Simfoni 1.001 Pembatik di Malioboro, Upaya Menjaga Batik Tetap Lestari

Anisatul Umah
Anisatul Umah Minggu, 04 Oktober 2026 11:07 WIB
Simfoni 1.001 Pembatik di Malioboro, Upaya Menjaga Batik Tetap Lestari

Kegiatan Simfoni 1001 Pembatik di Jalan Malioboro yang merupakan rangkaian HUT Kota Jogja ke-270, Sabtu (3/10/2026)./Anisatul Umah-Harian Jogja.

Jalan Malioboro berubah menjadi ruang kreatif bagi 1.001 pembatik pada Sabtu (3/10/2026). Melalui kegiatan Simfoni 1001 Pembatik, peserta bersama-sama menggoreskan malam di atas kain dengan motif Sumbu Filosofi Jogja.

Kegiatan yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jogja ke-270 pada 7 Oktober 2026.

Tetesan malam mengalir dari ujung canting ke kain yang telah memiliki gambar motif Sumbu Filosofi Jogja. Motif yang digunakan beragam, mulai dari Gunung, Tugu, Panggung Krapyak, Keraton, Plengkung Gading, dan lainnya.

Malioboro pun tidak hanya menjadi kawasan yang dipadati wisatawan. Pada hari itu, ruas jalan tersebut menjadi ruang bersama untuk menghidupkan tradisi membatik.

Pertama Kali Membatik di Malioboro

Antusiasme terlihat dari para peserta yang datang dari berbagai daerah. Sebagian bahkan baru pertama kali mencoba menggunakan canting dan menggoreskan malam di atas kain.

Salah satunya Eka Nurdi, pria berusia 54 tahun asal Jakarta yang sedang berlibur di Jogja. Ia mengikuti kegiatan tersebut setelah diajak rekannya yang merupakan warga Jogja.

Bagi Eka, pengalaman pertama membatik justru membuatnya semakin memahami proses panjang di balik selembar kain batik.

"Ini pengalaman pertama membatik dan terus terang setelah melakukan ini jadi lebih menghargai pembatik dan tahu gitu kalau batik itu mahal tuh kenapa alasannya, ya ini salah satunya memang susah," ujarnya.

Eka mendapat motif Tugu Jogja untuk dibatik. Beberapa goresan malam masih meluber keluar garis sehingga motif Tugu yang dibuatnya belum sempurna.

Dari pengalaman tersebut, Eka menyadari bahwa pembuatan batik membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Garis demi garis harus dikerjakan dengan hati-hati, sementara motif tertentu dapat membutuhkan waktu berhari-hari untuk diselesaikan.

"Ikut garis itu saja lurus susah, apalagi yang saya lihat di TV itu kan pembatik tuh enggak pakai garis-garis ini, bahkan langsung gitu kan, itu sudah kebayang susahnya. Dan [betapa] terampilnya mereka," ucapnya sambil menunjukkan hasil karyanya.

Pasha Belajar Batik Sejak SMK

Peserta lainnya, Pasha, 19, datang dari Sleman. Ia mengikuti kegiatan tersebut untuk semakin mengenal batik sekaligus memahami cara membuatnya.

Ketertarikan Pasha terhadap batik bermula ketika bersekolah di SMK Negeri 5 Yogyakarta. Ia mengambil jurusan tekstil dan batik sehingga mulai mengenal proses membatik secara lebih mendalam.

Pengalaman mengikuti event membatik dengan peserta lebih dari 1.000 orang menjadi pengalaman pertama baginya.

"Sekitar 3 tahun [belajar batik]. Tugas akhir saya buat batik kontemporer. Campuran, dari yang lawas dan ini motif baru. Kemarin saya menjual di Dekranasda Sleman, itu kain saya terjual dua kain," ujarnya.

Batik Perlu Terus Dikembangkan

Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DIY, Sugeng Waskito, menyambut baik pelaksanaan Simfoni 1.001 Pembatik. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk melestarikan batik sekaligus mengenalkannya lebih luas hingga dunia internasional.

Sugeng mengaku baru kali ini mengikuti kegiatan membatik yang melibatkan hingga 1.001 peserta. Sebelumnya, ia pernah mengikuti kegiatan serupa, tetapi jumlah pesertanya belum mencapai 1.000 orang.

Kecintaannya terhadap batik telah dijalani selama 22 tahun. Selain menekuni dunia batik, ia mengembangkan usaha melalui Gee Batik.

