Padukuhan Kroco Bidik ProKlim Lestari Pertama di Kulonprogo

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Selasa, 18 Agustus 2026 19:47 WIB
Padukuhan Kroco Bidik ProKlim Lestari Pertama di Kulonprogo

Proses verifikasi lapangan oleh Tim Kementerian Lingkungan Hidup di Padukuhan Kroco, Selasa (18/8/2026) sebagai tindak lanjut untuk akreditasi kampung Proklim Lestari./Harian Jogja-Khairul Ma\'arif -

Harianjogja.com, KULONPROGO—Padukuhan Kroco, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulonprogo tengah membidik predikat Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari. Verifikasi lapangan oleh Tim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada Selasa (18/8/2026) menjadi tahapan krusial untuk mewujudkan target tersebut sekaligus membuka peluang Kroco menjadi kampung ProKlim Lestari pertama di Kulonprogo.

Hingga saat ini, belum ada kampung di Kulonprogo yang ditetapkan sebagai ProKlim Lestari. Capaian tertinggi yang telah diraih kampung-kampung di wilayah tersebut baru sampai tingkat Utama.

"Sampai sekarang belum ada kampung Proklim Lestari di Kulonprogo kami menargetkan agar Kroco bisa menyandangnya. Kami dari dinas selalu memberikan pendampingan agar target Proklim Lestari tercapai," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulonprogo, Duana Heru Supriyanta kepada wartawan, Selasa (18/8/2026).

Dari ProKlim Utama Menuju Tingkat Lestari

Padukuhan Kroco sebelumnya telah mengantongi predikat ProKlim Utama pada 2023. Setelah capaian tersebut, Kroco kini memasuki proses verifikasi untuk meningkatkan status menjadi ProKlim Lestari.

Tim Verifikator Kementerian Lingkungan Hidup, Koko Wijanarko, mengatakan predikat tertinggi ProKlim tidak semata-mata berkaitan dengan penghargaan. Menurutnya, keberlanjutan program dan dampak pembinaan terhadap kampung lain menjadi bagian penting yang dinilai.

"Penghargaan itu adalah akibat, bukan tujuan utama. Filosofi ProKlim Lestari adalah bagaimana lokasi yang sudah maju seperti Kroco tidak tumbuh sendiri, tetapi mampu membina dan menularkan ketangguhan iklim ke kampung-kampung sekitarnya. Yang kita nilai adalah dampak nyatanya bagi masyarakat saat menghadapi perubahan iklim," tegas Koko dalam kesempatan tinjauan ke Padukuhan Kroco, Selasa (18/8/2026).

Dalam proses verifikasi menuju status Lestari, Padukuhan Kroco menasbihkan diri sebagai ProKlim Bantala Abyudaya.

Berawal dari Ancaman Kekeringan dan Longsor

Ketua ProKlim Bantala Abyudaya, Sugiyanto, menjelaskan berbagai inovasi yang dikembangkan di Kroco berangkat dari persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat. Dua tantangan yang menjadi perhatian antara lain risiko kekeringan dan tanah longsor.

Sejumlah inovasi fisik kemudian dikembangkan, mulai dari pembuatan 300 lubang penampungan air dan sumur resapan hingga peningkatan penggunaan pupuk organik mencapai 9 ribu kilogram.

"Gerakan di Kroco berangkat dari tantangan riil yang dihadapi masyarakat, seperti risiko kekeringan dan longsor. Berbagai inovasi fisik seperti pembuatan 300 lubang penampungan air, sumur resapan, peningkatan penggunaan pupuk organik hingga 9 ribu kilogram, serta pengelolaan sampah dari sumbernya berhasil meningkatkan kualitas hidup warga. Kroco bahkan bertransformasi menjadi laboratorium edukasi yang telah menerima lebih dari 2.200 pengunjung belajar dari berbagai daerah," tambah Sugiyanto.

Pengelolaan lingkungan tersebut kemudian berkembang menjadi sarana pembelajaran. Kroco disebut telah bertransformasi menjadi laboratorium edukasi yang menerima lebih dari 2.200 pengunjung dari berbagai daerah.

Bina 10 Lokasi di Lima Kapanewon

Untuk meningkatkan status dari ProKlim Utama menjadi ProKlim Lestari, salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah memiliki dan membina minimal 10 lokasi binaan baru.

Sugiyanto mengatakan ProKlim Bantala Abyudaya telah merangkul dan membina 10 kelompok masyarakat yang tersebar di lima Kapanewon. Lokasi tersebut berada di Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Sentolo, dan Wates.

Pembinaan dilakukan secara intensif sebanyak 7 hingga 8 kali pertemuan sepanjang 2024 hingga 2026.

"Kenaikan status menuju Lestari bukan sekadar lomba, melainkan proses akreditasi dan verifikasi peningkatan kualitas lingkungan secara nyata. Replikasi ini kami wadahi juga melalui Forum Proklim Kulonprogo agar semangat kemandirian ini meluas," ucapnya.

Lengkap dengan Sarana Edukasi Lingkungan

Pengembangan ProKlim di Kroco juga didukung fasilitas sekretariat yang berdiri di atas lahan warga. Fasilitas tersebut dilengkapi aula pertemuan, area Bank Sampah dengan teknologi tepat guna, lumbung organik, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), hingga kolam percontohan bioflok filtrasi.

Berbagai fasilitas tersebut turut dimanfaatkan untuk mengembangkan wisata edukasi lingkungan. Proklim Bantal Hijau menjual paket wisata edukasi lingkungan dengan harga Rp35.000 hingga Rp150.000 per orang.

Pada 2023, tercatat tak kurang dari 400 pengunjung dari berbagai daerah datang untuk belajar. Aktivitas tersebut menyumbang pendapatan kas kelompok hingga mencapai Rp21 juta.

Tahapan verifikasi lapangan pada Selasa (18/8/2026) menjadi bagian penting dari upaya Padukuhan Kroco mengejar predikat ProKlim Lestari. Jika target tersebut tercapai, Kroco akan menjadi kampung ProKlim Lestari pertama di Kulonprogo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online