Gunung Merapi Alami 40 Kali Guguran Lava dalam Sepekan

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Minggu, 11 Oktober 2026 12:57 WIB
Gunung Merapi Alami 40 Kali Guguran Lava dalam Sepekan

Wisatawan berada di kawasan wisata lereng Gunung Merapi, Bungker Kaliadem, Sleman - Andreas Fitri Atmoko

Harianjogja.com, SLEMAN—Gunung Merapi mengalami puluhan kali guguran lava selama pekan pertama Oktober 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat 40 kali guguran lava yang mengarah ke sejumlah hulu sungai, dengan jarak luncur terjauh mencapai 2.500 meter ke arah Kali Sat/Putih.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan aktivitas tersebut terpantau selama periode pengamatan 2-8 Oktober 2026. Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dan statusnya tetap berada pada tingkat SIAGA.

Guguran Lava Mengarah ke Empat Sungai

Selama periode pengamatan tersebut, guguran lava tercatat mengarah ke empat hulu sungai di kawasan Gunung Merapi. Rinciannya, empat kali guguran lava menuju hulu Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.

Selanjutnya, tujuh kali guguran lava mengarah ke hulu Kali Krasak dengan jarak maksimum 1.900 meter. Satu kali guguran lava menuju hulu Kali Bebeng dengan jarak 1.700 meter.

Sementara itu, guguran lava paling banyak mengarah ke hulu Kali Sat/Putih. BPPTKG mencatat sebanyak 28 kali guguran lava menuju kawasan tersebut dengan jarak luncur maksimum 2.500 meter.

"Satu kali [guguran lava] ke arah hulu Kali Bebeng sejauh 1.700 meter dan 28 kali ke arah hulu Kali Sat atau Putih sejauh maksimum 2.500 meter," terang Agus dikonfirmasi pada Minggu (11/10/2026).

Selain guguran lava, pengamatan visual menunjukkan Gunung Merapi mengeluarkan asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Asap tersebut memiliki tekanan lemah dengan tinggi berkisar 10 meter hingga 150 meter.

Volume Kubah Lava Merapi

BPPTKG juga mengamati perubahan morfologi pada kubah lava Gunung Merapi selama periode tersebut. Agus menjelaskan terdapat sedikit perubahan morfologi pada Kubah Barat Daya akibat perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava.

Adapun Kubah Tengah tidak teramati mengalami perubahan morfologi. Berdasarkan analisis foto udara pada 19 September 2026, volume Kubah Barat Daya tercatat sebesar 4.182.700 meter kubik, sedangkan Kubah Tengah mencapai 2.369.600 meter kubik.

Dari sisi kegempaan, jaringan seismik yang terpasang di Gunung Merapi dan sekitarnya merekam sejumlah aktivitas selama periode pengamatan 2-8 Oktober 2026.

Rinciannya meliputi 52 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 533 gempa Fase Banyak (MP), tiga gempa Tremor, 483 gempa Guguran (RF), serta delapan gempa Tektonik (TT).

Agus menyebut intensitas kegempaan pada pekan tersebut relatif tidak berubah dibandingkan dengan periode pengamatan sebelumnya.

"Intensitas kegempaan pada periode pengamatan ini kurang lebih sama dibandingkan dengan intensitas kegempaan pada minggu sebelumnya," tutur Agus.

Status Merapi Masih Siaga

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental selama sepekan terakhir, BPPTKG menyimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi. Aktivitas tersebut berupa erupsi efusif, dengan status gunung api yang masih ditetapkan pada tingkat SIAGA.

Agus mengingatkan suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran di wilayah yang masuk dalam daerah potensi bahaya.

"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," tegasnya.

Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimum lima kilometer. Sementara itu, potensi bahaya di Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng mencapai jarak maksimum tujuh kilometer.

Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro dengan jarak maksimum tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.

Selain itu, lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

"Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online