Hipertensi Gunungkidul Tertinggi di DIY Capai 39,25 Persen

Yosef Leon
Yosef Leon Senin, 10 Agustus 2026 19:17 WIB
Hipertensi Gunungkidul Tertinggi di DIY Capai 39,25 Persen

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti saat meninjau sejumlah fasilitas Poskesdes Sendowo Kidul di Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar, Senin (10/8/2026). Dokumentasi Istimewa

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Prevalensi hipertensi di Gunungkidul mencapai 39,25% dan menjadi yang tertinggi di DIY. Di sisi lain, persoalan stunting juga masih menjadi perhatian, terutama di Kapanewon Nglipar yang mencatat angka stunting sebesar 20%.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul terus memperluas akses pelayanan kesehatan hingga tingkat kalurahan. Upaya itu ditandai dengan peresmian Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Sendowo Kidul di Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar, Senin (10/8/2026).

Peresmian fasilitas tersebut diharapkan dapat mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat. Poskesdes juga diproyeksikan menjadi salah satu pintu untuk pemeriksaan, konsultasi, serta deteksi dini berbagai persoalan kesehatan yang terjadi di tengah masyarakat.

Stunting Harus Ditangani Sejak Kehamilan

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menekankan pentingnya penanganan stunting sejak masa kehamilan. Menurutnya, persoalan stunting tidak semata-mata berkaitan dengan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat berkaitan dengan kecerdasan.

"Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga soal kecerdasan. Penanganan harus dimulai sejak kehamilan dengan pemenuhan protein, vitamin, dan mineral yang cukup," kata Endah.

Ia menjelaskan intervensi terhadap stunting tidak seharusnya baru dilakukan ketika anak telah mengalami gangguan pertumbuhan. Pemenuhan kebutuhan gizi ibu selama kehamilan menjadi bagian penting untuk mencegah persoalan pertumbuhan sejak awal.

Angka stunting di Kapanewon Nglipar yang masih berada di level 20% menunjukkan persoalan tersebut masih membutuhkan perhatian. Karena itu, penguatan akses layanan kesehatan di tingkat kalurahan diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan sekaligus penanganan masalah kesehatan masyarakat.

PHBS Baru Diterapkan 33% Masyarakat

Selain stunting dan hipertensi, Endah juga menyoroti penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Gunungkidul. Berdasarkan kondisi yang disampaikannya, penerapan PHBS baru dilakukan sekitar 33% masyarakat.

Endah meminta masyarakat tidak mengabaikan faktor lingkungan dalam menjaga kesehatan keluarga. Sanitasi, kebersihan kamar mandi, serta pengelolaan sampah rumah tangga menjadi sejumlah hal yang perlu mendapat perhatian.

"Sanitasi harus diperhatikan, termasuk kebersihan kamar mandi dan pengelolaan sampah rumah tangga," katanya.

Menurut Endah, kebiasaan hidup bersih dan sehat merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu, peningkatan kesadaran di tingkat rumah tangga menjadi penting selain penguatan pelayanan kesehatan melalui fasilitas yang lebih dekat dengan warga.

Hipertensi Gunungkidul Capai 39,25%

Persoalan kesehatan lain yang menjadi perhatian Pemkab Gunungkidul adalah hipertensi. Prevalensi hipertensi yang mencapai 39,25% menempatkan Gunungkidul sebagai daerah dengan prevalensi hipertensi tertinggi di DIY.

Tingginya angka tersebut membuat Endah mendorong masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap pola hidup sehat. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga dinilai penting agar kondisi kesehatan dapat diketahui dan ditangani lebih dini.

Penguatan Poskesdes di tingkat kalurahan menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat. Dengan akses yang lebih mudah, warga diharapkan dapat melakukan pemeriksaan maupun berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan tanpa harus selalu mengakses fasilitas kesehatan yang lebih jauh.

Poskesdes Sendowo Kidul Layani Warga Sekitar

Lurah Kedungkeris, Rusdi Martono, mengatakan keberadaan Poskesdes Sendowo Kidul diharapkan tidak hanya melayani masyarakat di wilayah Sendowo Kidul, tetapi juga warga di wilayah sekitarnya.

Fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih dekat, termasuk konsultasi dengan dokter dan kebutuhan administrasi kesehatan tertentu.

"Harapannya nanti bisa untuk konsultasi dokter hingga pengurusan surat keterangan medis sehingga masyarakat tidak harus selalu ke puskesmas," ujar Rusdi.

Gedung Poskesdes Sendowo Kidul memiliki riwayat pembangunan yang bermula dari hibah program Habitat. Hibah tersebut berasal dari program Habitat dengan donatur Herbal Family Foundation pada 2024.

Gedung yang sebelumnya merupakan hibah tersebut kemudian direalisasikan menjadi Poskesdes melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan Gunungkidul. Keberadaannya kini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan di tingkat kalurahan.

Dengan kondisi hipertensi Gunungkidul yang mencapai 39,25%, angka stunting di Kapanewon Nglipar sebesar 20%, serta penerapan PHBS yang baru sekitar 33% masyarakat, penguatan layanan kesehatan dasar menjadi bagian penting dalam menjawab persoalan kesehatan di wilayah tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online