15.342 RTLH di Gunungkidul Masih Menunggu Perbaikan
15.342 RTLH di Gunungkidul masih menunggu perbaikan. Tahun 2026, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5,12 miliar untuk 256 rumah.
JIBI/Espos/Ahmad Mufid Aryono POTRET KEMISKINAN--Suparmin berada di depan rumahnya di Desa Rembun, Nogosari, beberapa waktu lalu. Kediaman Suparmin itu merupakan salah satu potret kemiskinan yang ada di Boyolali.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Kabupaten Gunungkidul adalah wilayah dengan angka kemiskinan paling tinggi di DIY.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Gunungkidul mencapai 21,7% dari keseluruhan jumlah penduduk. Angka tersebut menurun bila dibanding jumlah kemiskinan pada tahun sebelumnya, yakni sebesar 22,71%.
Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Gunungkidul Immawan Wahyudi mengakui, jika angka kemiskinan di Gunungkidul merupakan yang tertinggi di DIY. Padahal pada tahun sebelumnya, posisi Gunungkidul berada di atas Kulonprogo. Tahun ini, Kulonprogo berhasil menyodok ke urutan keempat.
Immawan mengaku tidak merisaukan hal tersebut. Menurut dia, perubahan posisi tidak berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, penilaian jumlah warga miskin berdasar kriteria kemampuan daya beli masyarakat.
Padahal, umumnya masyarakat di Gunungkidul lebih mementingkan ketahanan pangan, ketimbang memikirkan untuk membeli suatu barang.
“Posisi Kulonprogo meningkat dengan pesat, karena ditunjang tingkat daya beli masyarakat yang semakin tinggi. Sementara, hal itu tidak terjadi di Gunungkidul,” kata Immawan saat ditemui di ruang kerjannya, Senin (3/11/2014).
Dia menilai, pola hidup yang dikembangkan masyarakat patut diacungi jempol. Meski dari sisi daya beli tidak ada peningkatan, namun secara pemikiran masyarakat lebih mementingkan ketersediaan pangan.
“Kalau pun mereka menginginkan sesuatu, mereka juga lebih sering mengandalkan jual beli dengan sistem barter,” ungkapnya.
Bukti tingginya ketahanan pangan di Gunungkidul, salah satunya dibuktikan dengan angka, kebutuhan pangan di DIY 35% dipasok dari Gunungkidul.
Lebih jauh dikatakan Immawan, Pemkab tetap akan fokus terhadap pengentasan kemiskinan di Gunungkidul. Caranya, dengan meningkatkan daya beli masyarakat, karena semakin tinggi transaksi akan berpengaruh terhadap tingkat daya beli.
Selain itu, program pengentasan kemiskinan yang dimiliki Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) harus berprogram jelas dan tepat sasaran.
Immawan menjelaskan BPS pada akhir tahun akan mendata warga miskin dengan metode yang baru. Sebab, hasil survei dari BPS akan dilakukan uji publik di masyarakat. Tujuannya, untuk mendapatkan data yang lebih akurat.
“Uji publik akan melibatkan kelompok warga dari delapan RT,” katanya lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
15.342 RTLH di Gunungkidul masih menunggu perbaikan. Tahun 2026, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5,12 miliar untuk 256 rumah.
Kemarau panjang 2026 mulai menurunkan debit air di sejumlah wilayah Sleman. PDAM Tirta Sembada memastikan distribusi air ke 45.993 pelanggan tetap stabil.
DPRD Sleman menilai pemetaan sekitar 114.000 UMKM belum optimal. Pemerintah diminta menyesuaikan pemberdayaan dengan persoalan tiap pelaku usaha.
Anggota DPRD Gunungkidul Mega Nusantara Wati kaget masuk desil 5 DTSEN. Begini penjelasan soal desil dan cara mengajukan pembaruan data.
Trailer terbaru Memburu Pemangsa ungkap investigasi empat jurnalis yang berubah menjadi teror demonologi. Dibintangi Laura Basuki dan Prilly Latuconsina.
Kenali 7 tanda laptop mulai ketinggalan teknologi, dari performa lambat, baterai boros hingga tak mendapat pembaruan keamanan. Kapan harus ganti?