Kisah Pedagang Es Jeruk Maguwoharjo, Diselamatkan Solidaritas Warga

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Minggu, 08 November 2026 21:37 WIB
Kisah Pedagang Es Jeruk Maguwoharjo, Diselamatkan Solidaritas Warga

Salah satu pelaku UMKM yang memilih batal ikut RANS Carnival akhir pekan lalu ialah Rakha Abyan Saputra ditemui di lokasi berjualannya di samping sebuah minimarket Maguwoharjo pada Senin (2/11/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, SLEMAN—Keputusan membatalkan keikutsertaan dalam RANS Carnival sempat menjadi pukulan bagi Rakha Abyan Saputra. Pedagang Jeruk Lokal Maguwoharjo itu telanjur menyiapkan 200 kilogram jeruk segar atau sekitar 40 kali lipat dari kebutuhan jualan hariannya. Namun, di luar dugaan, keputusan mundur justru mendatangkan gelombang solidaritas warga yang membuat 700 gelas minuman jeruk dipesan untuk dibagikan secara gratis.

Rakha merupakan salah satu pelaku UMKM yang memilih tidak melanjutkan keikutsertaannya dalam RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo akhir pekan lalu. Di tengah polemik penyelenggaraan acara tersebut, ia memutuskan kembali berjualan di tempat biasanya, yakni di samping sebuah minimarket di kawasan Pasekan, Maguwoharjo.

Bagi Rakha, keputusan itu bukan perkara mudah. Ia sudah menyiapkan berbagai kebutuhan dagang, mengeluarkan biaya pendaftaran, bahkan mengangkut perlengkapan stan ke lokasi acara sehari sebelum karnaval berlangsung.

Jeruk Lokal Maguwoharjo sendiri merupakan usaha waralaba yang dijalankan Rakha sejak tahun lalu. Dalam bisnis tersebut, posisinya adalah penerima waralaba atau franchisee.

Kepada Harian Jogja, Senin (2/11/2026), Rakha menceritakan awal mula keterlibatannya dalam RANS Carnival. Ia mengetahui rencana penyelenggaraan acara tersebut sejak dua bulan sebelumnya dan semula melihatnya sebagai peluang untuk mengembangkan penjualan.

Karena itu, Rakha mendaftar hingga akhirnya dinyatakan lolos kurasi. Ia kemudian membayar Rp500.000 kepada penyelenggara sebagai biaya sewa stan.

Persiapan mulai dilakukan sehari sebelum acara. Pada Jumat sekitar pukul 21.00 WIB, Rakha bersama beberapa orang membantu menurunkan perlengkapan dagang di lokasi karnaval.

Proses bongkar muat atau loading tersebut berlangsung sekitar satu hingga dua jam. Setelah seluruh barang diturunkan, ia pulang untuk beristirahat dan bersiap menghadapi hari pertama berjualan.

Namun, kabar mengenai polemik RANS Carnival terus berkembang di media sosial. Hingga akhirnya, pada Sabtu pagi, Rakha memutuskan membatalkan keikutsertaannya.

"Malam itu juga isunya semakin menyebar, beritanya juga menurut saya ya akhirnya memutuskan untuk cancel karena ya banyak satu dan lain hal yang sudah kami pertimbangkan juga,"kata Rakha ditemui pada Senin (2/11/2026) di lokasi berjualan.

Keputusan itu membuat seluruh perlengkapan yang sudah diangkut ke lokasi acara harus dibawa kembali. Gerobak stan untuk memajang minuman jeruk, termos es, dan berbagai peralatan lainnya kembali dinaikkan ke mobil bak hanya dalam hitungan jam.

"Kemudian pagi, yang harusnya kita harus persiapan bahan baku masuk, akhirnya kami balikin booth kita, pindah lagi di stan di sini biasanya, di minimarket sini," imbuhnya.

200 Kilogram Jeruk, 40 Kali Lipat Kebutuhan Harian

Persoalan terbesar yang dihadapi Rakha bukan sekadar membatalkan keikutsertaan dalam acara. Ia sudah telanjur membeli 200 kilogram jeruk segar untuk memenuhi kebutuhan selama dua hari RANS Carnival.

Rakha memperkirakan bahan baku sebanyak itu bisa menghasilkan sekitar 400-500 gelas minuman jeruk. Perhitungan tersebut dibuat berdasarkan perkiraan jumlah pengunjung yang datang menyaksikan para penampil ternama di acara tersebut.

