Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul Jumat 6 November 2026, Cek Tarifnya
Cek jadwal Angkutan KSPN dari Malioboro ke Obelix Sea View dan Pantai Drini, lengkap dengan tarif serta jadwal perjalanan pulang.
Piala Ketua DPRD DIY diikuti peserta berbagai daerah. Ajang lomba burung berkicau ini diharapkan menggerakkan ekonomi dan mendukung konservasi. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Ratusan penggemar burung berkicau dari berbagai daerah mengikuti kompetisi Piala Ketua DPRD DIY di Jogja Bird Arena, Monjali, Minggu (8/11/2026). Selain menjadi ajang bagi komunitas menyalurkan hobi, kegiatan ini diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus memperkuat upaya pelestarian satwa.
Anggota DPRD DIY, Andriana Wulandari, mengatakan lembaga legislatif mendukung berbagai kegiatan positif yang diinisiasi komunitas masyarakat. Dukungan tersebut diharapkan membuat aktivitas komunitas tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian warga di sekitar lokasi kegiatan.
"Kami selalu mendukung setiap kegiatan-kegiatan komunitas yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga mampu —yang intinya adalah bagaimana semua kegiatan-kegiatan itu bisa meningkatkan perekonomian bagi komunitas dan juga peserta, dan juga warga masyarakat di sekitarnya," ujar Andriana Wulandari.
Meski demikian, Andriana mengingatkan penyelenggaraan lomba burung berkicau harus berjalan beriringan dengan prinsip konservasi. Aktivitas memelihara maupun melombakan burung tidak boleh menjadi alasan untuk mengeksploitasi satwa dan mengganggu kelestarian alam.
"Gerakan atau lomba-lomba burung ini jangan sampai mengganggu namanya gerakan konservasi, atau bukan untuk mengeksploitasi hewan satwa yang ada, khususnya burung," tambahnya.
Peserta dari Berbagai Daerah, Pariwisata Ikut Terdampak
Tingginya antusiasme peserta juga terlihat dari asal daerah para penggemar burung yang mengikuti kompetisi tersebut. Perwakilan Panitia, Rindang Rumboko, menyebut peserta tidak hanya berasal dari wilayah lokal Jogja, tetapi juga Magelang, Solo, Jawa Timuran, hingga berbagai daerah nasional lainnya.
"Peserta yang hadir tidak hanya datang dari wilayah lokal Yogyakarta, melainkan banyak pula yang berasal dari Magelang, Solo, Jawa Timuran, hingga berbagai daerah nasional lainnya. Ia menilai kehadiran peserta dari luar daerah ini membawa dampak positif langsung terhadap sektor pariwisata, perhotelan, kuliner," katanya.
Kehadiran peserta dari luar daerah tersebut menjadi salah satu potensi manfaat penyelenggaraan kompetisi burung berkicau. Aktivitas komunitas seperti ini dinilai dapat memberikan dampak ekonomi bagi sejumlah sektor pendukung, mulai dari pariwisata, penginapan, hingga usaha kuliner.
DPRD DIY berharap pemerintah daerah terus memberikan pendampingan dan mendorong keberlanjutan kegiatan komunitas. Sinergi antara hobi, pariwisata, dan konservasi diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi kerakyatan di wilayah Jogja.
Piala Ketua DPRD DIY Diharapkan Menjadi Agenda Tahunan
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, turut mengapresiasi penyelenggaraan Piala Ketua DPRD DIY. Ia berharap kompetisi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi dapat berkembang menjadi agenda tahunan.
"Kami memberikan apresiasi ya kepada pada hari ini Bapak Ketua DPRD mengadakan acara berkaitan dengan piala Ketua DPRD, dan ini merupakan event yang harapan kami juga bukan diselenggarakan pada satu tahun saja, tapi menjadi event tahunan," ujar Aris Eko Nugroho.
Aris juga berharap penyelenggaraan kegiatan tersebut dapat dikorelasikan dengan aktivitas serupa yang telah berlangsung selama dua dekade, yakni Piala Raja. Menurutnya, penyelenggaraan kedua kegiatan oleh PBI perlu menjadi bagian dari perencanaan agenda tahunan di Jogja.
