Gas Metana Diduga Pemicu Api Misterius Sleman, UGM Usul Pasang Blower

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Minggu, 31 Mei 2026 05:17 WIB
Gas Metana Diduga Pemicu Api Misterius Sleman, UGM Usul Pasang Blower

Tim Fakultas Teknik UGM melakukan sejumlah pengecekan di rumah yang muncul api misterius di Seyegan pada Sabtu (30/5/2026). /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.

Harianjogja.com, SLEMAN—Fenomena api misterius yang berulang muncul di sebuah rumah di Seyegan, Sleman, mendorong Tim Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) mengeluarkan sejumlah rekomendasi mitigasi. Salah satu langkah utama yang disarankan ialah memperbaiki sirkulasi udara serta memasang kipas angin atau blower guna mengurangi akumulasi gas metana yang diduga menjadi pemicu kemunculan api.

Rekomendasi tersebut muncul setelah tim melakukan serangkaian pengecekan di lokasi pada Sabtu (30/5/2026). Berdasarkan hasil pengamatan sementara, gas metana yang diduga keluar dari lingkungan sekitar rumah berpotensi terkumpul pada material berpori seperti pakaian dan sofa sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

Sebelumnya, Tim Fakultas Teknik UGM menduga fenomena api misterius di Seyegan, Sleman, dipicu oleh air yang terkontaminasi gas metana. Dalam kadar tertentu, gas tersebut dapat menyala ketika air keluar ke permukaan dan berinteraksi dengan oksigen di udara bebas.

Dosen Departemen Teknik Geologi FT UGM, Sarju Winardi, mengatakan tim merekomendasikan perbaikan sirkulasi udara di rumah yang mengalami fenomena tersebut. Menurut dia, langkah itu penting agar gas tidak mudah terkumpul di dalam ruangan.

"Tinggal di lantai dua, [lantai satu] didiamkan dulu sampai satu bulan, maka kami akan memantau, kalau ada perkembangan kita akan memantau," kata Sarju pada Sabtu (30/5/2026).

Sarju menjelaskan akses udara dari luar rumah perlu diperbesar sehingga aliran udara menjadi lebih lancar dan gas yang berpotensi muncul tidak terjebak di dalam ruangan.

"Sementara kami sarankan agar ruangan itu sirkulasinya diperbagus dengan udara luar lebih mudah, sehingga [gas] tidak mudah mengumpul," kata Sarju.

Selain perbaikan ventilasi, FT UGM juga menyarankan penggunaan kipas angin maupun blower sebagai alat bantu untuk mempercepat pergantian udara di dalam rumah. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi kemungkinan gas metana berkumpul pada material tertentu yang memiliki banyak pori.

"Kami minta juga dipasang kipas angin atau blower, sehingga sirkulasi udara lebih bagus, sehingga mengurangi, mengantisipasi terkumpulnya gas metana itu di satu material, seperti pakaian, seperti sofa," jelasnya.

Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan penyebaran gas metana ke wilayah lain, Sarju menilai karakteristik gas tersebut cenderung bergerak naik ke atmosfer, bukan menyebar secara mendatar.

"Kalau sebenarnya gas metana itu sifatnya dia kalau keluar dia akan mengambang ya, naik ke udara ya. Dia tidak secara lateral [atau] secara horizontal, dia akan bergerak ke sana tidak, kecuali terbawa angin," terang Sarju.

Menurut dia, ketika sudah berada di ruang terbuka, gas metana akan bercampur dengan udara sekitar sehingga konsentrasinya berkurang secara signifikan.

"Tapi biasanya kalau [gas metana] sudah di luar, dia bercampur dengan udara luar, dia kadarnya sudah sangat menurun ya. Jadi relatif aman begitu," lanjutnya.

Karena itu, pembukaan sirkulasi udara dan penggunaan blower dinilai menjadi cara efektif untuk mempercepat proses pencampuran gas metana dengan udara bebas sehingga kadar gas berkurang dan risiko kebakaran dapat ditekan.

"Makanya begitu sirkulasi dibuka, kemudian ada kipas angin keluar, bercampur dengan udara ini kadarnya sudah sangat berkurang, insyaAllah aman," tegasnya.

Sarju menambahkan, semakin rendah konsentrasi gas metana yang terakumulasi di dalam rumah, semakin kecil pula peluang munculnya api seperti yang sebelumnya dilaporkan warga.

"Ya, mengurangi potensi terbakar. Karena kadarnya sudah sangat sedikit ya, bercampur dengan udara luar," tukasnya.

Tim Fakultas Teknik UGM melakukan sejumlah pengecekan langsung di rumah yang menjadi lokasi kemunculan api misterius di Seyegan pada Sabtu (30/5/2026). Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi sumber gas metana sekaligus menyusun langkah mitigasi yang dapat diterapkan penghuni rumah guna mencegah munculnya kembali fenomena serupa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online