Basarnas Temukan Dua Korban KM Virgo, Total 12 Meninggal
Basarnas menemukan dua korban meninggal KM Virgo Transport 8 di dalam kapal. Hingga Senin siang, 123 orang masih dalam pencarian.
Sebanyak 30 peserta mengikuti Inkubasi Bisnis Saka Wirausaha DIY. Program ini mendorong pelajar SMK membangun usaha mandiri dan berdaya saing. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA— Sebanyak 30 peserta mengikuti Inkubasi Bisnis Saka Wirausaha Tahap 2 Tahun 2026 yang digelar Senin (21/9/2026). Program tersebut menjadi wadah bagi anggota Saka Wirausaha untuk mempertajam keterampilan kewirausahaan, menyusun business plan, sekaligus mendorong inovasi produk olahan lokal.
Program inkubasi itu diarahkan untuk mencetak wirausahawan muda yang mandiri dan memiliki daya saing. Peserta tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi juga diuji untuk mengukur kemampuan dalam mengembangkan usaha.
Dalam kegiatan tersebut, penyelenggara mematangkan konsep standarisasi kecakapan baru bagi peserta. Jika sebelumnya pembinaan dilakukan secara tahunan, ke depan program inkubasi dirancang berlangsung setiap dua tahun dengan menerapkan pola Syarat Kecakapan Inkubasi (SKI) atau Syarat Kecakapan Khusus (SKK) Krida.
Peserta Diuji Kemampuan Usaha
Melalui pola tersebut, peserta diuji secara langsung oleh para mentor selama camp inkubasi. Ada tiga kemampuan utama yang harus dikuasai peserta, yakni penyusunan perencanaan usaha (planning), penganggaran (budgeting), serta kemampuan presentasi dan public speaking.
Para mentor kemudian memberikan arahan dan evaluasi hingga peserta dinyatakan layak mendapatkan kualifikasi kecakapan. Peserta juga mendapat dukungan modal pembinaan berbasis apresiasi prestasi (base fee dan skema insentif).
"Inkubasi ini kami dorong untuk membentuk pola belajar mandiri bagi peserta. Kami ingin mereka memiliki standar kemampuan yang terukur, sehingga saat selesai, input dan kualitas usaha yang dihasilkan benar-benar bagus dan siap bersaing," ujar Majelis Pembimbing Saka Wirausaha DIY Biohadikesuma di sela-sela kegiatan, Senin (21/9/2026).
30 Peserta Lolos Seleksi Tahap Pertama
Sebanyak 30 peserta yang mengikuti inkubasi merupakan peserta yang lolos seleksi dari Perkemahan Tahap 1 pada Juli lalu. Mereka berasal dari empat kontingen, yakni Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, dan Sleman.
Pada tahap kedua ini, peserta kembali mengikuti sejumlah kegiatan untuk melihat perkembangan yang telah dicapai selama program. Kegiatan tersebut meliputi pendalaman track, ujian SKK, pendampingan bersama mentor, dan pitching.
"Peserta juga diminta menunjukkan perkembangan usaha yang sudah dilakukan selama mengikuti program. Beberapa hal yang perlu disiapkan antara lain produk, dokumentasi transaksi, nota, serta buku kerja pendampingan," katanya.
Siswa SMK Tekuni Jasa Fotografi
Program inkubasi bisnis tersebut mendapat sambutan dari peserta berbagai SMK di Gunungkidul yang memiliki latar belakang usaha beragam.
Salah satunya Yogi Alfarisi, siswa kelas 11 SMK Negeri 1 Saptosari. Remaja berusia 16 tahun itu telah dua tahun menekuni jasa fotografer lepas di kawasan wisata Pantai Sepanjang, Gunungkidul.
Yogi menggunakan kamera milik tempatnya bekerja untuk menawarkan jasa foto langsung jadi dengan tarif Rp5.000 per foto. Saat akhir pekan (weekend), omzet yang diperolehnya bisa mencapai Rp2 juta dalam sehari.
Keikutsertaan Yogi dalam program inkubasi dilandasi tekad untuk mengumpulkan modal sekaligus menambah pengetahuan. Dia ingin membeli kamera sendiri dan membangun usaha fotografi secara mandiri. "Harapannya saya bisa membuka usaha dengan modal sendiri," katanya.
Siswi SMK Kembangkan Olahan Ikan
Inovasi lainnya datang dari Sintia Angel Rahmawati, siswi kelas 12 SMK Negeri 1 Tanjungsari. Terinspirasi dari jurusan Agribisnis Pengolahan di sekolahnya serta minimnya tingkat konsumsi ikan di DIY, Sintia menciptakan produk olahan berupa sambal goreng ikan tuna dan cumi.
Sebelumnya, Sintia berperan sebagai reseller produk sekolah di berbagai ajang Saka Wirausaha hingga berhasil memperoleh omzet. Kini, dia bertekad mengembangkan usaha tersebut secara mandiri.
Ketersediaan bahan baku perikanan di wilayah Tanjungsari yang berdekatan dengan Pantai Baron juga dimanfaatkan Sintia untuk memperluas variasi produknya. Selain sambal goreng ikan tuna dan cumi, dia mengembangkan produk dalam bentuk lumpia ikan dan otak-otak.
"Banyak masyarakat yang enggan makan ikan karena alasan amis atau repot dengan durinya. Melalui olahan sambal dan produk praktis ini, saya ingin membantu meningkatkan konsumsi ikan masyarakat sekaligus membangun bisnis mandiri," tutur Sintia.
Melalui pendampingan intensif para mentor dan skema dorongan modal usaha, Inkubasi Bisnis Saka Wirausaha diharapkan dapat menjembatani pelajar SMK untuk bertransformasi dari pelaku usaha pemula, seperti reseller atau pekerja, menjadi pemilik usaha mandiri yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Basarnas menemukan dua korban meninggal KM Virgo Transport 8 di dalam kapal. Hingga Senin siang, 123 orang masih dalam pencarian.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 22 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif flat Rp8.000.
Propam Polresta Jogja menetapkan Aipda S sebagai terduga pelanggar kasus Alkid dan mengamankannya di Patsus untuk pemeriksaan.
Nusantara Explorer segera hadir sebagai kereta wisata KAI. Simak fasilitas, kapasitas, progres kesiapan, dan gambaran harga tiketnya.
Influenza tipe A belum ditemukan di Jogja. Hasto meminta puskesmas memperkuat skrining dan rujukan pasien bergejala berkepanjangan.
Sebanyak 9.921 penerima bansos Gunungkidul terindikasi judi online. Dinsos mengingatkan game online dengan top up juga berisiko.