Pasar Brosot Ambruk Sejak Juli, DPRD Minta Ada Solusi Sementara

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Rabu, 02 September 2026 15:27 WIB
Pasar Brosot Ambruk Sejak Juli, DPRD Minta Ada Solusi Sementara

Kondisi los Pasar Brosot yang ambruk sejak akhir Juli sampai sekarang belum mendapatkan penanganan apapun dan reruntuhan materialnya dibiarkan teronggok di lokasi kejadian/Harian Jogja-Khairul Ma\'arif

Harianjogja.com, KULONPROGO— Los Pasar Brosot, Galur, Kulonprogo yang ambruk sejak 23 Juli 2026 hingga kini belum mendapat penanganan. Reruntuhan material masih teronggok di lokasi dan belum dilakukan penataan ulang.

Di sekitar lokasi hanya terpasang garis polisi. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari DPRD Kulonprogo yang mendesak Dinas Perdagangan (Disdag) segera melakukan penanganan jangka pendek agar kerusakan tidak dibiarkan berlarut-larut.

DPRD Minta Los Segera Dibangun Kembali

Ketua DPRD Kulonprogo Aris Syarifudin mengatakan kerusakan los Pasar Brosot harus ditangani secara serius karena menyangkut keselamatan sekaligus keberlangsungan mata pencaharian pedagang.

Menurutnya, penanganan yang berlarut-larut berpotensi semakin merugikan pedagang yang menggantungkan perekonomiannya dari aktivitas perdagangan di Pasar Brosot.

“Kami sangat prihati atas ambruknya los Pasar Brosot, DPRD mendesak segera dibangun kembali. Kejadian ini harus segera ditangani secara serius, terutama karena menyangkut keselamatan dan keberlangsungan mata pencaharian para pedagang. Kami menegaskan bahwa pedagang tidak boleh menjadi pihak yang paling dirugikan akibat kejadian ini,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (2/9/2026).

Aris menilai penanganan tidak cukup hanya menyasar kerusakan fisik. Aspek psikis pedagang yang terdampak juga perlu diperhatikan oleh pemerintah.

Pemkab Kulonprogo, lanjutnya, harus segera memastikan adanya perlindungan bagi seluruh pedagang yang terdampak akibat ambruknya fasilitas pasar.

“Bagi pedagang kecil, kehilangan kios berarti kehilangan tempat mencari nafkah. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya memperbaiki bangunan yang ambruk. Pemerintah harus hadir memberikan kepastian kepada para pedagang, bagaimana keberlangsungan usaha mereka tetap terjamin,” ungkapnya.

DPRD Dorong Tempat Berjualan Sementara

Aris menilai Disdag Kulonprogo seharusnya dapat melakukan penanganan sementara sehingga kondisi Pasar Brosot tidak berlangsung terlalu lama.

Menurut dia, fasilitas yang ambruk dan tidak dapat digunakan semestinya bisa digantikan sementara dengan sejumlah opsi yang memungkinkan. Penanganan tersebut tidak harus menunggu ketersediaan anggaran dalam APBD Perubahan 2026.

Apabila hanya menunggu anggaran tersebut, Aris khawatir kondisi pasar dan pedagang terdampak akan semakin berlarut-larut.

“Baik dengan menyediakan tempat berjualan sementara yang layak, aman, dan strategis maupun memberikan solusi agar aktivitas perdagangan dan penghasilan mereka tidak terhenti terlalu lama,” ucap Aris.

Kondisi Bangunan Pasar Juga Diminta Diperiksa

Ambruknya fasilitas Pasar Brosot dinilai harus menjadi peringatan bagi Disdag Kulonprogo. DPRD meminta pemeriksaan teknis secara menyeluruh terhadap kondisi kios dan bangunan lain di pasar tersebut.

Pemeriksaan diperlukan agar pedagang maupun pengunjung tidak tetap beraktivitas di bangunan yang sebenarnya sudah tidak layak atau berpotensi membahayakan.

“Kami berharap penanganan dilakukan secara cepat dan tidak berbelit-belit. Keselamatan pedagang harus dilindungi, tempat usaha mereka harus segera dipulihkan, dan jangan sampai mereka menanggung sendiri kerugian akibat kerusakan fasilitas pasar,” tuturnya.

DPRD Kulonprogo juga akan meminta penjelasan dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mengenai penyebab ambruknya los tersebut.

Selain penyebab kerusakan, DPRD akan meminta penjelasan mengenai langkah perlindungan bagi pedagang terdampak serta kepastian penanganan dan perbaikan Pasar Brosot.

“Prinsip kami jelas pedagang harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan penanganan Pasar Brosot,” imbuh Aris.

Penanganan Menunggu APBD Perubahan 2026

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Perdagangan Disdag Kulonprogo Endang Zulywanti mengatakan penanganan fasilitas Pasar Brosot akan dilakukan ketika anggaran dari APBD Perubahan 2026 tersedia.

Dengan demikian, saat ini penanganan terhadap fasilitas pasar tersebut masih menunggu ketersediaan anggaran.

Bangunan los Pasar Brosot yang roboh merupakan satu unit yang berada di tengah-tengah pasar. Los tersebut memiliki ukuran 4 kali 20 meter.

Bangunan itu roboh pada 23 Juli 2026 dan hingga Rabu (2/9/2026) belum mendapatkan penanganan apa pun. Kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka karena tidak ada aktivitas saat bangunan los roboh.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online