Rute Jeep Gumuk Pasir Diubah, Pemkab Bantul Cari Jalan Tengah
Pemkab Bantul akan menata ulang rute jeep wisata di Gumuk Pasir Parangtritis untuk menjaga ekosistem tanpa mengganggu aktivitas ekonomi warga.
Foto ilustrasi hotel. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL— Sektor perhotelan di Kabupaten Bantul mulai mengalihkan strategi pemasaran dengan membidik pasar komunitas untuk menjaga tingkat okupansi selama libur sekolah 2026. Langkah tersebut ditempuh karena lonjakan tamu yang biasanya terjadi pada musim liburan belum dirasakan secara signifikan akibat daya beli masyarakat yang masih terbatas.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bantul, Yohanes Hendra, mengatakan pelaku usaha hotel kini tidak lagi bergantung pada tamu dari segmen pemerintahan maupun korporasi. Berbagai komunitas, baik skala kecil maupun besar, mulai menjadi target utama untuk menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Menurut Hendra, sejumlah hotel di Bantul telah mulai menjadi tuan rumah berbagai kegiatan komunitas. Strategi tersebut dinilai mampu menciptakan efek berganda karena tidak hanya meningkatkan okupansi hotel, tetapi juga memberi manfaat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi kegiatan.
"Selama ini kita banyak mengandalkan segmen government dan corporate. Sekarang mulai bergeser ke komunitas-komunitas, baik komunitas kecil maupun besar. Harapannya putaran ekonomi di sektor hospitality tetap berjalan sehingga kondisi perekonomian di Kabupaten Bantul bisa lebih stabil," ujar Hendra, Senin (29/6/2026).
Ia mencontohkan salah satu kegiatan komunitas yang berlangsung selama dua hari di kawasan Dlingo. Selain menginap di hotel, sekitar 80 peserta dari berbagai daerah juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah destinasi wisata sehingga turut menggerakkan sektor kuliner, objek wisata, hingga UMKM setempat.
"Kegiatan seperti ini tentu memberi dampak bagi UMKM di sekitar lokasi. Peserta tidak hanya menginap, tetapi juga berwisata sehingga ada uang yang berputar di wilayah tersebut," katanya.
Meski demikian, Hendra mengakui libur sekolah tahun ini belum mampu mendongkrak tingkat hunian hotel secara signifikan. Menurutnya, banyak keluarga masih disibukkan dengan proses penerimaan peserta didik baru sehingga belum menjadikan liburan sebagai prioritas.
"Memang sekarang masa libur sekolah, tetapi kondisinya belum terasa karena masih bersamaan dengan proses pendaftaran sekolah. Banyak orang tua masih fokus mengurus anak masuk sekolah, terutama jenjang SMA, sehingga belum banyak yang berlibur," ungkapnya.
PHRI Bantul menargetkan tingkat okupansi hotel selama musim libur sekolah dapat mencapai sekitar 70 persen. Target tersebut dinilai masih realistis apabila agenda komunitas dan kunjungan wisata terus meningkat hingga akhir masa liburan.
Jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, Hendra menilai kondisi industri perhotelan pada 2026 memang menunjukkan perbaikan. Namun, pemulihan tersebut belum mampu menyamai capaian sektor pariwisata pada 2024 yang menjadi periode terbaik setelah pandemi Covid-19.
"Tahun ini memang lebih baik dibandingkan tahun lalu karena sebagian anggaran kegiatan sudah mulai bergerak lagi. Tetapi belum bisa maksimal seperti 2023 atau terutama 2024. Tahun 2024 justru menjadi puncak, bahkan lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi," ujarnya.
Ia menjelaskan perlambatan industri perhotelan mulai dirasakan sejak pertengahan 2025 setelah diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 mengenai efisiensi belanja pemerintah. Kebijakan tersebut berdampak pada berkurangnya perjalanan dinas dan berbagai kegiatan pemerintahan yang selama ini menjadi salah satu pasar utama hotel.
Di sisi lain, pelaku usaha juga harus menghadapi kenaikan biaya operasional akibat meningkatnya upah minimum sektoral, sehingga beban usaha bertambah di tengah pasar yang belum pulih sepenuhnya.
"Efisiensi membuat anggaran kegiatan berkurang, sementara di sisi lain biaya SDM justru meningkat karena UMK sektoral naik lebih tinggi dibandingkan UMK umum. Jadi beban operasional bertambah, tetapi pasar belum pulih sepenuhnya," kata Hendra.
Menurutnya, tantangan terbesar yang kini dihadapi sektor perhotelan adalah masih rendahnya daya beli masyarakat. Mobilitas memang mulai meningkat, tetapi kemampuan masyarakat untuk mengalokasikan anggaran berwisata dan menginap di hotel belum kembali seperti beberapa tahun sebelumnya.
"Orang memang sudah mulai bergerak, tetapi anggaran untuk berlibur belum sebesar beberapa tahun lalu. Itu yang membuat daya beli masih rendah dan sangat dirasakan pelaku usaha hotel," ujarnya.
Sementara itu, Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata Bantul, Markus Purnomo Adi, memperkirakan jumlah wisatawan selama libur sekolah tahun ini turun sekitar 23–25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut diperkirakan dipengaruhi tren kunjungan saat libur Lebaran serta munculnya sejumlah destinasi wisata baru di Gunungkidul yang menarik minat wisatawan.
"Mungkin di libur sekolah ini kisarannya di situ, mengacu pada tren libur Lebaran kemarin. Kemungkinan juga karena Gunungkidul muncul destinasi baru yang itu memang secara visual menarik orang untuk datang," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul akan menata ulang rute jeep wisata di Gumuk Pasir Parangtritis untuk menjaga ekosistem tanpa mengganggu aktivitas ekonomi warga.
BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca pada awal Oktober untuk menjaga pasokan air waduk dan mengantisipasi kekeringan di Pulau Jawa.
Taman Pintar Jogja memprioritaskan layanan shuttle dari kantong parkir selama libur sekolah untuk memudahkan akses pengunjung.
Bantuan RTLH Kulonprogo senilai Rp20 juta ditolak sejumlah warga karena tidak mampu menambah biaya renovasi rumah.
Temu Bisnis Pariwisata Sleman 2026 mempertemukan 28 seller dan 95 buyer nasional untuk memperluas pasar wisata dan MICE Kabupaten Sleman.
Pemkot Magelang memulai revitalisasi Makam Kyai Langgeng untuk melestarikan sejarah sekaligus mengembangkan wisata religi di Kota Magelang.