Jumlah itu sangat jauh dibandingkan kebutuhan lapak sehari-hari. Saat berjualan di samping minimarket, Rakha biasanya hanya mengolah sekitar 3-5 kilogram jeruk dalam sehari.

"Paling kalau satu hari, kalau weekdays gitu kemarin satu hari itu sekitar 10 cup, mungkin bisa tiga sampai lima kiloan," tandasnya.

Artinya, persediaan jeruk yang disiapkan untuk karnaval mencapai sekitar 40 kali kebutuhan bahan baku pada hari biasa. Jika setiap hari hanya lima kilogram yang diolah, 200 kilogram jeruk tersebut setidaknya baru akan habis dalam waktu 40 hari.

Padahal, sebagai bahan baku segar, jeruk berkualitas hanya mampu bertahan sekitar sepekan. Kondisi itu membuat keputusan mundur dari karnaval berpotensi menimbulkan persoalan serius bagi kelangsungan penjualan.

Meski demikian, Rakha memilih tidak larut dalam kekhawatiran. Setelah seluruh perlengkapan berhasil dibawa kembali, ia bersama pekerjanya segera menata ulang lapak di tempat biasa.

"Ya makanya akhirnya kita balik ke sini, kita coba jualan seadanya dulu," ungkapnya.

Sejak pukul 06.00 WIB, mereka kembali menyiapkan meja, mengeluarkan bahan baku, serta mengoperasikan peralatan dan mesin untuk berjualan. Harapannya sederhana, pelanggan datang dan persediaan jeruk yang sudah telanjur dibeli bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Satu Unggahan Memicu Solidaritas Warga

Rakha kemudian mengumumkan pembatalan keikutsertaan Jeruk Lokal Maguwoharjo melalui akun Threads jeruklokal_maguwoharjo. Dalam unggahan tersebut, ia menyampaikan bahwa usahanya batal bergabung dalam RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo dan kembali berjualan di lokasi biasanya di kawasan Pasekan, Maguwoharjo.

Di akhir pengumuman, terselip keyakinan bahwa rezeki masih bisa datang dari kegiatan dan tempat lain.

"Hello, kami Jeruk Lokal Maguwoharjo, kami menyatakan CANCEL join event RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo. Kami baru bisa loading out pagi ini sebelum acara mulai. Inshaa Allah ada rejeki di event dan tempat lain," tulis akun jeruklokal_maguwoharjo dalam threads.

Unggahan singkat tersebut ternyata mendapat respons di luar perkiraan. Banyak warga menghubungi Jeruk Lokal Maguwoharjo melalui WhatsApp maupun pesan langsung di Threads.

Mereka bukan sekadar memberikan dukungan moral. Sejumlah orang justru memesan minuman jeruk dalam jumlah banyak dengan tujuan agar bisa dibagikan kepada masyarakat.

"Setelah kita pindah ke sini, ya kita coba jualan lagi, tiba-tiba ya banyak WA, nge-DM lewat threads juga, pesen banyak. Pada hari itu juga kami buat minuman ya dan alhamdulillah sudah habis juga," tuturnya.

Rakha mengingat, lonjakan pesanan mulai terasa sekitar pukul 10.00 WIB. Permintaan yang datang terus bertambah hingga membuat persiapan awal dengan dua orang pekerja tidak lagi mencukupi.

Ia akhirnya meminta bantuan teman-teman dan tetangga untuk ikut menyiapkan minuman. Jumlah orang yang terlibat dalam proses tersebut kemudian bertambah menjadi sekitar delapan orang.

"Jadi itu mendadak. Awalnya kan persiapan kami cuma dua orang. Dua orang untuk event itu, terus ya karena ada tiba-tiba orderan banyak, akhirnya kami berenam atau bertujuh. Akhirnya juga sampai sekarang itu jadi, yang manggil teman-teman tetangga juga, mau bantuin. Kira-kira total mungkin bisa delapan orang akhirnya," tuturnya.

Dari respons tersebut, sekitar 700 gelas minuman jeruk telah dipesan setelah Rakha memutuskan mundur dari RANS Carnival. Jumlah tersebut bahkan masih berpeluang bertambah karena pesanan terus masuk melalui kanal komunikasi Jeruk Lokal Maguwoharjo.