"Saya di dunia batik baru 22 tahun, saya punya butik namanya Gee Batik. Kita harus melestarikan budaya batik agar tidak dicaplok ke negara lain," ucapnya.

Sugeng berharap kegiatan seperti Simfoni 1.001 Pembatik dapat kembali digelar pada tahun-tahun berikutnya. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk mendorong kreativitas dalam mengembangkan batik agar tetap mengikuti perkembangan zaman.

Batik, menurut dia, juga perlu dikemas lebih modern agar semakin dekat dengan anak muda. Salah satunya melalui motif abstrak kontemporer yang lebih fleksibel dan dapat menjadi pilihan bagi generasi muda untuk mengenakan batik.

"Kalau kita batik pakem itu kan hanya gitu-gitu aja kan. Yang sekarang trennya lagi batik abstrak kontemporer. Katanya kalau pakai batik yang itu lebih terkesan lebih tua, nggak juga sih. Sebenarnya kita modifikasi untuk batik biar lebih modern," lanjutnya.

Masyarakat Diajak Mengenal Proses Membatik

Ketua Harian Dekranasda DIY GKBRAA Paku Alam atau Gusti Putri mengaku senang dengan pelaksanaan Simfoni 1001 Pembatik. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperingati Hari Batik Nasional dan diharapkan dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

"Saya ingin masyarakat tahu bahwa pembatik itu ada prosesnya. Nah, prosesnya inilah yang menjadikan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia," ujarnya.

Menurut Gusti Putri, masyarakat selama ini mungkin lebih sering melihat dan membeli batik tanpa mengetahui proses panjang di balik pembuatannya.

Dengan mengenal proses tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai karya pembatik sekaligus memahami bahwa pembuatan batik membutuhkan waktu, ketelitian, dan kesabaran.

"Ternyata membatik itu sukar, mempunyai proses yang panjang. Jadi saya ingin masyarakat tahu bahwa inilah membatik, tidak segampang yang mereka bayangkan, tapi tidak sesukar yang mereka bayangkan," tuturnya.

Gusti Putri menyebut ada dua tantangan dalam pelestarian batik saat ini. Tantangan pertama adalah generasi muda yang kurang suka membatik.

Karena itu, kegiatan seperti Simfoni 1001 Pembatik diharapkan dapat membuat generasi muda mengetahui cara membatik dan tertarik untuk ikut membatik.

Tantangan kedua adalah banyaknya produk tekstil yang menggunakan motif batik.

"Saya penginnya mereka memberitahu bahwa ini ada tekstil yang motif batik, bukan batik asli Yogyakarta atau Indonesia," lanjutnya.

Kadin DIY Dorong Pelestarian Batik

Ketua Panitia Simfoni 1001 Pembatik, Indah Rahayu Murniati, mengatakan kegiatan tersebut merupakan program kerja Kadin DIY 2026, khususnya di bawah bidang pemberdayaan perempuan.

Menurutnya, acara tersebut diselenggarakan sebagai gerakan kolaboratif untuk melestarikan warisan budaya batik, memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya, dan meningkatkan kunjungan wisata pariwisata.

"Kegiatan membatik dilaksanakan sepanjang 550 meter di kawasan jalan raya Malioboro, membentang dari perempatan Batik Terang Bulan hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret di Titik Nol Yogyakarta," ucapnya.

Ia menjelaskan kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari pelajar, Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI, Polri, pelaku UKM, komunitas batik, masyarakat pecinta batik, hingga peserta dari luar daerah.

"Bersamaan dengan perayaan HUT ke-270 Kota Jogja, kegiatan ini ditujukan sebagai ruang edukasi bagi generasi muda dan momentum untuk mengukuhkan eksistensi Yogyakarta sebagai kota batik dunia," jelasnya.

Wakil Ketua Umum Koordinator 2 Kadin DIY, Gunarta Adibrata, yang mewakili Ketum Kadin DIY, mengatakan batik merupakan warisan adiluhung bangsa yang mengandung nilai filosofi, identitas, dan kearifan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Bagi DIY, kata dia, batik tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga sumber inspirasi, kreativitas, dan penggerak ekonomi masyarakat.

"Oleh karena itu, melestarikan batik adalah ikhtiar bersama menjaga jati diri sekaligus membangun masa depan," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online