Kemarau Ganggu Budidaya Ikan di Sleman, Panen Perlu Diatur

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 22 Oktober 2026 22:17 WIB
Kemarau Ganggu Budidaya Ikan di Sleman, Panen Perlu Diatur

Hasil tangkapan ikan. - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Kemarau mulai mengganggu kegiatan budidaya ikan di sejumlah wilayah Kabupaten Sleman, terutama di kawasan selatan Selokan Mataram dan Prambanan. Pembudidaya diminta menyesuaikan jadwal panen dan penebaran benih untuk mengantisipasi kekurangan air sekaligus menekan risiko kematian ikan.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Liem Astuti, mengatakan dampak kekeringan paling dirasakan pembudidaya yang menggunakan kolam tanah. Jenis kolam tersebut sangat bergantung pada ketersediaan air untuk mendukung kegiatan budidaya.

“Dengan kondisi kering ini, budidaya perikanan juga terdampak, khususnya yang menggunakan kolam tanah. Kalau airnya habis, tentu budidaya tidak bisa berjalan optimal,” kata Liem pada Kamis (22/10/2026).

Menurut Liem, DP3 Sleman bersama penyuluh perikanan telah mengingatkan kelompok pembudidaya mengenai potensi kemarau panjang sejak awal. Imbauan tersebut bertujuan agar pembudidaya dapat menyesuaikan kegiatan produksi dengan kondisi air di lokasi masing-masing.

Panen Diatur untuk Mengurangi Risiko Kematian Ikan

Penyesuaian pola budidaya dilakukan dengan mengatur waktu panen dan menunda penebaran benih untuk siklus berikutnya. Liem menyebut sejumlah pembudidaya saat ini sedang memasuki tahap panen sebelum menjalani jeda produksi.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kematian ikan akibat pasokan air yang tidak mencukupi. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan budidaya, terutama pada kolam tanah.

Selain memberikan imbauan dan pendampingan, DP3 Sleman menyiapkan dukungan sarana dan prasarana untuk membantu pembudidaya menghadapi dampak kemarau. Salah satu bentuk dukungan tersebut berupa sumur pompa untuk membantu memenuhi kebutuhan air.

DP3 Sleman juga memberikan stimulan berupa obat-obatan dan vitamin untuk menjaga kesehatan ikan. Menurut Liem, ikan yang dipelihara dalam kondisi kekurangan air lebih rentan mengalami gangguan kesehatan dan terserang penyakit.

Kolam Terpal Jadi Alternatif Budidaya

Di tengah tantangan kekeringan, budidaya ikan menggunakan kolam terpal juga berkembang di Sleman. Pemanfaatannya antara lain dilakukan oleh kelompok wanita tani (KWT) melalui kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan yang didukung bidang ketahanan pangan.

“Bantuan kolam terpal tersebut menjadi salah satu upaya mendorong pemanfaatan lahan pekarangan untuk kegiatan produktif, termasuk budidaya ikan,” katanya.

Meski demikian, DP3 Sleman belum memerinci komposisi produksi perikanan berdasarkan jenis kolam. Data mengenai persentase penggunaan kolam terpal dan kolam tanah juga belum dirinci.

Liem menambahkan, penanganan dampak kemarau saat ini difokuskan pada penyesuaian pola budidaya dan pemenuhan kebutuhan air. Upaya tersebut diharapkan membantu menjaga keberlangsungan usaha pembudidaya ikan di Sleman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online