PERTANIAN KULONPROGO : Harga Cabai Anjlok, Petani Cabai Mulai Jual Motor untuk Bayar Utang

Kamis, 05 Juni 2014 15:09 WIB
PERTANIAN KULONPROGO : Harga Cabai Anjlok, Petani Cabai Mulai Jual Motor untuk Bayar Utang

BOJONEGORO, 3/1 - PANEN PAKSA CABAI. Sejumlah warga mencabuti pohon cabai dari sawah yang terendam air banjir luapan Bengawan Solo di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (3/1). Akibat luapan sungai terpanjang di Jawa itu, areal tanaman padi, cabai, juga palawija di daerah setempat terendam air banjir, sebagian di antaranya rusak. FOTO ANTARA/Aguk Sudarmojo/ed/pd/12

Harianjogja.com, KULONPROGO-Anjloknya harga cabai memaksa ratusan petani pesisir Selatan Kulonprogo menjual hewan ternak dan kendaraan bermotor. Uang itu untuk membayar kredit bank yang dipinjam sebagai modal menanam.

Dua pekan lalu, harga jual cabai merah keriting di tingkat petani masih berkisar Rp4.000 per kilogram. Tidak berapa lama, harga kembali turun di kisaran Rp3.000 per kilogram. Harga saat ini kian mengenaskan dengan nominal Rp2.300 per kilogram.

Dari informasi yang dihimpun Harianjogja.com, modal satu kali tanam membutuhkan biaya Rp10 juta sampai Rp100 juta, tergantung luas lahan. Dengan modal tersebut, petani dapat menanam hingga 10 kepek atau bungkus benih yang per bungkusnya seharga Rp10 juta.

Sukadi, petani cabai setempat misalnya. Ia mengaku terpaksa menjual sepeda motornya untuk membayar utang bank. Sebenarnya, kata dia, hasil panen cabai di lahan seluas 500 meter persegi kali ini dapat menghasilkan dua kuintal cabai. Namun para petani tidak dapat menikmati hasilnya karena terbebani pinjaman puluhan juta rupiah dari bank untuk modal tanam.

Ia merasa prihatin dengan kondisi petani cabai di pesisir karena harga jual yang tidak sebanding dengan ongkos produksi. Setidaknya, harga jual satu kilogram cabai menyamai harga satu liter bensin.

Ketua kelompok tani Ngudi Hasil, Garongan, Suradi, menuturkan, petani meminjam modal di bank untuk menanam dan akan dikembalikan setelah panen. Sayang, harga jual cabai yang terlampau murah membuat petani tidak balik modal.

Apalagi, jelas dia, petani biasanya juga memperkerjakan buruh lepas yang bertugas memetik hasil panen. Rata-rata petani memperkerjakan 10 orang tenaga petik dengan upah Rp50.000 per hari yang kemudian diturunkan menjadi Rp30.000 per hari karena harga jual cabai rendah.

Ia berharap dukungan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini, misal memberikan dana talangan atau membantu urusan birokrasi dengan bank, seperti memperpanjang masa jatuh tempo

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online