Antrean Pertalite Menguras Waktu, Pekerja di Jogja Pilih Irit BBM
Harga Pertamax naik membuat pekerja di Jogja tetap pilih BBM non subsidi meski antre Pertalite makin panjang di SPBU.
Foto ilustrasi pernikahan. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kasus pernikahan dini di Kota Jogja masih menjadi perhatian serius hingga 2025. Meski jumlahnya relatif kecil, tren yang belum sepenuhnya turun membuat berbagai pihak terus mendorong upaya pencegahan melalui edukasi dan pendampingan keluarga.
Data dari DP3AP2 DIY mencatat, sepanjang 2025 terdapat 14 pasangan di Kota Jogja yang menikah di usia dini. Angka ini hanya sedikit menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 15 pasangan, menunjukkan bahwa persoalan ini masih belum sepenuhnya teratasi.
Sebagai langkah antisipasi, Kelurahan Gedongkiwo menggelar sosialisasi terkait dampak pernikahan dini yang menyasar remaja dan orang tua. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko yang ditimbulkan dari pernikahan di usia belum matang.
Lurah Gedongkiwo, Sunu Sari Husada, menegaskan bahwa pernikahan dini bukan sekadar persoalan individu, tetapi berdampak luas terhadap kualitas generasi muda. Menurutnya, keputusan menikah di usia muda berpotensi menghambat pendidikan, memicu masalah kesehatan reproduksi, hingga memengaruhi kondisi sosial ekonomi di masa depan.
Ia menilai banyak remaja belum memahami konsekuensi jangka panjang dari pernikahan dini. Padahal, keputusan tersebut dapat membawa dampak besar terhadap perjalanan hidup mereka.
“Remaja perlu dibekali pemahaman yang cukup agar mampu merencanakan masa depan dengan matang. Di sisi lain, orang tua juga harus aktif mendampingi serta membangun komunikasi yang positif dengan anak,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Sunu berharap, melalui sosialisasi ini, kesadaran kolektif masyarakat semakin meningkat. Ia menekankan bahwa pencegahan pernikahan dini bukan hanya tanggung jawab remaja, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga dan lingkungan sekitar.
Senada dengan itu, praktisi anak Ekandari Sulistyaningsih menjelaskan bahwa pernikahan dini memiliki berbagai risiko serius. Mulai dari risiko kesehatan akibat kehamilan di usia muda, tekanan psikologis, hingga tantangan sosial yang dihadapi pasangan muda.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya pendidikan sebagai bekal utama bagi remaja untuk menyusun masa depan yang lebih baik. Tanpa perencanaan yang matang, pernikahan dini dapat mempersempit peluang berkembang bagi generasi muda.
Ekandari menegaskan, keluarga memegang peran kunci dalam mencegah pernikahan dini. Melalui lingkungan keluarga yang suportif, remaja dapat memperoleh edukasi yang tepat sekaligus ruang diskusi yang sehat untuk memahami pilihan hidupnya.
“Keluarga adalah benteng pertama dalam membentuk pola pikir anak. Pendampingan yang baik akan membantu remaja menghindari keputusan menikah di usia yang belum siap,” jelasnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat, diharapkan angka pernikahan dini di Kota Jogja dapat terus ditekan. Edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci agar generasi muda lebih fokus pada pendidikan dan pengembangan diri sebelum memutuskan untuk menikah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga Pertamax naik membuat pekerja di Jogja tetap pilih BBM non subsidi meski antre Pertalite makin panjang di SPBU.
Insentif guru madrasah non-ASN mulai cair akhir Juni 2026 sebesar Rp1,5 juta. Simak detail lengkapnya di sini.
IHSG menguat ke level 6.321 pada Rabu, investor wait and see keputusan suku bunga BI dan The Fed. Simak analisis lengkapnya.
Sebanyak 4.576 personel gabungan amankan aksi demo di Jakarta, Rabu 17 Juni 2026. Simak titik lokasi dan jadwalnya.
Lionel Messi cetak hattrick saat Argentina kalahkan Aljazair 3-0 di Piala Dunia 2026. Simak jalannya laga dan kontroversinya.
Harga pangan nasional terbaru 17 Juni 2026. Cabai rawit Rp73.000/kg, telur Rp29.550/kg, cek daftar lengkapnya.