim Polri menyelidiki blackout massal di Sumatera setelah putusnya jaringan SUTET di Jambi memicu gangguan listrik luas.
Studi global ungkap gangguan mental kini menjadi penyebab utama kecacatan dunia dengan hampir 1,2 miliar penderita.
Timnas Iran resmi pindahkan markas latihan Piala Dunia 2026 dari Arizona ke Tijuana, Meksiko. Mehdi Taj sebut langkah ini imbas ketegangan geopolitik.
Daftar mobil mesin di bawah 1.400 cc yang irit BBM dan pajak ringan cocok untuk keluarga muda dan pemakaian harian.