Alasan Siswa Sekolah Rakyat dari Gunungkidul Belajar di Sleman-Bantul
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Dari enam telaga yang ada di wilayah Tepus Gunungkidul, dua di antaranya sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian sementara empat telaga lainnya sudah mengering.
“Warga sudah tidak bisa mengambil air dari telaga-telaga itu. Malahan, warga mulai memanfaatkannya untuk lahan pertanian,” kata Kepala Desa Tepus, Broto Rijanto, baru-baru ini.
Menurut dia, debit air keempat telaga sudah habis. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan air, warga harus membeli dari truk tangki pengangkut air.
“Untungnya akhir-akhir ini hujan turun. Jadi, bisa menambah cadangan air milik warga, lewat bak-bak penampungan,” ungkap Broto.
Drop air yang dilakukan belum mampu mencukupi kebutuhan air seluruh warga karena penyaluran air hanya menggunakan satu truk tangki pengankut. Di wilayah Tepus padahal terdapat lima desa yang mengalami kekeringan.
“Salah satu alternatifnya, warga harus membeli air sendiri. Rata-rata warga membeli per tangkinya Rp100.000,” ucap Broto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.
Tiga calon Sekda Sleman sudah dikantongi Bupati. Tinggal tunggu restu Sri Sultan sebelum pelantikan.