Libatkan Orang Tua dan Masyarakat, SMPN 2 Bambanglipuro Perkuat Pendidikan Karakter

Kiki Luqman
Kiki Luqman Minggu, 08 November 2026 13:47 WIB
Libatkan Orang Tua dan Masyarakat, SMPN 2 Bambanglipuro Perkuat Pendidikan Karakter

Pengajian tiap Minggu wage yang digencarkan oleh SMP Negeri 2 Bambanglipuro. /Harian Jogja-Kiki Luqman

Harianjogja.com, BANTUL—SMP Negeri 2 Bambanglipuro, Bantul, membangun budaya sukses pendidikan dengan memperkuat keterlibatan orang tua dan masyarakat. Salah satu upayanya dilakukan melalui pengajian rutin setiap Minggu Wage bersama Paguyuban Orang Tua (POT).

Kegiatan yang digelar setiap selapan sekali tersebut tidak hanya menjadi sarana menambah pengetahuan agama, tetapi juga ruang untuk menyamakan pemahaman antara sekolah dan keluarga dalam mendidik siswa. Orang tua didorong mengambil peran lebih besar dalam pembentukan karakter serta mendampingi perkembangan anak.

Wakil Kepala SMPN 2 Bambanglipuro, Projo Sukardi, mengatakan pengajian tersebut memiliki fungsi lebih luas daripada kegiatan keagamaan. Forum itu sekaligus menjadi wadah mempererat silaturahmi dan membangun komunikasi antara guru dengan orang tua siswa kelas VII, VIII, dan IX.

Menurutnya, komunikasi yang terjalin secara rutin merupakan modal penting untuk membangun budaya sukses pendidikan. Sekolah ingin nilai-nilai karakter yang diajarkan kepada siswa tidak hanya diterapkan di lingkungan sekolah, tetapi juga berlanjut dalam kehidupan keluarga.

"Yang pertama yaitu menambah ilmu agama, yang kedua ada semacam ketenangan jiwa bagi orang tua karena dikumpulkan untuk mendapatkan tausiah, yang ketiga memperkuat silaturahmi dan komunikasi di antara guru dan orang tua wali siswa kelas 7, 8, 9 dan membentuk sikap lebih yang positif," kata Sukardi, Minggu (8/11).

Kisah Alumni Jadi Inspirasi Orang Tua Siswa

Untuk memperkuat semangat membangun budaya sukses pendidikan, SMPN 2 Bambanglipuro juga menghadirkan orang tua alumni yang anaknya telah berhasil setelah menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Pengalaman mereka diharapkan menjadi sumber inspirasi sekaligus edukasi bagi wali murid.

Sukardi menilai cerita keberhasilan alumni dapat memberikan gambaran tentang pentingnya peran keluarga dalam mendampingi perjalanan pendidikan anak. Melalui pengalaman yang dibagikan, orang tua diharapkan semakin termotivasi untuk ikut mengawal anak hingga meraih keberhasilan.

"Jadi lulusan SMP 2 Bambang Liporo itu ternyata banyak orang-orang yang sukses. Disamping itu ini menandakan bahwa pengajian itu ada bekas kualitas," ujarnya.

Dia menambahkan, budaya sukses pendidikan juga perlu dibangun melalui keteladanan. Orang tua diharapkan menjadi contoh bagi anak dalam menerapkan nilai agama, sikap positif, dan perilaku sehari-hari.

Sekolah juga berencana memperkuat komunikasi melalui pertemuan lanjutan antara wali kelas dan orang tua setelah pengajian. Pertemuan itu akan dimanfaatkan untuk membahas perkembangan siswa, termasuk kendala yang dihadapi anak maupun persoalan yang membutuhkan penanganan bersama.

"Melunakan hati bukan hanya orang tua, tapi melunakan hati kepada guru, karyawan dan juga pihak komite," katanya.

Pendidikan Anak Perlu Dukungan Keluarga dan Masyarakat

Sementara itu, Ketua Komite SMPN 2 Bambanglipuro, Suhadi, mengatakan keberhasilan pendidikan harus ditopang tiga lingkungan, yakni pendidikan keluarga, pendidikan formal di sekolah, dan pendidikan di masyarakat. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar pembentukan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.

Menurut Suhadi, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Karena itu, komunikasi antara orang tua dan sekolah perlu terjalin dengan baik sehingga pola pendidikan di rumah dapat berjalan selaras dengan pembelajaran di sekolah.

"Sehingga sukses pendidikan tidak bisa hanya di sekolah formal saja tanpa didukung dari keluarga. Lebih ada kebersamaan," jelasnya.

Komunikasi tersebut, lanjut dia, dapat dilakukan melalui pertemuan langsung maupun grup WhatsApp. Dengan begitu, orang tua bisa mengetahui perkembangan anak di sekolah, sementara guru juga memperoleh informasi mengenai kondisi siswa ketika berada di rumah.

Selain keluarga, lingkungan masyarakat turut memengaruhi pembentukan karakter siswa. Suhadi mencontohkan berbagai aktivitas di sekitar sekolah, seperti di lapangan, warung, dan lingkungan permukiman, yang menjadi bagian dari kehidupan sosial dan pengalaman anak.

Oleh karena itu, sekolah perlu membangun jejaring dengan masyarakat sekitar. Pendekatan yang dilakukan bukan sekadar melarang aktivitas yang berpotensi memberikan pengaruh negatif, melainkan merangkul masyarakat agar bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan.

Pendidikan Karakter Tak Cukup dengan Penghijauan Sekolah

Suhadi menilai upaya melibatkan masyarakat juga sejalan dengan semangat sekolah Adiwiyata. Perhatian terhadap lingkungan sekolah, menurutnya, tidak cukup diwujudkan melalui penghijauan dan penataan fisik, tetapi juga perlu menyentuh kondisi psikologis serta lingkungan sosial siswa.

"Ini kita rangkul semuanya untuk sama-sama berpartisipasi agar anak-anak kita itu sukses dunia dan akhirat, sukses pendidikan formalnya dan lain sebagainya," ungkapnya.

Dia berharap komunikasi antara sekolah dan masyarakat dapat menjadi penyaring berbagai pengaruh negatif, termasuk perundungan atau bullying. Siswa perlu dibekali pemahaman untuk membedakan perilaku baik dan buruk agar tidak mudah terbawa pengaruh lingkungan.

Suhadi juga menegaskan keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik atau kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) juga perlu dikembangkan agar siswa mampu mengendalikan diri, memiliki keimanan, serta menerapkan akhlak yang baik.

"Makanya perlunya, tadi ada pengajian selapan sekali, itu pengajian untuk orang tua. Sebenarnya bukan pengajiannya, tapi komunikasi antara orang tuanya," tandasnya.

Melalui pengajian rutin bersama POT, SMPN 2 Bambanglipuro berupaya menjadikan orang tua dan masyarakat sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Sinergi antara sekolah, keluarga, komite, dan lingkungan sosial diharapkan mampu memperkuat pembentukan karakter sekaligus mendukung keberhasilan siswa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online