Wisata Gunungkidul Meledak PAD Tembus Rp26 Miliar
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026 didorong lonjakan kunjungan ke Pantai Drini dan Pantai Sepanjang.
Petugas kesehatan sedang melayani warga yang memeriksakan diri di UPT Puskesmas Ponjong I, Kabupaten Gunungkidul, Selasa, (10/9/2024). - Harian Jogja/Triyo Handoko
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Dinas Kesehatan Gunungkidul menggencarkan program Active Case Finding Tuberkulosis (ACF TB) sebagai langkah mempercepat deteksi dini dan menekan penyebaran penyakit tuberkulosis di masyarakat. Melalui program tersebut, sebanyak 205 kasus baru TBC berhasil ditemukan hingga pertengahan Mei 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar, mengatakan kegiatan ACF TB sudah dimulai sejak April dan akan berlangsung hingga akhir tahun.
“Sejak berjalan pada April lalu hingga pertengahan Mei sudah ditemukan 205 kasus penderita TBC baru di Gunungkidul,” ujar Wanda, Senin (25/5/2026).
Program tersebut melibatkan 30 puskesmas di seluruh wilayah Gunungkidul. Pemerintah daerah menargetkan penemuan sekitar 1.000 kasus baru TBC sepanjang pelaksanaan program.
Menurut Wanda, penelusuran dilakukan dengan menyasar warga yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC, terutama anggota keluarga yang tinggal serumah. Skrining aktif dinilai menjadi cara efektif untuk menemukan kasus yang selama ini belum terdeteksi.
Ia menjelaskan, deteksi dini penting dilakukan agar pasien dapat segera menjalani pengobatan sehingga risiko penularan di lingkungan sekitar dapat ditekan.
“Lewat skrining yang dilakukan menjadi salah satu cara efektif untuk mengetahui penderita TBC. Saat ditemukan kasus baru, pengobatan bisa langsung dilakukan sehingga risiko penularan dapat dikurangi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengatakan kegiatan penelusuran kasus TBC merupakan program rutin yang digelar setiap tahun. Namun, intensitas pelaksanaan kini terus diperkuat karena masih ada penderita yang belum teridentifikasi.
Menurut dia, semakin cepat kasus ditemukan maka penanganan akan lebih mudah dilakukan dan peluang penyebaran penyakit bisa ditekan.
“Semakin banyak ditemukan, maka tidak hanya pengobatan lebih mudah, tetapi potensi penularan juga dapat ditekan,” ujar Ismono.
Ia menambahkan, program ACF TB menjadi bagian dari upaya mewujudkan slogan “Gunungkidul Sehat, Wargane Kuat Masa Depan Hebat”. Pemerintah daerah juga menggandeng berbagai pihak agar proses deteksi dan penanganan TBC dapat berjalan lebih optimal.
Ismono memastikan penyakit tuberkulosis dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara rutin dan sesuai prosedur medis. Karena itu, masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan berkepanjangan diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Selain deteksi dini, Dinas Kesehatan Gunungkidul juga terus mengampanyekan penerapan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan berbagai penyakit menular.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, rutin berolahraga, serta menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026 didorong lonjakan kunjungan ke Pantai Drini dan Pantai Sepanjang.
Polisi Banyumas membongkar penipuan berkedok “Sultan Nusantara”. Korban rugi Rp50,8 juta usai dijanjikan pembersihan harta dan haji.
KPK memeriksa dua pejabat Kemenhub terkait kasus dugaan suap proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api DJKA Kemenhub.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyebut nasib guru honorer 2027 masih dibahas pemerintah. Guru non-ASN dipastikan tetap bekerja hingga 2026.
Begini cara membaca nilai TKA 2026 lengkap dengan arti skor, kategori hasil ujian, dan syarat mendapatkan predikat istimewa.
Prabowo Subianto membagikan 109 hewan kurban untuk warga Babakan Madang, Bogor, menjelang Iduladha 1447 Hijriah.