Kawal Kasus Lurah Garongan, Bupati Agung : Tunggu Status Tersangka
Pemkab Kulonprogo siapkan SK penonaktifan Lurah Garongan jika status hukum naik menjadi tersangka. Simak penjelasan Bupati Agung Setyawan terkait kasus pungli.
Bandara Adisutjipto - dok/Harianjogja
Harianjogja.com, KULONPROGO – Wacana reaktivasi Bandara Adi Sucipto di Kabupaten Sleman kembali memunculkan perdebatan, terutama di wilayah Kulonprogo yang menjadi lokasi Yogyakarta International Airport. Rencana tersebut dinilai berpotensi memengaruhi peta penerbangan dan sektor ekonomi di sekitar bandara baru tersebut.
Perbedaan pandangan muncul antara pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata. Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan, menilai reaktivasi bandara lama tidak akan berdampak signifikan terhadap dominasi YIA sebagai pintu utama penerbangan di DIY.
Menurutnya, karakter operasional kedua bandara berbeda. YIA akan tetap melayani pesawat jet berkapasitas besar, sementara Bandara Adi Sucipto diperkirakan hanya melayani pesawat jenis turboprop atau ATR.
“Aktivasi itu kan pesawat ada dua jenis; jet dan baling-baling (ATR). Konsepnya masih pakai konsep yang lama,” ujar Agung, Jumat (5/6/2026).
Ia menegaskan hingga saat ini belum ada pembicaraan formal terkait reaktivasi Bandara Adi Sucipto. Menurutnya, keputusan tersebut berada di tangan Kementerian Perhubungan dan InJourney Airports sebagai otoritas pengelola bandara.
Agung juga menilai meskipun ada kemungkinan pergeseran trafik penumpang, dampaknya tidak akan signifikan terhadap Kulonprogo. Ia tetap optimistis YIA akan menjadi pusat utama pergerakan penumpang udara di DIY.
“Pergeseran itu pasti ada, tetapi saya yakin tidak signifikan karena YIA tetap menjadi tumpuan utama,” katanya.
PHRI Kulonprogo khawatir dampak ke sektor hotel
Pandangan berbeda disampaikan Ketua PHRI Kulonprogo, Sumantoyo. Ia menilai wacana reaktivasi Bandara Adi Sucipto justru berpotensi mengganggu ekosistem ekonomi yang telah terbentuk di sekitar YIA.
Menurutnya, saat ini tingkat okupansi hotel di wilayah Kulonprogo masih rendah, hanya sekitar 25 persen. Kondisi itu dikhawatirkan semakin tertekan jika penerbangan komersial kembali dialihkan ke bandara yang lebih dekat dengan pusat Kota Jogja.
“YIA saja penerbangannya masih minim, kok malah mau mereaktivasi Adi Sucipto? Ini berisiko membuat investasi di sekitar YIA tidak optimal,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah seharusnya fokus meningkatkan jumlah rute penerbangan di YIA, baik domestik maupun internasional, agar bandara yang sudah dibangun dengan investasi besar tersebut bisa lebih maksimal.
Sumantoyo juga memperingatkan potensi dampak psikologis pasar. Jika Bandara Adi Sucipto kembali melayani penerbangan komersial penuh, maskapai dan penumpang dinilai bisa kembali memilih bandara lama karena lebih dekat ke pusat Kota Jogja.
“Kalau Adi Sucipto dioperasionalkan secara komersial, khawatirnya YIA tambah sepi. Hotel-hotel di sekitar YIA juga akan semakin tertekan,” tegasnya.
Dua pandangan, satu isu strategis
Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa wacana reaktivasi bandara tidak hanya soal transportasi udara, tetapi juga menyangkut arah pembangunan ekonomi dan pariwisata di DIY, khususnya Kulonprogo yang selama ini bertumpu pada pertumbuhan kawasan YIA sebagai motor ekonomi baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Kulonprogo siapkan SK penonaktifan Lurah Garongan jika status hukum naik menjadi tersangka. Simak penjelasan Bupati Agung Setyawan terkait kasus pungli.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menepis isu pengunduran diri dan menegaskan tetap menjalankan tugas sesuai arahan Presiden Prabowo.
BPS Kota Jogja memantau potensi inflasi Juni 2026 jelang tahun ajaran baru, terutama dari biaya sekolah dan perlengkapan pendidikan.
Psikolog jelaskan sindrom pasca haji yang membuat jamaah merasa rindu dan sulit beradaptasi setelah pulang dari Tanah Suci.
Pemerintah RI memproyeksikan tarif AS ke produk Indonesia bisa mencapai 18% usai investigasi Section 301 Trade Act. Ini penjelasannya.
Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-11 pada 6 Juni 2026, Burz@ Hotel Yogyakarta menyelenggarakan serangkaian kegiatan Corporate Social Responsibility