Warga Keparakan Olah Limbah Dapur Jadi Deterjen Ramah Lingkungan

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Kamis, 11 Juni 2026 08:37 WIB
Warga Keparakan Olah Limbah Dapur Jadi Deterjen Ramah Lingkungan

Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA— Upaya mengurangi timbunan sampah rumah tangga di Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan, mulai diarahkan ke kegiatan yang lebih produktif dan bernilai ekonomi. Melalui pelatihan pembuatan deterjen berbahan ecoenzym, warga diajak mengubah limbah organik dapur menjadi produk ramah lingkungan yang dapat digunakan sehari-hari sekaligus berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.

Program yang digelar di Pendopo Kelurahan Keparakan pada Jumat (5/6/2026) tersebut diikuti puluhan peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga, kader PKK, hingga pengelola bank sampah. Dalam kegiatan itu, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus praktik langsung mengolah limbah dapur menjadi cairan multifungsi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembersih rumah tangga.

Lurah Keparakan, Yusup Ahbari, menuturkan pelatihan tersebut menjadi bagian dari langkah nyata mewujudkan kawasan berbasis zero waste yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.

“Kami ingin warga tidak hanya membuang sampah, tapi juga mengolahnya menjadi produk yang bernilai ekonomi. Harapan kami, setelah pelatihan ini, akan lahir kelompok usaha produktif berbasis ecoenzym di tiap RW,” ujar Yusup Ahbari.

Untuk mendukung penerapan hasil pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi teori. Mereka juga mendapatkan modul panduan, starter kit fermentasi, serta bibit ecoenzym agar dapat langsung mempraktikkan proses pembuatannya secara mandiri di rumah.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi hijau yang dijalankan Kelurahan Keparakan bersama komunitas lingkungan dan praktisi ecoenzym.

Pada sesi praktik, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempelajari tahapan pembuatan ecoenzym. Bahan yang digunakan berasal dari limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sayuran yang difermentasi menggunakan campuran gula dan air.

Setelah melalui proses fermentasi, cairan ecoenzym dapat diolah menjadi berbagai produk kebutuhan rumah tangga, mulai dari deterjen cair, sabun pencuci piring, hingga cairan pembersih lantai dengan aroma alami.

Salah satu praktisi ecoenzym yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, Suko, menjelaskan bahwa produk berbahan dasar ecoenzym memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bahan pembersih konvensional.

“Ecoenzym bukan hanya solusi pengolahan limbah, tapi juga bisa menjadi produk usaha rumah tangga yang menguntungkan. Deterjen berbahan ecoenzym lebih aman bagi kulit, tidak mencemari sungai, dan jauh lebih murah dibandingkan produk pabrikan,” jelas Suko.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan berlangsung. Mereka aktif mengikuti setiap tahapan pembuatan hingga mencoba langsung produk hasil olahan yang dibuat selama kegiatan.

Salah seorang peserta, Tatik, mengaku memperoleh wawasan baru mengenai cara mengelola limbah rumah tangga sekaligus menghemat pengeluaran keluarga.

“Selama ini saya beli deterjen mahal dan khawatir dampaknya ke lingkungan. Sekarang saya bisa buat sendiri, lebih hemat dan pasti ramah lingkungan,” ujarnya.

Melalui pelatihan tersebut, Kelurahan Keparakan berharap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah terus meningkat. Selain mendukung upaya pengurangan limbah rumah tangga, program ini juga diharapkan membuka peluang lahirnya usaha-usaha baru berbasis lingkungan yang dapat dikembangkan warga di tingkat kampung dan RW.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online