Galur Kulon Progo Hampir 5 Bulan Tanpa Hujan, Kapan Turun Hujan?
Galur, Kulon Progo, mencatat 148 hari tanpa hujan hingga 20 Oktober 2026. BMKG menjelaskan penyebab hujan belum merata dan prakiraan musim hujan.
Ilustrasi panen jagung - Harian Jogja/ Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, KULONPROGO — Upaya petani di dataran tinggi Dusun Banyunganti, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kulonprogo, dalam mengubah lahan bekas hutan menjadi area pertanian produktif membuahkan hasil menggembirakan. Meski menghadapi berbagai tantangan, panen jagung perdana di wilayah tersebut mampu melampaui rata-rata produksi daerah.
Ketua Kelompok Tani Mudotomo yang juga Dukuh Banyunganti, Sutarman, mengungkapkan bahwa lahan seluas sekitar 7.000 meter persegi itu sebelumnya merupakan hutan belantara yang terbengkalai selama puluhan tahun. Untuk mengoptimalkan lahan, para petani menerapkan sistem tumpang sari.
“Karena kondisi tanahnya bekas hutan, kami menanam jagung dengan selingan singkong dan ubi jalar agar lebih produktif,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Namun, dalam proses pengelolaannya, para petani tidak lepas dari kendala. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sarana pengairan saat musim kemarau. Selain itu, kebutuhan alat pertanian seperti kultivator juga menjadi perhatian untuk mempercepat pengolahan lahan.
Gangguan hama, khususnya monyet ekor panjang, turut menjadi ancaman serius bagi tanaman yang dibudidayakan. Serangan hama ini kerap merusak tanaman dan mengurangi hasil panen.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo, Trenggono Trimulyo, menyatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti keluhan petani. Koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) akan dilakukan untuk mengatasi persoalan hama.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong kelompok tani untuk mengajukan proposal bantuan sarana dan prasarana pertanian agar dapat difasilitasi melalui berbagai sumber pendanaan, baik APBD, DAK, maupun APBN.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, hasil panen jagung perdana justru menunjukkan capaian yang menggembirakan. Berdasarkan hasil ubinan, produksi jagung di Banyunganti mencapai 8,33 ton per hektare.
Angka tersebut melampaui rata-rata produksi jagung di tingkat kabupaten yang berada di kisaran 6,5 ton per hektare, bahkan lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi DIY yang mencapai 5,7 ton per hektare.
Menurut Trenggono, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa potensi pertanian di wilayah dataran tinggi masih sangat besar untuk dikembangkan. Ia menilai semangat petani dalam mengelola lahan menjadi faktor utama keberhasilan tersebut.
“Ini menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan pangan di Kulonprogo, sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan halangan untuk menghasilkan panen berkualitas,” katanya.
Keberhasilan petani Banyunganti diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengoptimalkan lahan yang belum produktif, sekaligus memperkuat upaya swasembada pangan di daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Galur, Kulon Progo, mencatat 148 hari tanpa hujan hingga 20 Oktober 2026. BMKG menjelaskan penyebab hujan belum merata dan prakiraan musim hujan.
Pemerintah menyiapkan 1 juta ton beras SPHP seharga Rp12.500 per kg untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang akhir 2026.
Sebanyak 46 dari 176 sekolah penerima bantuan revitalisasi di Gunungkidul belum mencairkan dana. Pemkab sudah melaporkan persoalan ini ke kementerian.
Kapolri memutasi 264 personel Polri melalui Telegram 2 November 2026. Sejumlah jabatan strategis di Mabes Polri ikut berganti.
Pemkab Kulonprogo menemukan sejumlah pelanggaran SOP di 10 dapur MBG, mulai dari pisau berkarat hingga lalat hinggap pada makanan.
Komisi III DPR mengapresiasi pencopotan Kapolres Sukoharjo dan tiga anggota polisi terkait polemik penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran.