Kemarau Kulonprogo Bikin Ikan Gabus Langka, Pengepul Kelimpungan

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Senin, 31 Agustus 2026 17:47 WIB
Kemarau Kulonprogo Bikin Ikan Gabus Langka, Pengepul Kelimpungan

Ilustrasi ikan gabus/RRI.co.id

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kemarau panjang di Kabupaten Kulonprogo mulai memukul mata pencaharian pencari dan pengepul ikan air tawar, khususnya ikan gabus. Pasokan ikan gabus hasil tangkapan alam merosot tajam setelah sungai-sungai kecil dan jalur irigasi mengering akibat musim kemarau berkepanjangan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian dan rumah tangga yang mengalami kesulitan akses air bersih. Pengepul juga harus mencari cara agar tetap mampu memenuhi permintaan konsumen ketika hasil tangkapan lokal semakin terbatas.

Muhammad Albani, pengepul ikan gabus asal Kalurahan Bumirejo, Lendah, mengatakan penurunan pasokan berlangsung drastis dalam beberapa bulan terakhir sejak hujan tidak turun.

"Kalau kondisi normal, seminggu dari para pencari lokal bisa pasok sekitar 20 sampai 25 kilogram ikan gabus. Sekarang dapat 5 kilogram dalam seminggu saja sudah bagus," ujar Albani saat dikonfirmasi, Senin (31/8/2026).

Sungai Mengering, Habitat Ikan Gabus Terganggu

Albani menjelaskan ikan gabus yang ia kelola seluruhnya berasal dari tangkapan liar di alam, bukan hasil budidaya. Kondisi tersebut membuat ketersediaan ikan sangat bergantung pada keadaan perairan tempat ikan hidup.

Minimnya tangkapan terjadi setelah sungai-sungai kecil dan alur irigasi di kawasan persawahan mengering. Padahal, kawasan tersebut menjadi habitat alami ikan gabus yang memiliki nama latin Channa striata.

Menurut Albani, ikan gabus liar biasanya muncul dan bergerak menuju perairan dangkal untuk bertelur ketika debit air meningkat pada musim penghujan. Ketika perairan menyusut akibat kemarau panjang, pasokan dari pencari lokal ikut berkurang.

Pengepul Cari Pasokan hingga Purworejo dan Kebumen

Kelangkaan ikan gabus dari Kulonprogo membuat Albani harus mendatangkan ikan dari luar daerah. Ia mencari pasokan dari Purworejo dan Kebumen yang masih memiliki kawasan rawa-rawa basah.

Namun, pilihan tersebut membuat biaya operasional dan harga kulakan meningkat. Biaya pengiriman dan akomodasi membuat harga ikan dari luar daerah lebih mahal, sementara harga jual kepada konsumen tidak bisa dinaikkan begitu saja.

"Harga beli dari luar daerah jelas lebih mahal karena ada biaya pengiriman dan akomodasi. Tapi harga jual ke konsumen tidak bisa kami naikkan sembarangan, jadi margin untung yang makin menipis," jelas pria berusia 37 tahun itu.

Di pasar tradisional wilayah Lendah dan sekitarnya, harga ikan gabus saat ini berada di kisaran Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Sementara Albani menjual ikan gabus langsung kepada konsumen seharga Rp60.000 per kilogram karena stok yang tersedia terbatas.

Ketika stok melimpah, ikan gabus yang dikumpulkan Albani juga dipasok ke pasar-pasar di wilayah Lendah. Namun, kondisi berbeda terjadi saat pasokan dari alam menurun seperti sekarang.

Pasokan ke Pasar dan Rumah Makan Dihentikan Sementara

Terbatasnya stok membuat Albani untuk sementara menghentikan pasokan berkala kepada pedagang pasar tradisional maupun rumah makan. Strategi penjualan kemudian dialihkan melalui media sosial dan pesanan daring yang menyasar konsumen perorangan.

Permintaan dari konsumen perorangan tetap tinggi dan konsisten, terutama untuk kebutuhan medis seperti pasien pasca-operasi, pasien pasca-melahirkan, hingga penderita diabetes. Daging ikan gabus liar dikenal memiliki kandungan protein albumin yang tinggi dan dipercaya mempercepat proses penyembuhan luka.

"Kalau barangnya sedikit seperti sekarang, fokusnya dilempar ke konsumen yang memesan langsung untuk pengobatan atau pemulihan setelah operasi. Kalau pasokan lagi melimpah baru kita bagi lagi ke bakul-bakul pasar," tambah Albani yang sudah melakoni usaha ini sejak 2018.

Ikan Gabus Akan Mengikuti Siklus Air

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo, Suryadi, mengatakan penurunan hasil tangkapan ikan merupakan dampak alami yang tidak dapat dihindarkan ketika kemarau melanda.

Menurut Suryadi, mengeringnya alur-alur sungai kecil membuat populasi ikan lokal di titik-titik tangkapan tradisional untuk sementara habis. Kondisi tersebut baru akan kembali pulih secara alamiah ketika curah hujan meningkat dan mengisi kembali alur perairan.

"Begitu musim hujan tiba dan sungai terisi air penuh, ikan-ikan tersebut akan kembali ke tempat itu untuk mencari mangsa dan tempat hidup. Ini siklus alami tabiat ikan," tuturnya.

Suryadi menjelaskan ikan yang hidup di perairan umum, terutama jenis predator seperti gabus, memiliki kecenderungan bermigrasi ketika kondisi habitatnya berubah. Ikan akan mencari lingkungan perairan yang lebih stabil saat debit air di sungai kecil atau anak sungai mulai menyusut.

"Ikan-ikan perairan umum, terutama jenis predator seperti gabus, memiliki kecenderungan alami untuk migrasi mencari lingkungan perairan yang stabil. Begitu debit air di anak sungai atau sungai kecil surut sekian derajat, mereka akan bergerak pergi ke perairan yang lebih dalam seperti sungai besar," imbuh Suryadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online