Hadeging Pakualaman Diperingati 2 Kali di 2026, Ini Rangkaian Acaranya

Anisatul Umah
Anisatul Umah Sabtu, 22 Agustus 2026 16:27 WIB
Hadeging Pakualaman Diperingati 2 Kali di 2026, Ini Rangkaian Acaranya

(paling kiri) Pelindung Acara Hadeging Kadipaten Pakualaman Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo dalam konferensi pers di Ruang Danawara, Pura Pakualaman, Jumat (21/8/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA—Kadipaten Pakualaman menggelar peringatan Hadeging atau hari berdirinya Kadipaten Pakualaman sebanyak dua kali sepanjang 2026. Dua peringatan tersebut berlangsung karena perbedaan siklus kalender Masehi dan kalender Jawa.

Peringatan Hadeging pertama telah dilaksanakan pada awal 2026 berdasarkan kalender Masehi. Sementara Hadeging kedua menggunakan penanggalan Jawa dan rangkaian kegiatannya dijadwalkan berlangsung pada 20 September hingga 23 November 2026.

Pelindung Acara Hadeging Kadipaten Pakualaman Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo mengatakan peringatan berdasarkan kalender Jawa tahun ini menandai 221 tahun berdirinya Kadipaten Pakualaman.

"221 tahun berdirinya Kadipaten Pakualaman berdasarkan dengan tarikh tahun Jawa. Kalau dihitung pada waktu itu adalah tanggal 11 Jumadilakhir tahunnya Alip 1739," ujarnya dalam konferensi pers di Ruang Danawara, Pura Pakualaman, Jumat (21/8/2026).

Untuk memeriahkan Hadeging Kadipaten Pakualaman 2026, panitia menyiapkan rangkaian kegiatan yang mencakup seni, budaya, literasi, hingga tradisi.

Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo mengatakan sejumlah agenda yang disiapkan antara lain lomba mewarnai motif batik Pakualaman dan lomba literasi aksara Jawa tingkat nasional.

"Jadi karena tulisan Jawa itu juga sudah menyebar, maka penulis-penulisnya juga ada di daerah-daerah lain, maka diselenggarakan lomba literasi aksara Jawa," paparnya.

Selain dua kegiatan tersebut, rangkaian Hadeging Kadipaten Pakualaman juga mencakup Festival Langen Siwi, Lomba Tari Klasik Gagrag Pakualaman Tingkat Nasional, serta Sayembara Jemparingan Mataraman Pelajar Tingkat Nasional.

Ada pula Festival Karawitan Remaja Tingkat Nasional, Sayembara Macapat PA CUP XIV (14) Tingkat Nasional, dan Lomba Cipta Lelagon Bocah Tingkat DIY.

Agenda lainnya yakni Grand Prix Lukis Pelajar PA CUP IX (9) Tingkat Nasional, Upacara Adat Bucalan, Upacara Adat Wilujengan, Tasyakuran Pengajian, Sema'an Al Quran, Pagelaran Sendratari Ramayana, dan Upacara Adat Ziarah.

"Untuk mengingatkan generasi-generasi muda itu bisa berkreasi melanjutkan apa dulu yang pernah dicapai oleh generasi sebelumnya," jelasnya.

Merawat Warisan Budaya

Menurut Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo, pelaksanaan Hadeging bukan sekadar memperingati perjalanan Kadipaten Pakualaman. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat mengenai tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang telah ditinggalkan para pendahulu.

Dia menilai warisan budaya perlu terus dipelihara agar tetap lestari dan tidak hilang atau diambil pihak lain. Salah satu contoh yang disampaikan adalah keberadaan gamelan di luar negeri.

Gusti Pangeran Haryo Indrokusumo mencontohkan Amerika dengan 52 negara bagian memiliki 700 set gamelan.

"Kalau tidak dipelihara, tidak dikembangkan di sini, terus siapa? Dengan adanya gamelan yang di luar negeri, siapa tahu nanti kita mau belajar gamelan harus ke sana. Karena mereka intensif mempelajarinya," jelasnya.

Keberagaman

Sementara itu, Mas Bekel Setyoreksoko bidang lomba Kadipaten Pakualaman mengatakan Hadeging tahun ini mengusung tema Budyawicitra Nayenggita yang berarti "Penghargaan terhadap keberagaman merupakan cermin keluhuran budi".

"Jadi itu Budi itu budi, kemudian Wicitra itu aneka warna nan indah, kemudian Naya itu kebijaksanaan, Ing gita tingkah laku," tuturnya.

Menurutnya, kegiatan perlombaan tahun ini secara umum tidak jauh berbeda dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya. Total terdapat sembilan lomba yang dilaksanakan dalam rangkaian Hadeging Kadipaten Pakualaman 2026.

Namun, terdapat satu agenda yang memiliki pola pelaksanaan berbeda, yakni Cipta Lelagon Bocah. Lomba tersebut diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

Dua tahun pertama digunakan untuk menciptakan lagu, sedangkan pada tahun ketiga dilakukan perilisan album.

"Kebetulan untuk tahun ini kita Cipta Lelagon," lanjutnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online