IAGI Bahas Potensi Geologi dan Ancaman Bencana di Indonesia, Ini Pesan Sultan HB X

Sunartono
Sunartono Selasa, 03 November 2026 19:47 WIB
IAGI Bahas Potensi Geologi dan Ancaman Bencana di Indonesia, Ini Pesan Sultan HB X

Sri Sultan mengingatkan pemanfaatan kekayaan geologi Indonesia harus memperhatikan keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. /Istimewa-Pemda DIY.

Harianjogja.com, JOGJA—Pemanfaatan kekayaan geologi Indonesia perlu memperhitungkan risiko bencana dan dampak lingkungan agar potensi ekonomi tidak mengorbankan keselamatan masyarakat. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan pengelolaan sumber daya geologi harus berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan dan pengurangan risiko bencana.

Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan saat membuka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-55 Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan GEOSEA ke-19 Tahun 2026, Selasa (3/11/2026).

Menurut Sri Sultan, kekayaan bumi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan. Namun, pemanfaatannya tidak boleh dilakukan secara berlebihan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.

Ia mengaitkan prinsip pengelolaan tersebut dengan nilai Tri Satya Brata yang menempatkan kearifan manusia, keselamatan negara, dan keluhuran kemanusiaan sebagai satu kesatuan tanggung jawab.

Dalam konteks geologi, nilai itu tercermin melalui kewajiban memelihara bumi dengan memanfaatkan kekayaan alam secara bijaksana. Ilmu pengetahuan juga harus menjadi dasar kebijakan untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana sekaligus memastikan pembangunan memperhatikan kepentingan generasi mendatang.

Belajar dari Kehidupan di Sekitar Merapi

Sri Sultan mencontohkan pengalaman DIY yang hidup berdampingan dengan Gunung Merapi. Gunung tersebut memberikan kesuburan bagi wilayah sekitarnya, tetapi pada saat yang sama menyimpan potensi ancaman bagi masyarakat.

Kondisi itu menunjukkan pemahaman terhadap karakteristik alam harus berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan dan kemampuan mengelola risiko.

Sri Sultan menilai hasil penelitian dan kajian geologi tidak cukup hanya tersimpan di lingkungan akademis atau laboratorium. Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang tepat dan komunikasi risiko yang mudah dipahami masyarakat.

"Pengetahuan ilmiah harus mampu melintasi batas laboratorium, menjangkau pemahaman warga, dan menjelma menjadi keputusan yang menyelamatkan," ungkap Sri Sultan.

Ia juga mengingatkan pentingnya keadilan antargenerasi dalam setiap kebijakan pembangunan. Manusia hanya menempati bagian yang sangat singkat dalam perjalanan sejarah bumi yang telah berlangsung miliaran tahun. Namun, keputusan yang diambil saat ini dapat meninggalkan dampak panjang bagi kehidupan pada masa mendatang.

Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari manfaat ekonomi, tetapi juga dari keselamatan manusia dan keseimbangan ekologis yang terpelihara.

"Masa depan umat manusia ditentukan oleh kedalaman pengetahuannya dalam memahami bumi, dan terlebih lagi, oleh kearifannya menjaga kehidupan di atasnya," tutup Sri Sultan.

Indonesia Kaya Sumber Daya Geologi sekaligus Rawan Bencana

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya geologi yang besar sekaligus menghadapi risiko kebencanaan karena berada di pertemuan lempeng-lempeng tektonik utama.

Kondisi tersebut menghadirkan potensi mineral, energi, panas bumi, dan air tanah. Namun, Indonesia juga menghadapi ancaman letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, serta tanah longsor.

Menurut Lana, pemanfaatan sumber daya, mitigasi bahaya, dan konservasi warisan geologi merupakan tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam pengelolaan sumber daya geologi, Badan Geologi terus memperkuat pemetaan, inventarisasi sumber daya dan cadangan, serta eksplorasi wilayah yang belum banyak dikaji.

Sementara itu, dalam upaya mitigasi bencana, penilaian bahaya geologi perlu menjadi bagian dari setiap perencanaan pembangunan, termasuk pembangunan infrastruktur dan kawasan baru. "Berinvestasi dalam pencegahan dan mitigasi selalu jauh lebih murah daripada memulihkan diri dari bencana," tegas Lana.

Selain pemanfaatan sumber daya dan mitigasi, Lana menyoroti pentingnya konservasi warisan geologi melalui pengembangan geopark. Salah satu contohnya adalah Geopark Global UNESCO Gunung Sewu yang membentang di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kawasan tersebut menunjukkan pelestarian bentang alam dapat berjalan beriringan dengan pengembangan geowisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Lana menambahkan, penyelarasan ketiga aspek pengelolaan geologi membutuhkan data yang akurat dan mudah diakses, kolaborasi lintas sektor maupun negara, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Pertemuan ilmiah tahun ini juga akan menghadirkan sekitar 180 makalah teknis yang diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemerintah.

"Geologi tidak berhenti di batas politik. Oleh karena itu, GEOSEA merupakan platform yang sangat berharga untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik di antara bangsa-bangsa kita," pungkas Lana.

IAGI Dorong Kolaborasi Pengelolaan Sumber Daya

Ketua Umum Pengurus Pusat IAGI, STJ Budi Santoso, menyatakan penyelenggaraan 55th IAGI Annual Scientific Meeting dan GEOSEA XIX Regional Congress tidak hanya menjadi forum diseminasi hasil penelitian dan perkembangan teknologi geosains.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang dialog antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas profesional dalam merespons berbagai tantangan pengelolaan sumber daya alam.

"Melalui beragam sesi strategis dan teknis, IAGI mendorong penguatan kontribusi profesi geologi dalam mendukung ketahanan energi, pengelolaan sumber daya mineral dan energi yang berkelanjutan, perlindungan lingkungan, mitigasi bencana, serta pengembangan potensi geologi sebagai bagian dari pembangunan nasional dan regional," katanya.

Kolaborasi yang dibangun melalui forum ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan selama kegiatan berlangsung. Kemitraan tersebut diharapkan berkembang menjadi kerja sama konkret dalam penelitian, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya geologi secara bertanggung jawab.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, mengatakan forum ini penting untuk semakin memperkuat kerja sama komunitas Geoscience di negara-negara ASEAN.

Menurutnya, dinamika geologi di negara yang kaya sumber daya alam seperti Indonesia juga menghadirkan risiko kebencanaan yang perlu dikelola dengan baik.

"Dengan mempertemukan para pemangku kepentingan dari Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, PIT IAGI ke-55 dan GEOSEA XIX menjadi momentum untuk memperkuat jejaring kerja sama regional sekaligus menegaskan peran strategis geosains dalam menjawab tantangan pembangunan masa kini dan masa depan," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online