Penghasilan Rp50.000 Sehari, Warga Kulonprogo Masuk Desil 9

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Minggu, 23 Agustus 2026 16:17 WIB
Penghasilan Rp50.000 Sehari, Warga Kulonprogo Masuk Desil 9

Pembagian bansos di Kantor Pos Indonesia. - ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, KULONPROGO— Penghasilan rata-rata Rp50.000 sehari dari berjualan jajanan pasar tidak membuat Sri Mulyani, 44, merasa hidupnya berkecukupan. Namun, warga Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulonprogo itu kini justru tercatat dalam kategori Desil 9, setelah sebelumnya berada di Desil 1 atau 2.

Perubahan klasifikasi tersebut membuat Sri Mulyani cemas karena kondisi ekonomi keluarganya dinilai tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Ia khawatir perubahan status itu berdampak pada akses bantuan pendidikan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) yang selama ini menopang kuliah anak pertamanya.

"Saya kan janda, suami saya meninggal tahun 2021. Saya menghidupi dua anak. Kemarin pas cek link di grup-grup, loh kok desil 9? Nanti takutnya kalau desil 9, KIP-Kuliah terancam dicabut. Kalau dicabut, nanti anak-anak saya putus sekolah," ujar perempuan 44 tahun ini saat dikonfirmasi, Minggu (23/8/2026).

Jadi Tulang Punggung Dua Anak

Sri Mulyani merupakan orang tua tunggal yang harus membiayai kebutuhan dua anak sejak suaminya meninggal dunia pada masa pandemi COVID-19 tahun 2021 lalu. Sejak saat itu, ia menjadi tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pendidikan kedua anaknya.

Anak pertama Sri Mulyani saat ini menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), jurusan Pendidikan Sejarah. Mahasiswa tersebut baru memasuki semester 3 dan dapat melanjutkan pendidikan berkat bantuan KIP-K.

Bantuan tersebut tidak hanya membebaskan biaya kuliah, tetapi juga memberikan uang saku untuk anaknya. Karena itu, perubahan status menjadi Desil 9 menjadi persoalan serius bagi Sri Mulyani.

"Anak pertama baru semester 3 pakai KIP-K. Kalau enggak dapat itu ya enggak tahu gimana. Kalau desil 9 terus dicabut, otomatis anak saya putus sekolah," ungkapnya.

Sementara itu, anak kedua Sri Mulyani baru saja lulus SMP dan melanjutkan pendidikan ke SMK Swasta. Sebelumnya, anak tersebut sempat menerima bantuan KIP saat kelas 9 dan kini tengah mengajukan kembali bantuan serupa untuk membantu biaya sekolah di jenjang kejuruan.

Penghasilan Bergantung Dagangan Laku

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai keperluan sekolah kedua anaknya, Sri Mulyani menjalankan usaha kecil-kecilan dengan membuat jajanan pasar secara mandiri. Hasil olahannya kemudian dititipkan dari satu warung ke warung lainnya.

Penghasilan dari usaha tersebut tidak tetap karena bergantung pada banyak atau tidaknya dagangan yang terjual. Dalam sehari, ia rata-rata hanya memperoleh Rp50.000.

"Ya paling rata-rata sehari Rp50.000, itu pun kalau pas laris dagangannya," tuturnya.

Di luar KIP dan BPJS Kesehatan gratis, Sri Mulyani mengaku hampir tidak pernah menerima bantuan sosial (bansos) tunai maupun bantuan pangan rutin dari pemerintah. Ia mencatat hanya pernah satu kali menerima bantuan beras dan minyak goreng.

Khawatir KIP-K dan BPJS PBI Dicabut

Perubahan status desil tersebut juga membuat Sri Mulyani khawatir fasilitas lain yang selama ini diandalkan ikut terdampak. Jika status Desil 9 tetap tercatat, ia mengkhawatirkan KIP-K dan jaminan kesehatan BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) dihentikan oleh pemerintah.

Sri Mulyani sebenarnya telah disarankan mengurus sekaligus memvalidasi ketidaksesuaian data desil tersebut ke Kantor Kalurahan Ngentakrejo. Namun, hingga kini ia belum sempat datang langsung.

Kebutuhan untuk terus mencari uang saku harian bagi kedua anaknya membuat waktunya tersita. Ia berharap pihak terkait dapat memperhatikan persoalan tersebut dan memperbaiki data agar klasifikasi ekonomi keluarganya sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

"Yang penting bisa menurunkan desil itu. Takutnya kalau BPJS sama KIP-K dicabut, anak saya enggak bisa lanjut kuliah lagi. Semoga ini bisa jadi perhatian," jelasnya berharap.

Warga Lain Juga Mengalami Perubahan Desil

Persoalan serupa ternyata tidak hanya dialami Sri Mulyani. Lurah Ngentakrejo, Sumardi, mengatakan ada warga lain bernama Timbul yang mengalami perubahan klasifikasi desil menjadi Desil 9.

Timbul sehari-hari bekerja sebagai tukang becak motor di Malioboro dengan pendapatan yang sangat tidak menentu. Kondisi tersebut membuat Timbul juga khawatir perubahan status Desil 9 dapat memengaruhi akses bantuan KIP Kuliah untuk anaknya.

Sumardi mengatakan anak Timbul baru masuk UNY sebagai mahasiswa baru. Keluarga tersebut berharap dapat mengakses KIP Kuliah agar beban biaya pendidikan dapat lebih ringan.

"Warga saya itu Timbul sudah sakit-sakitan juga, sekarang anaknya tetap dimasukin ke kuliah sambil berharap dapat akses untuk KIP kuliah sehingga bisa meringankan biaya pendidikannya," jelasnya.

Perubahan klasifikasi desil yang dialami Sri Mulyani dan Timbul kini menjadi perhatian karena keduanya mengkhawatirkan dampaknya terhadap akses bantuan pendidikan. Bagi Sri Mulyani, keberlanjutan KIP-K sangat berkaitan dengan kemampuan anak pertamanya untuk melanjutkan kuliah di UNY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online