Gandeng UGM, PDAM Sleman Uji Deteksi Kebocoran Pakai Satelit
PDAM Sleman jadi yang pertama di Indonesia uji teknologi satelit untuk deteksi kebocoran pipa. Kolaborasi dengan UGM dan perusahaan Korea.
Harianjogja.com, JOGJA- Penerapan hasil riset kedelai baik yang dilakukan oleh Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) maupun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk mengurangi ketergantungan impor tidak sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan produktivitas kedelai.
Dampaknya, hingga kini, pola tanam komoditas kedelai masih dianaktirikan. “Hasilnya, dari kebutuhan 2,8 juta ton kedelai, petani lokal hanya mampu menyumbang 800.000 ton,” ungkap Eko Mudi Kepala Bagian Promosi Batan kepada Harian Jogja di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Selasa (24/9/2013).
Sejak 30 tahun terakhir, katanya, Batan mengembangkan beragam varietas kedelai yang mampu bersaing dengan kedelai impor. Hingga kini, sudah ada delapan varietas induk kedelai mulai Muria, Tengger, Meratus, Mitani dan Rajabasa.
“Yang paling baru adalah varietas kedelai supergenjah [Gamasugen-1 dan Gamasugen-2]. Varietas terbaru ini sudah diuji multilokasi di 16 daerah dan hasilnya sangat memuaskan,” ungkap Eko.
Salah satu kelebihan dari varietas supergajah tersebut, sambunganya, adalah usia panennya yang sangat pendek. Berkisar antara 66 hari hingga 70 hari. Ini merupakan perbaruan varietas unggul milik Batan sebelumnya, yakni varietas kedelai Mutiara-1 di mana usia panennya mencapai 82 hari.
Adapun Rajabasa, lanjutnya, memiliki keunggulan tertentu. Misalnya, untuk satu hektare dengan 25 kg Rajabasa produktivitasnya bisa mencapai 2,9 hingga 3,9 ton.
Tidak hanya itu, biji Rajabasa yang kuning mengkilat dengan ukuran butir lebih besar dinilainya mampu bersaing dengan kedelai impor.
“Berat per 1.000 butir mencapai 150 gram. Harganya juga bersaing dengan kedelai impor. Jadi, varietas ini layak untuk dikembangkan,” jelas Eko.
Kepala Bagian Humas Batan Heru Santosa mengatakan upaya menaikkan produksi kedelai dengan cara mendorong perluasan lahan juga masih menemui kendala.
Hal itu membutuhkan komitmen tinggi dari pemerintah. “Kerja sama dengan berbagai pemerintah daerah terus kami lakukan. Tetapi, Batan tidak memiliki kebijakan untuk memperluas [produksi]. Itu tergantung dari pemerintah,” ujarnya.
Padahal, tanggapan masyarakat terhadap varietas baru hasil mutasi radiasi yang dilakukan Batan dinilai sangat baik. Tidak hanya memberikan varietas unggulan, Batan juga siap memberikan pembinaan kepada para petani.
“Seluruh dana tentu bukan dari Batan, tetapi dari masing-masing Pemda. Kami hanya menyediakan varietas unggulannya,” pungkas Budi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PDAM Sleman jadi yang pertama di Indonesia uji teknologi satelit untuk deteksi kebocoran pipa. Kolaborasi dengan UGM dan perusahaan Korea.
BMKG mencatat 1.598 gempa susulan setelah gempa M7,7 mengguncang NTT. Gempa terbesar M6,2 dan aktivitas diprediksi meluruh 2–3 pekan.
Cuaca panas dan polusi udara saat kemarau dapat memicu ISPA. Dokter membagikan cara menjaga kesehatan pernapasan dan daya tahan tubuh.
Savia Aulia Rahmawati, sinden cilik asal Ciledug, tampil di Istana saat HUT ke-81 RI dan mendapat respons positif dari Presiden Prabowo.
Tujuh orang meninggal dan beberapa lainnya terluka akibat desak-desakan di sebuah kuil di Bihar, India, setelah tiang listrik roboh.
Hari ketiga pencarian warga hilang di Hutan Pathuk Turi, Sleman, SAR gabungan menerjunkan delapan SRU dan tim vertikal.