Minuman Dibagikan Gratis kepada Ojol hingga Anak Sekolah

Menariknya, sebagian besar pemesan tidak meminta minuman tersebut dikirim untuk mereka sendiri. Uang ditransfer kepada Rakha dengan pesan agar minuman jeruk yang dibeli dibagikan kepada masyarakat.

"Jadi mayoritas mereka ngirim, transfer itu -- Mas, tolong dibagiin. Jadi kayak mereka, iya, teman-teman dari sosial media tuh kayak ya memberikan amanah ke kamilah untuk dibagi-bagikan," ujarnya.

Minuman yang sudah dibayarkan kemudian dibagikan kepada siapa pun yang datang atau melintas di sekitar lokasi berjualan. Pengemudi ojek online, warga yang lewat, hingga masyarakat yang mampir ke minimarket bisa mendapatkan minuman tersebut tanpa harus membayar.

Jika persediaan minuman belum habis, Rakha juga berkeliling kawasan Maguwoharjo untuk membagikannya kepada masyarakat.

"Ke orang-orang yang di jalanan, bisa ke ojek online sedang mangkal, pemulung, anak-anak pulang sekolah dan lain-lain," tuturnya.

Bahkan, pembagian minuman jeruk direncanakan berlanjut pada Jumat mendatang. Rakha menyebut ada permintaan dari konsumen agar sebagian minuman dikirim ke masjid di sekitar lokasi untuk kegiatan Jumat berkah.

"Hari jumat besok rencana kami akan mengirim ke masjid dekat sini untuk Jumat berkah karena permintaan dari konsumen," imbuh Rakha.

Ada pula pengalaman lain yang membekas bagi Rakha. Ia menceritakan seorang warga yang tetap ingin membayar minuman meskipun sudah diberi tahu bahwa minuman tersebut sebenarnya telah dibeli orang lain dan disediakan secara gratis.

Warga tersebut bersikeras membayar karena juga ingin ikut membantu usaha Jeruk Lokal Maguwoharjo.

Tak Menyangka Solidaritas Warga Menyelamatkan Usaha

Banjir pesanan dan dukungan dari berbagai kalangan membuat Rakha tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Ia mengaku tidak pernah membayangkan keputusan membatalkan keikutsertaan dalam karnaval justru disambut begitu banyak bantuan.

Terlebih, kondisi penjualan minuman jeruk dalam beberapa bulan terakhir sebenarnya sedang tidak terlalu ramai. Pendapatan yang diperoleh selama ini setidaknya masih cukup untuk membayar pekerja yang membantu menjaga lapak.

"Sangat-sangat terharu, jadi di keadaan ekonomi saat ini istilahnya juga kami bisa dibilang beberapa bulan terakhir juga enggak terlalu banyaklah penjualannya. Maksudnya ya untungnya cukup untuk bayar teman-teman yang jaga di sini, alhamdulillah masih bisa," ujarnya.

Bagi Rakha, peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana solidaritas sosial bisa bergerak tanpa harus dikoordinasikan secara khusus. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal justru datang dengan cara masing-masing untuk membantu.

Dukungan itu bahkan tidak hanya berasal dari warga sekitar. Sejumlah orang dari luar kota turut menghubungi dan memesan minuman melalui pesan langsung maupun WhatsApp.

"Dengan fenomena ini, menurut saya juga wah, kelihatan banget ininya, emang warga bantu warga juga. Kami didukung sama teman-teman tak dari mana banyak yang dari luar kota, luar kota juga yang bantu kami DM lewat nomor WA juga. Bisanya terima kasih support atas ya, support-nya semuanya teman-teman yang udah, udah bantu saya dan teman-teman booth-booth lain juga," ungkapnya.

Keputusan mundur dari RANS Carnival semula menyisakan persoalan bahan baku, tenaga, dan waktu bagi Rakha. Namun, respons masyarakat mengubah situasi tersebut menjadi pengalaman solidaritas yang tidak pernah ia perkirakan sebelumnya.

Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi pelaku usaha kecil, gerakan warga bantu warga menunjukkan bahwa kepedulian bisa hadir melalui tindakan sederhana. Salah satunya dengan membeli dagangan, kemudian mempercayakan kepada pedagang untuk membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online