Kebutuhan Nangka Gudeg DIY 9 Ton, Gunungkidul Tingkatkan Budidaya

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 04 Oktober 2026 16:37 WIB
Kebutuhan Nangka Gudeg DIY 9 Ton, Gunungkidul Tingkatkan Budidaya

Komisaris Pertamina Nanik S Deyang saat melakukan penanaman pohon Nangka di kawasan hutan wana boga di Kalurahan Jatiayu, Karangmojo, Sabtu (4/10). Harian Jogja/David Kurniawan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kebutuhan nangka sebagai bahan baku gudeg di DIY belum sepenuhnya mampu dipenuhi dari dalam daerah. Dari kebutuhan yang mencapai sembilan ton, pasokan yang tersedia baru sekitar dua ton sehingga sisanya masih didatangkan dari luar daerah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan budidaya nangka di Gunungkidul bakal terus diperkuat. Komisaris Pertamina Nanik S Deyang menyampaikan hal itu saat panen nangka di hutan wana boga Kalurahan Jatiayu, Karangmojo, Sabtu (3/10/2026).

“Luasan hutan wana boga mencapai 87 hektare sehingga keberadaan pohon Nangka yang ditanam akan terus diperkuat,” kata Nanik.

Menurut Nanik, buah nangka memiliki peran penting karena menjadi bahan baku pembuatan gudeg. Ia menyebut kebutuhan nangka di wilayah DIY mencapai sembilan ton, sedangkan pasokan yang dapat dipenuhi saat ini baru sekitar dua ton.

“Sisanya masih banyak mendatangkan dari luar daerah. Inilah kenapa budiyda Nangka di sini [wana boga] harus terus dikembangkan dan pertamina melalui program CSR yang dimiliki akan ikut berperan,” katanya.

Budidaya Nangka Butuh Dukungan Pengairan

Nanik mengaku telah melihat langsung lokasi budidaya nangka yang memanfaatkan tanah Sultan Ground. Dari peninjauan tersebut, salah satu catatan yang menurutnya perlu diperhatikan adalah ketersediaan air untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Kondisi ini menjadi penting karena budidaya nangka di Gunungkidul masih sangat bergantung pada musim hujan. Pengembangan tanaman juga dilakukan dengan model pertanian Tumang sari sehingga lahan di sela-sela pohon nangka dapat dimanfaatkan untuk menanam pangan lainnya.

“Di Gunungkidul hanya bisa menanam saat musim hujan, makanya saya meminta Pertamina ikut berperan dengan membuat subur bor dilengkapi dengan intalasi listrik tenaga surya untuk pengairan sehingga dapat tanam di sepanjang tahun,” ungkapnya.

Dukungan tersebut, menurut Nanik, tidak hanya berkaitan dengan upaya Pertamina memperkuat ketahanan energi. Budidaya nangka juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan masyarakat.

Selain itu, kawasan budidaya nangka di Gunungkidul diharapkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan wisata edukasi.

“Harapannya ini juga bisa untuk mendukung menjadi edu wisata hayati,” katanya.

Nangka Jadi Ikon Flora Gunungkidul

Pengembangan budidaya nangka juga sejalan dengan posisi tanaman tersebut sebagai ikon flora Gunungkidul. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, sebelumnya mengatakan nangka ditetapkan sebagai ikon flora di Bumi Handayani.

Keputusan tersebut dituangkan dalam Perda tentang Flora dan Fauna Khas di Gunungkidul. Adapun fauna yang menjadi ikon daerah tersebut adalah tawon.

“Untuk flora ikonnya Nangka, sedangkan untuk fauna adalah tawon,” kata Mbak Endah, sapaan akrabnya beberapa waktu lalu.

Menurut Endah, penanaman pohon nangka memiliki sejumlah manfaat. Selain dapat membantu memasok kebutuhan kuliner, buah nangka ketika matang juga dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun wisatawan di Gunungkidul.

Manfaat pohon nangka tidak berhenti pada buahnya. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan untuk gamelan dan kendang.

Kayu nangka juga dapat digunakan sebagai bahan dasar membuat rumah karena memiliki daya tahan dan tidak mudah rusak. Sementara itu, daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Dengan potensi tersebut, penguatan budidaya nangka di Gunungkidul tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku gudeg. Tanaman yang telah menjadi ikon flora daerah tersebut juga memiliki peluang untuk mendukung ketahanan pangan, pemanfaatan hasil pertanian, hingga pengembangan edu wisata hayati.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online