Warga Pengeluh Limbah SPPG Mangiran Mengaku Didatangi 4 Orang

Kiki Luqman
Kiki Luqman Kamis, 11 Juni 2026 06:57 WIB
Warga Pengeluh Limbah SPPG Mangiran Mengaku Didatangi 4 Orang

Foto ilustrasi dapur Makan Bergizi Gratis, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, BANTUL—Polemik dugaan pencemaran sumur warga akibat limbah cair dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangiran di Padukuhan Sapuangin, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Bantul, memasuki babak baru. Salah seorang warga terdampak, Agus Indriyanto, mengaku didatangi empat orang tak dikenal yang mempertanyakan sikapnya terkait kasus limbah yang sempat memicu penghentian sementara operasional SPPG tersebut.

Peristiwa yang disebut terjadi pada akhir Mei 2026 itu menambah perhatian terhadap penanganan kasus dugaan pencemaran lingkungan yang hingga kini masih bergulir. Agus menilai kedatangan empat orang tersebut mengarah pada bentuk intimidasi, meskipun tidak ada ancaman yang disampaikan secara langsung selama pertemuan berlangsung.

Menurut Agus, keempat orang itu datang ke rumahnya untuk membahas persoalan operasional SPPG yang sebelumnya mendapat protes dari warga akibat dugaan pencemaran limbah cair. Dalam pertemuan tersebut, pembicaraan berfokus pada alasan penolakan terhadap keberadaan dapur program makan bergizi gratis itu.

"Mereka datang empat orang. Cara bicaranya memang masih sopan, tetapi yang dipertanyakan terkait masalah SPPG," ujar Agus, Rabu (10/6/2026).

Pertanyakan Penolakan terhadap SPPG

Agus menuturkan, salah satu hal yang ditanyakan kepadanya adalah apakah keberatan terhadap operasional SPPG Mangiran merupakan persoalan pribadi atau benar-benar mewakili aspirasi warga yang terdampak pencemaran sumur.

"Mereka bertanya, ini masalah SPPG ditutup itu masalah pribadi atau masalah warga. Saya sampaikan kalau persoalan yang saya alami adalah sumur di tempat saya yang tercemar," katanya.

Ia mengaku tidak mengenal identitas keempat orang tersebut dan tidak mengetahui dari mana mereka berasal. Meski demikian, Agus meyakini kedatangan mereka bukan atas inisiatif sendiri, melainkan ada pihak lain yang meminta mereka datang menemuinya.

"Saya tidak tahu mereka disuruh siapa. Tapi menurut saya pasti ada yang memerintah," ujarnya.

Datang dengan Cara yang Dinilai Tidak Biasa

Kecurigaan Agus semakin bertambah karena cara kedatangan empat orang tersebut dianggap berbeda dari tamu pada umumnya. Menurut dia, kendaraan yang mereka gunakan tidak diparkir di sekitar rumah, melainkan ditempatkan cukup jauh dari lokasi sehingga mereka berjalan kaki menuju kediamannya.

"Mereka parkir motornya jauh. Saya sempat heran karena saat melihat ke luar tidak ada motor di sekitar rumah," katanya.

Dari sejumlah warga yang mengeluhkan dampak dugaan pencemaran limbah SPPG Mangiran, Agus mengaku hanya dirinya yang mendapatkan kunjungan dari empat orang tak dikenal tersebut.

"Setahu saya cuma saya yang didatangi. Warga lain tidak ada," ungkapnya.

Diduga Menggeser Isu dari Keluhan Warga Menjadi Persoalan Pribadi

Agus menduga tujuan kedatangan empat orang tersebut berkaitan dengan upaya mengubah persepsi terhadap persoalan yang sedang dihadapi warga. Menurut dia, masalah yang sejak awal muncul karena keluhan warga terdampak limbah berpotensi diarahkan seolah-olah menjadi persoalan personal.

"Saya melihat seolah-olah masalah ini mau dibuat bukan masalah warga, tetapi masalah pribadi," katanya.

Kasus dugaan pencemaran limbah cair dari SPPG Mangiran sebelumnya mencuat setelah sejumlah warga melaporkan perubahan kualitas air sumur yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Keluhan tersebut kemudian memicu penghentian sementara operasional dapur program makan bergizi gratis di lokasi tersebut.

Hingga kini, penanganan dugaan pencemaran limbah SPPG Mangiran masih terus berjalan. Evaluasi terhadap operasional fasilitas tersebut juga masih dilakukan menyusul laporan warga mengenai perubahan kondisi air sumur, sementara berbagai pihak terkait terus memantau perkembangan kasus yang menjadi perhatian masyarakat di wilayah Srandakan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online