Pasar Brosot Ambruk Sejak Juli, DPRD Minta Ada Solusi Sementara
Los Pasar Brosot Kulonprogo ambruk sejak 23 Juli 2026 dan belum ditangani. DPRD mendesak solusi sementara bagi pedagang terdampak.
Nelayan sedang bekerja sama mendorong kapal ke pantai, di Pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO—Gelombang tinggi dan angin kencang membuat nelayan di Kabupaten Kulonprogo harus menghentikan aktivitas melaut selama tiga bulan pada musim kemarau. Mereka baru kembali melaut sejak awal Agustus 2026, tetapi frekuensi keberangkatan dan hasil tangkapan masih jauh dari kondisi maksimal.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kulonprogo, Suratiman, mengatakan persoalan utama yang dihadapi nelayan selama kemarau bukan ketersediaan ikan. Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama karena kondisi gelombang dan angin membuat nelayan dengan kapal kecil kesulitan beraktivitas di laut.
"Mei, Juni, dan Juli kemarin kami libur total tidak melaut. Gelombang besar dan angin kencang sangat membahayakan keselamatan karena armada nelayan di sini dominan kapal kecil," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (9/9/2026).
Kondisi tersebut membuat nelayan Kulonprogo kehilangan waktu melaut selama Mei, Juni, dan Juli. Padahal, musim kemarau selama ini diperkirakan dapat memberikan peluang lebih banyak bagi hasil tangkapan ikan.
Para nelayan kemudian mulai kembali memberanikan diri turun ke laut pada awal Agustus. Namun, aktivitas tersebut belum bisa dilakukan secara penuh karena kondisi perairan masih menjadi kendala.
Nelayan Baru Melaut Terbatas
Suratiman mengatakan frekuensi melaut sejak Agustus masih sangat terbatas. Dalam sebulan, nelayan paling banyak hanya mampu melakukan sekitar 10 kali perjalanan melaut.
"Sejak Agustus melaut lagi, tapi sebulan paling maksimal hanya 10 kali trip. Masuk September ini baru sekitar 4 kali trip," lanjutnya.
Keterbatasan tersebut juga berpengaruh terhadap jumlah ikan yang bisa dibawa pulang. Nelayan harus menyesuaikan volume jaring dengan kondisi perahu serta situasi gelombang di perairan selatan Kulonprogo.
Pada awal Agustus, nelayan sempat mendapatkan hasil tangkapan lebih dari 1 kuintal dalam satu kapal. Jenis ikan yang banyak ditangkap saat itu adalah kakap Cina atau gulama.
Namun, hasil tangkapan kemudian berubah. Saat ini, nelayan lebih banyak mendapatkan ikan berukuran lebih kecil, antara lain layur, surung atau kuru, kembung, dan tongkol.
Rata-rata hasil tangkapan yang diperoleh nelayan saat ini sekitar setengah kuintal per kapal. Jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan tangkapan yang sempat diperoleh pada awal Agustus.
Untuk hasil tangkapan berikutnya, nelayan baru memprediksi adanya potensi panen ikan bawal pada Oktober mendatang. Potensi tersebut masih bergantung pada kondisi cuaca dan perairan.
Kapal Kecil Jadi Kendala
Kondisi perairan bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi nelayan Kulonprogo. Keterbatasan armada juga menjadi faktor yang membuat mereka tidak bisa leluasa menghadapi gelombang tinggi.
Menurut Suratiman, sebagian besar nelayan di Kulonprogo masih menggunakan perahu dengan mesin berkapasitas 15 PK. Kapasitas mesin tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi hempasan gelombang di pesisir selatan.
"Idealnya di-upgrade ke mesin 30 PK supaya lebih kuat menerjang gelombang. Di daerah lain sudah banyak yang pakai 30 PK," tegasnya.
