Pemkot Jogja Kaji Penutupan Sirip Malioboro, Hasto Siapkan Solusi

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Jum'at, 07 Agustus 2026 14:57 WIB
Pemkot Jogja Kaji Penutupan Sirip Malioboro, Hasto Siapkan Solusi

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo. Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja belum akan menutup seluruh akses atau sirip Malioboro secara bersamaan. Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menegaskan kebijakan penataan kawasan tersebut akan dilakukan bertahap setelah setiap titik dikaji secara menyeluruh, terutama terkait dampaknya terhadap mobilitas warga, pelaku usaha, dan aktivitas di sekitar Malioboro.

Menurut Hasto, pemasangan portal yang telah dilakukan merupakan bagian dari persiapan rekayasa lalu lintas di kawasan Malioboro. Namun sebelum kebijakan diberlakukan, pemerintah masih menyempurnakan pemetaan kondisi di masing-masing sirip agar solusi yang diterapkan tidak menimbulkan persoalan baru.

Hasto mengungkapkan Pemkot Jogja telah menyelesaikan pemetaan terhadap 10 sirip Malioboro. Dalam pemetaan tersebut, pemerintah mendata berbagai aspek, mulai dari jumlah pedagang, pedagang asongan, gerobak, lokasi parkir, toko hingga hotel yang berada di setiap titik.

"Hari ini semua sudah selesai saya petakan. Dari pemetaan itu nanti akan kita pertajam lagi satu per satu, problemnya seperti apa kalau sirip itu ditutup," ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Hasil pemetaan itu akan menjadi dasar untuk menentukan sirip mana yang lebih dahulu dapat diuji coba penataannya.

Penutupan Tidak Dilakukan Serentak

Hasto menjelaskan, arahan dari Pemerintah Daerah DIY melalui pemasangan portal adalah mengatur akses menuju kawasan Malioboro pada pukul 09.00-22.00 WIB. Meski demikian, Pemkot Jogja memilih menerapkan kebijakan secara bertahap.

"Saya tidak akan langsung melakukan penutupan semuanya. Saya pelajari satu per satu. Yang sudah ada solusinya, mungkin akan diuji coba terlebih dahulu," katanya.

Pendekatan bertahap tersebut dipilih agar setiap kebijakan benar-benar mempertimbangkan kondisi riil di lapangan sebelum diterapkan secara lebih luas.

Akses Warga Jadi Persoalan 

Menurut Hasto, tantangan terbesar dalam penataan sirip Malioboro adalah memastikan warga yang tinggal di kawasan tersebut tetap memiliki akses kendaraan yang memadai.

Ia mencontohkan kawasan Sosrokusuman yang hanya memiliki akses kendaraan menuju Malioboro. Sementara akses menuju Jalan Mataram dari sisi timur hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.

"Kalau sirip seperti Sosrokusuman ditutup, warga yang memiliki mobil akan kesulitan karena tidak punya akses keluar selain ke Malioboro. Itu yang harus kita pikirkan, sehingga kemungkinan tetap ada pengecualian yang realistis," ujarnya.

Karena itu, Pemkot Jogja akan mempertimbangkan pengecualian pada titik-titik tertentu apabila memang belum tersedia akses alternatif bagi masyarakat.

Parkir Masih Diinventarisasi

Selain persoalan akses, pemerintah juga tengah mengidentifikasi ketersediaan lahan parkir di seluruh sirip Malioboro.

Apabila ditemukan kawasan yang belum memiliki fasilitas parkir memadai, pemerintah akan mencari solusi terlebih dahulu sebelum kebijakan penataan diterapkan.

"Kita identifikasi satu per satu, apakah tempat parkirnya ada atau tidak. Kalau belum ada, ya harus kita cari dulu alternatifnya," katanya.

Hasto Usulkan Konektivitas Jalan Pajeksan-Suryatmajan

Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Hasto mengusulkan adanya konektivitas langsung antara Jalan Pajeksan dan Jalan Suryatmajan.

Menurutnya, konsep tersebut bukan berupa pembangunan jembatan ataupun terowongan, melainkan penyeberangan sebidang yang dilengkapi pengaturan lampu lalu lintas sehingga kendaraan dari sisi barat Malioboro dapat menuju kawasan timur dan sebaliknya.

"Proposal saya cukup dibuat penyeberangan dengan pengaturan lampu lalu lintas. Jadi masyarakat dari sisi barat bisa langsung mengakses ke timur, begitu juga sebaliknya. Ini masih berupa usulan dan mudah-mudahan bisa mendapat persetujuan," ujarnya.

Car Free Day Malioboro Tetap Berlangsung

Di tengah rencana penataan akses kawasan, Hasto memastikan pelaksanaan Car Free Day (CFD) Malioboro tetap berjalan seperti biasa.

Kegiatan tersebut digelar setiap Sabtu dan Minggu pukul 05.00-09.00 WIB. Menurut Hasto, CFD memberikan kesempatan bagi masyarakat maupun wisatawan untuk menikmati suasana Malioboro dengan lebih nyaman pada pagi hari tanpa gangguan lalu lintas kendaraan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online