Libur MBG Picu Harga Telur dan Ayam di Gunungkidul Turun
Harga telur, ayam potong, cabai, dan sejumlah kebutuhan pokok di Gunungkidul turun selama program MBG libur. Pedagang menyebut permintaan pasar ikut berkurang.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus berusaha mendorong pengusaha batik untuk terus berkreasi membuat motif-motif baru. Langkah itu diambil sebagai tantangan memenangkan persaingan bisnis batik di tataran regional maupun global.
Sekretaris Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Energi Sumber Daya Mineral (Disperindagkop ESDM) Gunungkidul Anwarul Jamal menilai persaingan industri batik semakin ketat.
Tingkat persaingan tak hanya di regional DIY, sebab wilayah lain seperti Solo, Pekalongan atau Lasem juga ikut meramaikan persaingan tersebut.
“Untuk itu, kami mendorong pengusaha untuk terus berkreasi. Dalam inovasi tersebut, mereka juga harus mengedepankan apa yang menjadi ciri khas Gunungkidul,” kata Jamal saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (6/11/2014).
Dia menjelaskan sejak 2012 lalu, perkembangan indutri batik di Gunungkidul terus meningkat pesat. Saat ini, puluhan pengusaha batik tersebar di enam kecamatan, mulai di Semin, Ngawen, Gedangsari, Patuk, Paliyan dan Purwosari. Meski jumlahnya masih kurang dari 100 pengusaha, namun dari usaha itu sudah mampu menghidupi 500 orang lebih.
“Kondisinya sudah sangat berbeda. Karena sebelumnya usaha batik seperti mati suri. Tapi sekarang, kondisinya sudah berubah drastis,” ungkap mantan Sekretaris Dinas Tanaman Kehutanan dan Perkebunan itu.
Meski telah berkembang lumayan pesat, Jamal meminta supaya pengusaha tidak cepat berpuas diri. Pasalnya, persaingan yang makin ketat harus diimbangi dengan jaminan mutu hasil produksi.
“Selain terus berkreasi dengan membuat motif baru, kami juga meminta ke pengusaha untuk memperhatikan sistem manajemen yang digunakan. Jangan sampai yang digunakan masih pola-pola yang tradisional, karena itu dapat menghambat pengembangan,” kata dia.
Jamal menambahkan secara permodalan Pemkab belum bisa memberikan bantuan. Sebab, saat ini peran dari pemerintah baru sebatas penghubung antara pihak bank dan pengusaha.
“Bantuan yang diberikan bukan dalam bentuk uang, tapi lebih ke barang sebagai penunjang usaha. Misalnya, pengusaha di beberapa kecamatan telah mendapatkan bantuan berupa meja, alat cap batik dan peralatan lainnya,” ungkap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga telur, ayam potong, cabai, dan sejumlah kebutuhan pokok di Gunungkidul turun selama program MBG libur. Pedagang menyebut permintaan pasar ikut berkurang.
PIHPS mencatat harga pangan nasional hari ini. Bawang merah Rp46.650 per kg, daging ayam Rp37.000 per kg, dan telur Rp28.950 per kg.
BMKG memprakirakan cuaca berawan mendominasi Indonesia pada Minggu 12 Juli 2026. Sejumlah wilayah juga berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat
Jadwal SIM Keliling Gunungkidul Juli 2026 resmi dirilis. Cek lokasi, jam layanan, dan syarat perpanjangan SIM A serta SIM C.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mendorong skrining anemia pada ibu hamil dan balita disertai edukasi gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Program Gemarikan DKP Bantul telah mencapai 87 persen. Sebanyak 675 siswa di 22 sekolah mengikuti edukasi pentingnya konsumsi ikan.