"Tapi tentu harapan kami juga ada terkorelasi dengan aktivitas yang hampir sama yang sudah 20 tahun, Piala Raja. Jadi posisinya nanti seperti apa, ini yang karena kebetulan penyelenggaraan PBI sama-sama penyelenggaraannya, sehingga harapan kami ini juga bisa menjadi bagian rencana event tahunan yang bisa ada di Yogyakarta," tambahnya.
Ia juga berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Partisipasi peserta dari luar Jogja menjadi salah satu hal yang diharapkan dapat terus meningkat pada penyelenggaraan berikutnya.
Lomba Burung Harus Berasal dari Hasil Penangkaran
Selain dampak ekonomi, Aris menyoroti potensi pelestarian alam dan satwa yang dimiliki DIY. Menurutnya, potensi tersebut perlu mendapatkan fasilitasi sekaligus penghargaan agar kegiatan pelestarian memberikan manfaat lebih luas.
"Selain itu juga, ini juga sama seperti yang disampaikan oleh Ibu Ketua Komisi D tadi, bahwa kita itu punya potensi yang luar biasa, kalau kita itu punya pelestarian yang banyak. Nah ini harus kita fasilitasi, tidak sekadar mereka melestarikan tapi kita memberi penghargaan. Salah satu penghargaan yang adalah apa yang dia hasilkan bisa ditampilkan di sini," ungkapnya.
Aris menjelaskan setiap bagian dari event PBI mesti mencakup pelepasan burung yang berasal dari hasil penangkaran. Burung yang diikutsertakan dalam perlombaan juga harus bersumber dari penangkaran.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, yakni merawat dan menjaga alam agar dapat memberikan nilai ekonomi serta kesejahteraan bagi masyarakat desa.
DPKP DIY Perhatikan Kesehatan dan Pakan Burung
Di luar penyelenggaraan kompetisi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY juga menjalankan pembinaan yang berkaitan dengan aktivitas komunitas burung berkicau. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kesejahteraan dan kesehatan hewan.
Aris menjelaskan kesehatan burung perlu diperhatikan, termasuk untuk mengantisipasi ancaman penyakit avian influenza atau flu burung. Penanganan aspek kesehatan hewan tersebut menjadi bagian dari tugas DPKP DIY.
"Kalau selama ini di dinas memang ada karena ini kan termasuk anu ya, semua yang berkaitan lomba burung ini mesti akan berjalan tentang kesejahteraan hewan, kesehatan hewan itu menjadi bagian. Tugas kami dalam rangka kalau yang kaitan burung ini mesti juga terjaga berkaitan dengan avian influenza atau flu burung itu menjadi penugasan kami," jelas Aris Eko Nugroho.
Selain kesehatan satwa, ketersediaan pakan burung juga menjadi perhatian. Menurut Aris, kebutuhan pakan memiliki keterkaitan dengan sektor pertanian karena sejumlah bahan yang digunakan berasal dari hasil pertanian.
"Di samping itu juga, kami pun juga ini mesti akan membutuhkan makanan. Makanan itu juga menjadi bagian di pertanian juga, itulah yang kemudian kita coba siapkan, kalau yang kaitan ada yang biji-bijian, ada yang jagung, dan sebagainya," pungkasnya.
Melalui dukungan terhadap komunitas, pembinaan kesehatan hewan, penyediaan pakan, serta penerapan prinsip konservasi, berbagai pihak diharapkan dapat menjaga keberlanjutan aktivitas burung berkicau di Jogja. Dengan demikian, kegiatan berbasis hobi tersebut tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi perekonomian masyarakat dan pelestarian satwa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cek jadwal Angkutan KSPN dari Malioboro ke Obelix Sea View dan Pantai Drini, lengkap dengan tarif serta jadwal perjalanan pulang.
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk membuka rekening gratis bagi 25,16 juta warga desil 1 hingga 4.
PMI asal Cililin, Bandung Barat, Sri Nurhaida Pratiwi, ditemukan selamat di UEA. Pemulangan menunggu proses pemeriksaan kepolisian.
Korlantas Polri menegaskan kabar SIM seumur hidup adalah hoaks. Masa berlaku SIM tetap lima tahun sesuai UU Lalu Lintas.
KRL INKA rangkaian kedelapan ditargetkan beroperasi 1 Desember 2026 setelah menjalani pengujian akhir pada 11 November.
BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem di DIY pada 9-11 November 2026. Hujan sedang dan gelombang laut 2,5 meter perlu diwaspadai.