Jalan ke Gua Pindul Gunungkidul Rusak Parah, Wisatawan Terancam Kabur
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.
Imigran gelap asal Somalia.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Jajaran Polres Gunungkidul terus mewaspadai potensi penyelundupan imigran ke Christmas Island di pesisir Pantai Selatan. Pertengahan Oktober menjadi waktu krusial tindak kejahatan tersebut.
Berdasarkan catatan Polres Gunungkidul, penyelundupan manusia banyak dilakukan medio Oktober. Sejak 2011 lalu, polisi menggagalkan penyelundupan sebanyak tiga kali. Kasus terakhir terjadi pada 19 Oktober 2013, sebanyak 30 imigran gelap diamankan di Pantai Parangracuk, Tanjungsari.
Kepala Polres Gunungkidul AKBP Faried Zulkarnaen mengatakan guna mengantisipasi terjadinya penyelundupan manusia, petugas terus memantau dan mengawasi wilayah pesisir pantai di Gunungkidul. Kegiatan yang dilakukan masih bersifat preventif dengan peningkatan patroli pantai.
“Selain terus patroli, kami juga menginformasikan kepada warga pesisir tentang bahayanya penyelendupan manusia,” kata Faried, Jumat (17/10/2014).
Dia menjelaskan sosialisasi diberikan supaya warga pesisir sadar dan tidak ikut dalam praktik penyelundupan itu.
“Banyak praktik penyelundupan menggunakan jasa warga sebagai perantara. Kami imbau masyarakat tidak tertipu dengan iming-iming sejumlah uang,” tambah Faried.
Dia menjelaskan ada enam kecamatan yang berpotensi menjadi jalur penyelendupan manusia, yakni Kecamatan Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus dan Girisubo. Kondisi geografis wilayah DIY, khususnya Gunungkidul merupakan jalur strategis karena langsung berbatasan dengan negara tujuan imigran.
“Bila masyarakat mengetahui atau mencurigai adanya praktik penyelundupan, segera laporkan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Air Polres Gunungkidul AKP Irianto menambahkankan berdasarkan pengalaman yang lalu, praktik penyelundupan imigran biasanya terjadi antara 15-20 Oktober. Banyak pengungkapan kasus terjadi di rentang waktu itu.
“Uniknya, rentan waktunya juga tidak jauh dari tanggal-tanggal itu,” kata Irianto.
Dia menjelaskan modus operasi begitu rapi dengan model jaringan terputus. Di mana, peran penyelundup masih dalam satu jaringan, tapi antar penyelundup tidak saling mengenal.
“Banyak orang yang terlibat dalam penyelundupan manusia. Tiap penyelundup memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Misalnya, saat operasi dilakukan, ada orang yang bertugas mengantar ke wilayah pantai, terus ada orang bertugas menyeberangkan. Anehnya, orang-orang itu tidak saling mengenal,” kata mantan Kepala Polsek Semanu itu.
Dia mengakui praktik tersebut menyulitkan polisi untuk mengungkap penyeberangan imigran gelap.
“Fokus kami tidak di tengah-tengah laut, tapi lebih ke wilayah-wilayah pesisir. Sebab, calon imigran banyak dimasukan melalui jalur darat,” ungkap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.
Sebanyak 57 biksu peserta Indonesia Walk for Peace 2026 tiba di Jogja dan disambut Sri Sultan sebelum melanjutkan perjalanan ke Borobudur.
Membandingkan MacBook Neo Rp10 jutaan dengan laptop Windows. Simak kelebihan, kekurangan, dan mana yang paling pas untuk kebutuhan kuliah serta kerja Anda.
Ingin lansia tetap sehat saat puasa Arafah? Simak 5 tips praktis mengenai hidrasi, nutrisi, dan aktivitas agar lansia tetap bugar saat Iduladha.
Tidak hanya soal kecepatan, pengguna internet kini mulai lebih memperhatikan faktor stabilitas koneksi dan kenyamanan penggunaan sehari-hari.
Polres Bantul meningkatkan pengamanan jelang Iduladha 2026 untuk mengantisipasi tawuran dan kejahatan jalanan serta mengaktifkan siskamling.