20 Tahun Gempa Jogja, DIY Perkuat Budaya Siaga Bencana

Anisatul Umah
Anisatul Umah Senin, 25 Mei 2026 14:37 WIB
20 Tahun Gempa Jogja, DIY Perkuat Budaya Siaga Bencana

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terus memperkuat kesiapsiagaan bencana dengan menjadikan peringatan 20 tahun Gempa Jogja sebagai momentum membangun budaya sadar risiko di tengah masyarakat. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan berbagai sektor dalam menghadapi ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah DIY.

Penguatan kesiapsiagaan tidak hanya difokuskan pada respons saat bencana terjadi, tetapi juga mencakup pembangunan sistem mitigasi yang terintegrasi. Mulai dari infrastruktur publik yang aman, sistem peringatan dini yang cepat dan mudah dipahami masyarakat, hingga pendidikan kebencanaan sejak usia dini menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan Pemda DIY bersama berbagai pihak terkait berkomitmen meningkatkan ketangguhan daerah terhadap potensi kebencanaan.

“Peringatan 20 tahun Gempa Jogja harus menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana kita belajar dan bersiap terhadap risiko bencana. Sebab, kesiapsiagaan adalah sebuah ekosistem yang mencakup infrastruktur umum yang aman dan berfungsi saat darurat,” ujarnya dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana dan Gelar Peralatan Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja di Lapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan , Sabtu (23/5/2026).

Menurut Ni Made, pengalaman Gempa Jogja 2006 harus menjadi pijakan penting dalam membangun kebijakan kebencanaan yang lebih matang, terarah, dan berkelanjutan. Ia menegaskan kesiapsiagaan tidak cukup diwujudkan melalui tindakan sesaat, tetapi harus menjadi budaya hidup yang tertanam dalam keseharian masyarakat.

Ia juga menyinggung falsafah Jawa “eling lan waspada” serta “hamemayu hayuning bawana” sebagai pengingat agar masyarakat selalu sadar terhadap kondisi sekitar, waspada terhadap berbagai kemungkinan bencana, dan menjaga harmoni antara manusia dengan lingkungan.

“Dari pengalaman itu kita belajar saat bencana, korban bisa berjatuhan dalam hitungan detik. Tetapi keselamatan hanya dapat tumbuh dari kesiapsiagaan yang dibangun secara terus-menerus, jauh sebelum bencana terjadi,” jelasnya.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Lilik Kurniawan menilai peringatan dua dekade Gempa Jogja menjadi sarana penting untuk membangun kesadaran kolektif terkait tingginya risiko bencana di DIY dan Jawa Tengah.

Menurutnya, kesiapsiagaan harus dipandang sebagai investasi utama dalam mitigasi bencana. Selain ancaman gempa bumi, wilayah DIY juga perlu mewaspadai dampak fenomena El Nino yang berpotensi memicu kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan sektor pertanian dan kehidupan masyarakat.

“Mari kita jadikan ketangguhan bencana sebagai budaya bersama dan kekuatan kolektif bangsa. Dengan kebersamaan, kita dapat memastikan bahwa Indonesia tidak hanya mampu menghadapi bencana tapi juga mampu lebih cepat menjadi bangsa yang semakin tangguh,” tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online