LPG 3 Kg Terancam Jebol, Hiswana Migas DIY Dorong Subsidi Tepat Sasaran

Anisatul Umah
Anisatul Umah Kamis, 27 Agustus 2026 16:57 WIB
LPG 3 Kg Terancam Jebol, Hiswana Migas DIY Dorong Subsidi Tepat Sasaran

LPG 3 Kg di pangkalan. - Ilustrasi/Antara

Harianjogja.com, JOGJA— Kuota LPG 3 kilogram (kg) subsidi pada 2026 diproyeksikan tidak mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan konsumsi gas melon mencapai 8,67 juta ton, sementara kuota yang ditetapkan hanya 8 juta ton.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DIY. Organisasi tersebut menilai persoalan kuota LPG 3 kg tidak cukup diatasi dengan menambah alokasi, tetapi juga membutuhkan perbaikan ketepatan sasaran penerima subsidi.

Ketua DPD Hiswana Migas DIY, Aryanto Sukoco, mengatakan kenaikan konsumsi LPG 3 kg perlu menjadi perhatian bersama. Pertumbuhan kebutuhan rumah tangga dan usaha mikro, meningkatnya aktivitas ekonomi, hingga penggunaan LPG subsidi oleh konsumen atau usaha yang sebenarnya tidak berhak disebut menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

"Solusinya menurut kami bukan hanya menambah kuota, tetapi yang lebih penting adalah memastikan subsidi LPG 3 kg semakin tepat sasaran. Masyarakat mampu dan usaha non-mikro perlu didorong menggunakan LPG nonsubsidi," ujarnya, Kamis (27/8/2026).

Menurut Aryanto, menjaga pasokan LPG 3 kg harus berjalan beriringan dengan memastikan subsidi diterima pihak yang memang berhak. Dengan begitu, konsumsi oleh masyarakat atau usaha yang tidak masuk sasaran subsidi tidak semakin menekan kuota yang tersedia.

Kebutuhan LPG 3 Kg di DIY Lebih dari 160.000 Tabung per Hari

Aryanto menjelaskan kebutuhan LPG 3 kg di DIY mencapai lebih dari 160.000 tabung setiap hari. Namun, angka kebutuhan tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti aktivitas serta kondisi masyarakat.

Adapun angka realisasi penyaluran harian terkini mengacu pada data Pertamina. Menurut Aryanto, yang paling penting adalah kelancaran distribusi mulai dari agen hingga pangkalan sehingga masyarakat yang berhak tetap dapat memperoleh LPG sesuai ketentuan.

Potensi jebolnya kuota nasional juga perlu diantisipasi agar tidak mengganggu pasokan LPG 3 kg di DIY. Pemerintah dan Pertamina dinilai akan terus mengevaluasi kebutuhan hingga akhir tahun dan melakukan penyesuaian apabila diperlukan.

Bagi Hiswana Migas DIY, terdapat dua hal yang perlu dijaga, yakni kecukupan pasokan dan ketepatan sasaran subsidi. LPG 3 kg yang diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan jangan sampai banyak dikonsumsi pihak yang sebenarnya tidak berhak.

"Hiswana Migas DIY siap terus berkoordinasi dengan Pemda dan Pertamina agar distribusi LPG 3 kg di DIY tetap aman, lancar dan tepat sasaran," ujarnya.

Belum Ada Kelangkaan 

Meski kebutuhan LPG 3 kg cukup besar, Aryanto mengatakan sampai saat ini belum terlihat kelangkaan gas melon secara umum di DIY.

"Sejauh pemantauan kami, sampai saat ini belum terlihat adanya kelangkaan LPG 3 kg secara umum di DIY. Yang terkadang terjadi adalah peningkatan kebutuhan pada waktu atau wilayah tertentu sehingga stok di beberapa pangkalan lebih cepat habis," paparnya.

Peningkatan kebutuhan tersebut, salah satunya, dapat terjadi ketika libur panjang atau hari besar. Dalam kondisi seperti itu, Hiswana Migas memantau kebutuhan di lapangan.

Apabila diperlukan, tambahan alokasi/fakultatif dapat diusulkan kepada Pemda. Selanjutnya Pemda mengajukan permintaan tersebut kepada Pertamina.

"Selanjutnya Pemda mengajukan kepada Pertamina dan selama ini apabila memang dibutuhkan, dapat diberikan tambahan pasokan," lanjutnya.

Dengan mekanisme tersebut, Hiswana Migas DIY menyatakan siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Pertamina untuk memastikan pasokan LPG 3 kg di DIY tetap aman dan penyalurannya tepat sasaran.

Realisasi Penyaluran Sudah 63,06%

Melansir dari JIBI/Bisnis.com, Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menuturkan kuota gas melon subsidi pada 2026 dipatok 8 juta ton.

Hingga Juli 2026, realisasi penyaluran LPG 3 kg telah mencapai 5,04 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan 63,06% dari kuota 8 juta ton yang ditetapkan untuk tahun ini.

Di sisi lain, Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi LPG 3 kg hingga akhir 2026 dapat mencapai 8,67 juta ton. Jika proyeksi tersebut terealisasi, konsumsinya mencapai 108,46% dari kuota tahun ini.

"Memang kalau kita perhatikan bahwa di tahun 2025 kemarin juga sudah ada penyesuaian untuk prognosa dan untuk tahun 2026 ini memang prognosanya itu sebesar 8,6 juta ton LPG," tutur Laode.

Kondisi tersebut membuat upaya memastikan LPG subsidi digunakan masyarakat yang berhak menjadi salah satu perhatian dalam menjaga keberlanjutan pasokan gas melon, termasuk di DIY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online