Kemenhan-Kemenkes Selidiki Kematian 5 Peserta Latsarmil
Lima peserta Latsarmil SPPI meninggal dunia, Kemenhan dan Kemenkes bentuk tim investigasi untuk ungkap penyebabnya.
Mahasiswa Psikologi UMBY menggabungkan Student Mobility di Malaysia dengan pengabdian kepada anak pekerja migran Indonesia di Sanggar At Tanzil. /istimewa.
Harianjogja.com, SLEMAN— Program Student Mobility Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) di Malaysia pada 7–11 Juni 2026 tidak hanya menghadirkan pengalaman akademik internasional. Para mahasiswa juga terjun langsung mendampingi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sanggar Bimbingan At Tanzil, Kuala Lumpur, melalui berbagai kegiatan edukasi dan penguatan karakter.
Selama lima hari pelaksanaan program, delegasi mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra sekaligus menjalankan pengabdian masyarakat. Pendekatan tersebut dirancang untuk menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kuliah dengan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Koordinator Program Student Mobility Fakultas Psikologi UMBY, Nanda Yunika Wulandari menjelaskan mahasiswa mengikuti berbagai agenda akademik, mulai dari kunjungan ke Fakulti Pembangunan Manusia Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), kegiatan bersama anak-anak di National Child Development Research Centre (NCDRC), hingga sesi akademik di INTI International University.
"Delegasi mengikuti kegiatan akademik mulai dari lawatan ke Fakulti Pembangunan Manusia Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), berkegiatan bersama anak-anak di National Child Development Research Centre (NCDRC), hingga sesi akademik di INTI International University. Namun, kegiatan di Sanggar Bimbingan At Tanzil pada hari keempat menjadi salah satu momen yang paling membekas," ungkap Nanda.
Menurutnya, pengalaman di Sanggar Bimbingan At Tanzil memberikan perspektif berbeda bagi mahasiswa karena mereka berhadapan langsung dengan realitas pendidikan anak-anak PMI di Malaysia.
Sanggar tersebut berada di lantai dua sebuah rumah toko di kawasan yang relatif jauh dari pusat keramaian Kuala Lumpur. Meski sederhana, tempat itu menjadi ruang belajar sekaligus tempat penitipan bagi sekitar 40 anak pekerja migran Indonesia yang belum dapat mengakses pendidikan formal secara optimal.
Setiap hari sanggar beroperasi dari pagi hingga sore. Sebagian besar orang tua anak-anak tersebut bekerja sebagai buruh manufaktur, pencuci piring di rumah makan, hingga pekerja perkebunan kelapa sawit, sehingga keberadaan sanggar menjadi penopang utama aktivitas belajar mereka.
Nanda menuturkan kondisi tersebut juga dipengaruhi regulasi keimigrasian di Malaysia yang membatasi akses pendidikan formal bagi sebagian anak PMI.
"Anak-anak di sanggar tersebut memiliki keterbatasan masa belajar yang hanya dapat diakses hingga usia 16 tahun, atau setara jenjang SMP. Setelah melewati batas usia itu, mereka harus kembali ke Indonesia karena tidak ada fasilitas kelanjutan pendidikan formal di Malaysia bagi anak-anak dalam situasi keimigrasian tersebut," paparnya.
Sebagai bagian dari implementasi pembelajaran, mahasiswa Psikologi UMBY menggelar psikoedukasi yang merupakan konversi mata kuliah Praktikum Intervensi Dasar II: Kelompok dan Komunitas. Program tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa menerapkan ilmu psikologi secara langsung dalam lingkungan masyarakat internasional.
"Seluruh mahasiswa peserta kegiatan Student Mobility, tidak hanya melakukan kunjungan ke beberapa kampus rekanan, namun juga melakukan implementasi kegiatan perkuliahan dalam bentuk psikoedukasi yang nantinya kegiatan tersebut menjadi penugasan yang akan dikonversi ke mata kuliah terkait," jelas Nanda.
Kegiatan bersama anak-anak dikemas secara interaktif melalui sesi perkenalan, mendongeng, permainan kelompok, hingga diskusi sederhana yang disesuaikan dengan usia peserta.
Penanggung jawab kegiatan lapangan, Jhon Carlos Ramot Banjarnahor, mengatakan pendekatan tersebut bertujuan menanamkan nilai kemanusiaan, motivasi, dan rasa cinta tanah air.
"Setelah membacakan cerita, kami mengajak siswa-siswa untuk bermain tebak jawaban seputar nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam cerita, memberikan kegiatan motivasi, permainan hingga penanaman nasionalisme yang diberikan dengan cara yang sesuai dengan usia anak-anak tersebut, yaitu bermain," terangnya.
Persoalan pendidikan anak-anak PMI juga menjadi pembahasan saat delegasi UMBY melakukan audiensi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa berdialog dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Ir. R. Ahmad Romadhani Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
Ahmad Romadhani menjelaskan sanggar-sanggar bimbingan seperti At Tanzil tumbuh dari inisiatif masyarakat yang peduli terhadap pendidikan anak pekerja migran. Menurutnya, pemerintah Malaysia memberikan ruang bagi operasional sanggar tersebut selama aktivitasnya tetap berjalan tertib dan tidak menimbulkan gangguan di lingkungan sekitar.
Pengalaman selama mengikuti Student Mobility di Malaysia memberikan wawasan baru kepada mahasiswa mengenai keterkaitan antara pendidikan, hukum keimigrasian, diplomasi, dan hak asasi manusia.
Salah seorang peserta, Wahyuni Widyaningsih, mengaku memperoleh pengalaman yang memperkuat kepedulian sosialnya.
"Dari kunjungan ke KBRI sampai mengajar anak-anak di At Tanzil, saya belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar mengejar nilai akademik di kelas. Lebih dari itu, ada tuntutan kepekaan sosial dan rasa tanggung jawab kita sebagai representasi bangsa untuk peduli pada sesama," ungkap Widya.
Program Student Mobility Psikologi UMBY tersebut diharapkan terus menjadi ruang pembelajaran lintas negara yang tidak hanya memperkuat kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial melalui keterlibatan langsung dalam berbagai persoalan pendidikan masyarakat Indonesia di luar negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lima peserta Latsarmil SPPI meninggal dunia, Kemenhan dan Kemenkes bentuk tim investigasi untuk ungkap penyebabnya.
Jembatan Berjo di Sidoluhur rampung berkat kolaborasi BKK Rp224 juta dan swadaya warga Rp155 juta, memperkuat akses dan konektivitas.
Simak rekomendasi 9 destinasi liburan musim panas terbaik 2026, mulai Sumba, Sapporo, hingga Mykonos dengan beragam daya tarik wisata.
Hari Bhayangkara ke-80 di Bantul, Presiden Prabowo meminta Polri memperkuat profesionalisme dan kesiapan menghadapi kejahatan siber.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Kamis 2 Juli 2026 tersedia sejak pagi hingga malam. Simak jadwal lengkap keberangkatan terbaru.
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga lebat disertai petir dan angin kencang di sejumlah kota besar pada Kamis, 2 Juli 2026.