Mi Lethek Srandakan Tembus 50 Toko, Omzet Capai Rp20 Juta

Yosef Leon
Yosef Leon Rabu, 01 Juli 2026 08:57 WIB
Mi Lethek Srandakan Tembus 50 Toko, Omzet Capai Rp20 Juta

Foto ilustrasi Mi Lethek. / Harian Jogja-Jumali.

Harianjogja.com, BANTUL—Mi lethek Srandakan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai makanan sederhana masyarakat kini mulai tampil dengan wajah baru. Lewat sentuhan inovasi warga Desa Preneur Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, mi berbahan dasar singkong tersebut dikemas lebih modern sehingga mampu bersaing sebagai produk oleh-oleh khas Yogyakarta.

Perubahan tidak hanya terlihat pada kemasan yang lebih menarik, tetapi juga pada strategi pemasaran, variasi produk, hingga perluasan jaringan distribusi. Berkat pendampingan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Mi Lethek Yu Murti kini telah menembus puluhan toko oleh-oleh dan mencatat pertumbuhan penjualan yang terus meningkat.

Pagi baru saja dimulai ketika aktivitas di ruang pengemasan Mi Lethek Yu Murti sudah berlangsung sibuk. Para pekerja membagi tugas secara mandiri, mulai dari meracik bumbu, menyiapkan kemasan, hingga menyusun produk menjadi paket oleh-oleh siap jual.

Usaha yang berdiri sejak 2024 tersebut melibatkan enam warga sekitar sebagai tenaga kerja. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi mi lethek tanpa menghilangkan cita rasa maupun karakter asli kuliner khas Srandakan tersebut.

Pengelola Mi Lethek Yu Murti, Sulastri, mengatakan usaha ini berkembang melalui pendampingan Dinas Koperasi dan UKM DIY yang mencakup pengembangan produk, strategi pemasaran, hingga desain kemasan.

"Kami didampingi sejak awal sampai sekarang sehingga akhirnya bisa seperti ini," ujar Sulastri, Jumat (26/6/2026).

Bahan baku mi lethek diperoleh dari para perajin di Padukuhan Bendo, Kalurahan Trimurti. Sementara proses yang dilakukan di lokasi usaha difokuskan pada peracikan bumbu serta pengemasan sehingga menghasilkan lima varian rasa, baik mi goreng maupun mi rebus.

Harga jual dipatok Rp17.000 untuk varian mi goreng dan Rp15.000 untuk mi rebus. Setiap kemasan telah dilengkapi bumbu sehingga praktis dijadikan oleh-oleh maupun stok makanan di rumah.

Menurut Sulastri, permintaan tidak hanya datang dari konsumen lokal. Banyak pembeli membawa Mi Lethek Yu Murti sebagai buah tangan untuk keluarga di luar Pulau Jawa, menandakan produk khas Bantul mulai dikenal di berbagai daerah.

Dari Ditolak Toko hingga Masuk Puluhan Gerai

Perjalanan membangun pasar ternyata tidak selalu mulus. Pada awal usaha, Sulastri mengaku berkali-kali mengalami penolakan saat menawarkan mi lethek instan ke berbagai toko oleh-oleh.

"Awalnya banyak yang bertanya, 'Ini apa?' karena mereka belum mengenal produknya," katanya.

Meski demikian, penolakan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia terus menawarkan produknya dari satu toko ke toko lain, sekaligus memanfaatkan media sosial, termasuk siaran langsung melalui TikTok, untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Saat ini Mi Lethek Yu Murti telah dipasarkan di sekitar 50 toko oleh-oleh di Yogyakarta, selain terus dipasarkan melalui kanal penjualan daring.

Dalam kondisi normal, kapasitas produksi berkisar 100 hingga 200 bungkus per hari. Ketika memasuki musim liburan atau permintaan meningkat, produksi mampu ditingkatkan hingga sekitar 300 bungkus setiap hari.

Pertumbuhan penjualan turut mendongkrak omzet usaha. Saat ini pendapatan kotor berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan, sedangkan pada masa libur panjang maupun Lebaran dapat meningkat hingga sekitar Rp20 juta.

Di tengah dominasi mi instan berbahan tepung terigu, Sulastri melihat mi lethek memiliki nilai tambah karena dibuat dari tepung singkong yang secara alami bebas gluten. Keunggulan tersebut kini sedang diupayakan memperoleh pengakuan resmi melalui sertifikasi.

"Kami sedang berkonsultasi dengan BPOM agar bisa memperoleh sertifikat gluten free," ujarnya.

Inovasi Jaga Eksistensi Mi Lethek Srandakan

Panewu Srandakan, Karjiyem, menilai inovasi yang dilakukan Desa Preneur Trimurti menjadi langkah penting dalam menjaga eksistensi mi lethek sebagai identitas kuliner daerah. Menurutnya, produk tersebut kini hadir dengan kemasan lebih praktis, tanpa bahan pengawet, memiliki beragam pilihan rasa, dan mudah dibawa sebagai oleh-oleh.

"Harapan kami, Mi Lethek ini bisa mendunia," katanya.

Karjiyem menjelaskan Kapanewon Srandakan selama ini dikenal sebagai sentra produksi mi lethek di DIY. Sejumlah produsen masih bertahan hingga kini dengan berbagai merek, termasuk Mie Garuda dan Mie Resik yang dikembangkan dengan tampilan lebih cerah tanpa meninggalkan konsep dasar mi lethek.

Selain mi lethek, Desa Preneur Trimurti juga mengembangkan produk olahan lain, seperti minuman berbahan limbah air kelapa hasil produksi wingko. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing UMKM lokal sekaligus memanfaatkan potensi yang ada di wilayah.

Menurut Karjiyem, berkembangnya industri rumahan di Trimurti tidak lepas dari keterbatasan lahan pertanian sehingga masyarakat didorong mengembangkan usaha pengolahan pangan sebagai sumber ekonomi baru. Saat ini unit produksi Desa Preneur yang mengembangkan mi lethek dan minuman olahan melibatkan enam tenaga kerja, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pengembangan kuliner tradisional yang semakin diminati pasar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online