Teori Komunikasi Hati Diperkenalkan untuk Perkuat Karakter Siswa di Gunungkidul

Newswire
Newswire Minggu, 11 Oktober 2026 15:37 WIB
Teori Komunikasi Hati Diperkenalkan untuk Perkuat Karakter Siswa di Gunungkidul

Pendidikan karakter melalui Komunikasi Hati diperkenalkan kepada siswa SMKN 1 Ngawen, Gunungkidul, untuk memperkuat integritas dan empati. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Penguatan pendidikan karakter di sekolah tidak cukup hanya dengan mengenalkan nilai-nilai kebaikan. Siswa juga perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, memahami orang lain, dan menerapkan kejujuran serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari penerapan hasil penelitian Komunikasi Hati dalam kegiatan Sosialisasi dan Penguatan Pendidikan Karakter bagi Anak Sekolah di SMKN 1 Ngawen, Gunungkidul, Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Gunungkidul, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY.

Penemu Teori Komunikasi Hati, Profesor Puji Lestari, menjelaskan pendekatan tersebut memiliki empat kompetensi utama, yakni olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati. Keempat kompetensi itu dapat menjadi landasan bagi siswa untuk mengenali diri, mengelola respons emosional, memahami orang lain, serta mengambil keputusan secara bijaksana.

Olah pikir berkaitan dengan kemampuan membangun pola pikir positif dan mengarahkannya pada tindakan konstruktif. Sementara itu, olah rasa menekankan kemampuan mengenali dan mengelola perasaan, termasuk mengubah respons negatif menjadi sikap yang lebih positif.

Adapun empati membantu seseorang memahami perasaan, pengalaman, dan keadaan orang lain. Kompetensi kedamaian hati berkaitan dengan kemampuan menjaga ketenangan, keseimbangan diri, serta kejernihan dalam menghadapi berbagai situasi.

"Keempat kompetensi tersebut memiliki relevansi dengan pembentukan karakter siswa. Melalui pengembangan kemampuan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengetahui perbedaan antara perilaku baik dan buruk, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai positif dalam pengambilan keputusan dan interaksi sehari-hari," kata Guru Besar UPN Veteran Jogja ini dikutip Minggu (11/10/2026).

Integritas Menjadi Tantangan bagi Siswa

Penerapan Komunikasi Hati dalam pendidikan karakter juga dibahas melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa. Topik diskusi meliputi pengelolaan emosi, perbedaan karakter, hubungan antarteman, komunikasi di sekolah, hingga tantangan berinteraksi melalui media digital.

Siswa diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan dan pengalaman mereka. Diskusi tersebut menjadi ruang untuk mengenali nilai-nilai karakter yang masih sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang siswa mengungkapkan integritas menjadi salah satu karakter yang membutuhkan upaya sungguh-sungguh. Nilai tersebut berkaitan dengan kejujuran, tanggung jawab, komitmen menepati janji, dan keberanian melakukan hal yang benar.

“Menurut saya pribadi yang paling sulit itu integritas, karena di situ dijelaskan integritas itu ada jujur, bertanggung jawab, menepati janji, dan berani melakukan hal yang benar,” ungkapnya.

Pengalaman siswa tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap nilai-nilai tertentu, tetapi juga upaya menerapkannya ketika menghadapi berbagai situasi.

Karakter Dinilai Penting untuk Bekal Lulusan

Kepala Seksi Layanan Balai Pendidikan Menengah Gunungkidul, Suryanto, mengatakan pendidikan karakter berbasis Komunikasi Hati merupakan bagian penting dari persiapan siswa menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan menengah.

Menurutnya, kemampuan akademik dan keterampilan teknis perlu dilengkapi dengan tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, kecakapan beradaptasi, serta komunikasi yang baik. Berbagai kemampuan tersebut dibutuhkan agar lulusan dapat menjalankan perannya secara optimal, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Suryanto menambahkan, penguatan karakter membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, guru, siswa, keluarga, dunia usaha dan dunia industri, serta pemangku kepentingan pendidikan perlu membangun sinergi agar nilai-nilai karakter berbasis Komunikasi Hati tumbuh secara konsisten di berbagai lingkungan kehidupan siswa.

"Penguatan karakter juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, guru, siswa, keluarga, dunia usaha dan dunia industri, serta pemangku kepentingan pendidikan perlu membangun sinergi agar nilai-nilai karakter berbasis komunikasi hati dapat tumbuh secara konsisten di berbagai lingkungan kehidupan siswa," katanya

Senada dengan hal tersebut, anggota Komisi D DPRD DIY, Demas Kursiswanto, menyoroti pentingnya karakter dalam mempersiapkan lulusan memasuki dunia kerja. Menurutnya, kebutuhan industri tidak hanya mencakup penguasaan keterampilan sesuai bidang keahlian, tetapi juga kemampuan beradaptasi, bekerja dalam tim, berkomunikasi secara efektif, menjaga tanggung jawab, dan menerapkan etika kerja.

"Pembentukan karakter sejak bangku sekolah perlu berjalan seiring dengan pengembangan kompetensi kejuruan. Lulusan yang memiliki keterampilan sekaligus integritas dan kemampuan membangun hubungan positif akan mempunyai bekal yang lebih baik dalam menghadapi tuntutan pekerjaan," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online