Ketergantungan Fiskal DIY Tinggi, Pemda Siapkan Strategi Baru
Ketergantungan fiskal DIY masih tinggi. Pemda mengandalkan optimalisasi aset dan BUMD untuk meningkatkan PAD dan kemandirian fiskal.
Dokter. - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Ketersediaan dokter di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai masih mencukupi untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mengakui masih terdapat persoalan ketimpangan distribusi tenaga medis yang menyebabkan konsentrasi dokter menumpuk di wilayah tertentu.
Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan pemenuhan kebutuhan dokter saat ini masih mengacu pada standar yang ditetapkan pemerintah, baik untuk fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit.
Menurutnya, seluruh Puskesmas di DIY telah memenuhi ketentuan minimal jumlah dokter yang diwajibkan pemerintah.
“Kalau di Puskesmas itu acuannya minimal satu sampai dua dokter. Kita punya 121 Puskesmas dan itu sudah terpenuhi,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Selain layanan di Puskesmas, ketersediaan dokter spesialis di rumah sakit juga dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Karena itu, secara umum kualitas layanan kesehatan di DIY masih dapat berjalan optimal.
“Kalau kita lihat, dengan dokter spesialis yang ada di rumah sakit, menurut saya masih bisa memberikan pelayanan yang optimal,” katanya.
Data Dinkes DIY mencatat terdapat 3.277 dokter umum yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Kabupaten Sleman menjadi wilayah dengan jumlah dokter umum terbanyak, yakni 1.845 orang. Sebaliknya, Kulonprogo menjadi daerah dengan jumlah dokter umum paling sedikit, hanya 165 orang.
Sementara itu, jumlah dokter spesialis di DIY mencapai 1.352 orang. Lagi-lagi, Sleman menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi dengan 635 dokter spesialis. Adapun jumlah paling sedikit berada di Gunungkidul yang memiliki 98 dokter spesialis.
Selain dokter umum dan spesialis, DIY juga memiliki 282 dokter subspesialis yang tersebar di berbagai fasilitas kesehatan.
Dengan jumlah tersebut, Dinkes DIY menilai persoalan utama bukan lagi kekurangan tenaga medis, melainkan pemerataan distribusi layanan kesehatan.
“Secara keseluruhan kecukupan. Yang menjadi isu itu disparitasnya,” ujar Anung.
Ia menambahkan, kondisi DIY relatif lebih baik dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia dalam hal ketersediaan tenaga medis. Bahkan, tingkat kecukupan dokter di DIY dinilai mendekati daerah dengan fasilitas kesehatan maju seperti Jakarta dan Bali.
Meski demikian, kebutuhan tenaga medis tetap harus dievaluasi secara berkala karena standar pelayanan kesehatan dapat berubah mengikuti kebijakan pemerintah pusat maupun perkembangan layanan kesehatan global.
“Standar itu bisa berubah. Kami juga terus berkoordinasi dengan Kemenkes dan organisasi profesi,” katanya.
Kepala Bidang SDM Dinkes DIY, Agus Priyanto, menjelaskan ketimpangan distribusi dokter dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari aspek ekonomi hingga ketersediaan fasilitas kesehatan.
Wilayah Sleman dan Kota Jogja, misalnya, menjadi tujuan utama banyak dokter karena memiliki jumlah rumah sakit lebih banyak serta peluang ekonomi yang lebih menjanjikan.
“Fasilitas kesehatan kita sebenarnya banyak, tapi terkonsentrasi di kantong ekonomi. Akhirnya dokter juga berkumpul di sana,” ujarnya.
Selain itu, kesempatan untuk membuka praktik di beberapa lokasi sekaligus turut menjadi pertimbangan tenaga medis dalam menentukan tempat bekerja. Daerah yang memiliki fasilitas kesehatan terbatas umumnya kurang diminati.
“Dokter bisa praktik di tiga tempat. Kalau di wilayah yang rumah sakitnya sedikit, itu jadi tidak menarik,” katanya.
Faktor budaya masyarakat juga menjadi salah satu pertimbangan. Di sejumlah wilayah, tingkat kunjungan masyarakat ke dokter masih relatif rendah sehingga memengaruhi minat tenaga medis untuk membuka praktik.
Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, pemerintah daerah terus mendorong berbagai langkah, mulai dari pemberian beasiswa pendidikan dokter spesialis hingga membuka peluang perpindahan tenaga medis ke daerah yang masih membutuhkan.
“Kami terbuka kalau ada dokter yang mau pindah ke wilayah seperti Gunungkidul. Itu terus kami dorong,” ujar Agus.
Namun demikian, upaya pemerataan tenaga medis masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan kemampuan fiskal daerah serta rendahnya minat dokter untuk bertugas di wilayah dengan akses dan potensi ekonomi yang lebih terbatas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ketergantungan fiskal DIY masih tinggi. Pemda mengandalkan optimalisasi aset dan BUMD untuk meningkatkan PAD dan kemandirian fiskal.
Program Cek Kesehatan Gratis DIY menemukan potensi hipertensi, obesitas, dan risiko diabetes pada kelompok usia muda. Dinkes DIY mengingatkan pentingnya deteksi
Apple resmi merilis iOS 27 Developer Beta. Simak cara download, daftar iPhone yang kompatibel termasuk iPhone 11, serta fitur baru Siri berbasis AI.
Korea Selatan comeback 2-1 atas Ceko di Piala Dunia 2026. Gol Soucek dianulir offside, Hwang In-beom cetak gol chip cantik, Oh Hyeon-gyu menang di menit 80.
Tanggal 12 Juni diperingati sebagai Hari Internasional Menentang Pekerja Anak, Hari Kemerdekaan Filipina, Hari Perdamaian Kosovo, Hari Rusia, dan National Lovin
Laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan mencetak rekor tiga kartu merah. Jumlah itu hampir menyamai total kartu merah sepanjang Piala Du