Dengan mesin yang lebih besar, nelayan berharap kemampuan perahu menghadapi kondisi perairan dapat meningkat. Namun, kebutuhan peningkatan kapasitas mesin tersebut masih menjadi bagian dari persoalan fasilitas armada nelayan di Kulonprogo.
Suratiman menjelaskan karakteristik perairan Kulonprogo juga berbeda dengan kawasan pantai selatan Gunungkidul, termasuk di Pelabuhan Sadeng. Menurut dia, kawasan Sadeng memiliki struktur teluk alami yang dapat melindungi perahu nelayan dari gempuran ombak secara langsung.
Kondisi tersebut membuat aktivitas penangkapan ikan di kawasan tersebut tetap dapat berlangsung selama kemarau. Sementara itu, perairan Kulonprogo yang terbuka membuat nelayan berhadapan langsung dengan gelombang besar ketika hendak melaut.
Karakteristik perairan itu menjadi salah satu alasan aktivitas nelayan di Kulonprogo belum kembali maksimal meskipun mereka sudah mulai melaut sejak awal Agustus.
DPRD Minta Teknologi Perikanan Diperkuat
Kondisi yang dialami nelayan tersebut mendapat perhatian dari DPRD Kulonprogo. Anggota Komisi II DPRD Kulonprogo, Agung Raharjo, mengatakan persoalan fasilitas perahu perlu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.
Menurut dia, dukungan terhadap fasilitas armada diperlukan agar nelayan dapat tetap melakukan aktivitas penangkapan ikan secara maksimal ketika kondisi memungkinkan.
Selain persoalan fasilitas perahu, Agung menilai Pemerintah Kabupaten Kulonprogo perlu lebih serius meningkatkan produksi perikanan tangkap.
"Pemkab Kulonprogo juga perlu lebih fokus meningkatkan teknologi perikanan tangkap, bekerja sama dengan daerah yang sudah maju. Termasuk mengatasi tantangan alam di pantai Kulonprogo," jelasnya.
Peningkatan teknologi perikanan tangkap, menurut Agung, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi kondisi alam di pesisir Kulonprogo.
Bagi nelayan, kondisi gelombang tinggi membuat aktivitas penangkapan ikan tidak bisa dilakukan dengan frekuensi seperti kondisi normal. Setelah tiga bulan berhenti melaut, mereka kini kembali beraktivitas, tetapi jumlah perjalanan masih terbatas dan hasil tangkapan belum maksimal.
Pada September 2026, Suratiman mencatat nelayan baru sekitar empat kali melakukan perjalanan melaut. Mereka masih menunggu kondisi perairan yang lebih bersahabat untuk meningkatkan frekuensi melaut sekaligus mengejar hasil tangkapan.
Sementara itu, potensi ikan bawal yang diperkirakan muncul pada Oktober menjadi salah satu harapan nelayan. Namun, realisasinya tetap berkaitan dengan kondisi cuaca dan kemampuan armada yang digunakan untuk menghadapi perairan pesisir selatan Kulonprogo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Los Pasar Brosot Kulonprogo ambruk sejak 23 Juli 2026 dan belum ditangani. DPRD mendesak solusi sementara bagi pedagang terdampak.
Jadwal lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Catat laga melawan Singapura, Malaysia, dan Bangladesh serta jadwal final.
Daftar harga ban mobil September 2026 dari BF Goodrich, Bridgestone, Dunlop hingga Pirelli, mulai Rp489 ribuan per unit.
Gelombang tinggi membuat nelayan Kulonprogo berhenti melaut tiga bulan. Kini mereka kembali melaut, tetapi aktivitas masih terbatas.
Han So Hee ingin menikah sebelum usia 40 tahun dan memiliki anak. Ia bahkan siap vakum dari dunia hiburan demi mendampingi anak.
Ganfan Yingying, kreator konten makanan dengan 1,2 juta pengikut, meninggal di usia 24 tahun akibat kebiasaan memuntahkan makanan. Simak pesan terakhirnya!