60 Pelajar Ikuti Inkubasi Saka Wirausaha DIY, Seleksi Berlanjut

Newswire
Newswire Rabu, 22 Juli 2026 23:17 WIB
60 Pelajar Ikuti Inkubasi Saka Wirausaha DIY, Seleksi Berlanjut

Diskop UKM DIY membuka Inkubasi Saka Wirausaha Tahun Ketiga yang diikuti 60 peserta untuk membentuk mental dan bisnis wirausaha berkelanjutan. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) DIY resmi memulai Program Inkubasi Saka Wirausaha Tahun Ketiga sebagai upaya menyiapkan generasi muda yang memiliki mental kewirausahaan sekaligus mampu membangun usaha yang berkelanjutan. Program yang digelar bersama Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT KUMKM) itu menjadi tahapan awal sebelum peserta memasuki inkubasi startup dengan tingkat pembinaan yang lebih tinggi.

Pengembang Wirausaha Muda Diskop UKM DIY, Ratna Listiyani, mengatakan inkubasi ini tidak hanya berfokus pada pengembangan bisnis, tetapi juga menguji kesiapan mental dan komitmen peserta dalam menjalankan usaha.

Tahap Awal Sebelum Inkubasi Startup

Ratna menjelaskan peserta yang mengikuti program akan dinilai dari kesiapan pola pikir kewirausahaan hingga kemampuan menjaga keberlangsungan usahanya. Penilaian tersebut menjadi bekal sebelum mereka memasuki program inkubasi startup yang memiliki tantangan lebih kompleks.

“Sebelum masuk ke inkubasi startup yang tugas-tugasnya jauh lebih sulit dan prosesnya lebih panjang, kita lihat dan coba dulu komitmen peserta di sini. Apakah mindset kewirausahaannya sudah benar-benar tertanam dan usahanya sudah sustain atau belum,” ujar Ratna saat pembukaan Rabu (22/7/2026).

Menurut dia, proses seleksi dan komparasi akan tetap dilakukan secara terbuka. Meski demikian, Diskop UKM DIY memastikan para peserta tetap memperoleh bentuk apresiasi selama mengikuti rangkaian kegiatan.

“Untuk adanya reward, kami janjikan itu akan tetap ada, tetapi kompetisi tetap harus berjalan,” tegasnya.

Ratna berharap seluruh peserta mengikuti setiap materi dan pendampingan dari mentor secara disiplin. Pengetahuan maupun pengalaman selama inkubasi diharapkan dapat diterapkan dalam pengembangan usaha setelah program selesai.

Ia juga mengingatkan peserta yang belum memperoleh dukungan usaha agar tidak berkecil hati karena kesempatan belajar dan berkompetisi masih terbuka luas.

“Kompetisi yang paling real dan paling utama adalah ketika adik-adik ini diterjunkan langsung ke masyarakat. Yang terpenting pertama adalah ada disiplin,” tuturnya.

Pola Inkubasi Berubah Menjadi Dua Tahunan

Mabi Saka Wirausaha DIY, Bio Hadikesuma, menjelaskan penyelenggaraan tahun ini menggabungkan dua konsep utama, yakni orientasi pengenalan Saka Kewirausahaan dan inkubasi usaha.

Menurut Bio, perubahan konsep tersebut merupakan hasil evaluasi bersama seluruh pengurus Pin Saka tingkat kabupaten/kota se-DIY. Melalui evaluasi itu disepakati bahwa pola inkubasi tidak lagi digelar setiap tahun, melainkan setiap dua tahun.

"Inkubasi tahun ini akan menjadi yang terakhir untuk pola tahunan. Berdasarkan evaluasi bersama teman-teman Pin Saka kabupaten/kota, ke depan inkubasi dibuat per dua tahun. Tahun depan kita akan fokus bagaimana mengaktifkan lagi Saka Kewirausahaan di daerah-daerah," ujar Bio di sela-sela kegiatan.

Ubah Citra Pramuka Lewat Keterampilan Wirausaha

Bio mengakui rekrutmen anggota di sejumlah kabupaten dan kota masih menghadapi tantangan karena persepsi masyarakat terhadap gerakan Pramuka. Kondisi tersebut mendorong penyelenggara menghadirkan konsep pembelajaran yang lebih adaptif, interaktif, dan berorientasi pada hasil nyata di Bumi Perkemahan Turi.

"Kami ingin menggeser image tersebut. Di Saka Kewirausahaan, kita mengajarkan skill yang bisa diuji, ada hasilnya, dan bisa mendatangkan pendapatan bagi peserta," tegasnya.

Program tahun ini diikuti 60 peserta yang berasal dari siswa SMA/SMK hingga mahasiswa. Komposisinya dibuat seimbang, yakni 50% anggota Saka Wirausaha dan 50% Tamu Saka atau calon anggota.

Belajar di Alam Terbuka Bersama Mentor

Selama kegiatan perkemahan, proses pembelajaran dilakukan di luar ruangan melalui sistem pos pengembaraan, bukan metode pembelajaran di dalam kelas (in-class). Setiap peserta memperoleh buku saku keterampilan khusus dan harus menyelesaikan berbagai tantangan sekaligus berkonsultasi langsung dengan mentor.

Selain itu, penyelenggara juga menghadirkan sesi free flow menggunakan media mystery card yang dirancang untuk mendorong diskusi terbuka mengenai berbagai tantangan dalam membangun usaha.

Usai mengikuti perkemahan, seluruh peserta akan memasuki masa pendampingan mandiri selama dua bulan. Setelah itu, mereka kembali mengikuti seleksi tahap kedua hingga tersisa 30 peserta terbaik yang berhak melanjutkan pembinaan berikutnya.

"Harapan kami, baik peserta yang berstatus Tamu Saka maupun anggota resmi, pulang dari sini sudah membawa list keterampilan konkret. Bagi yang lanjut ke tahap berikutnya, mereka akan mendapatkan skema pembinaan berbasis kontingen daerah," pungkas Bio.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online