APBD Perubahan Gunungkidul: Transfer Turun, PAD Dinaikkan
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Perbaikan talud dan geombran yang ambrol di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) Wukirsari berjalan lamban.
Sejak diterjang banjir yang berujung pada kerusakan pada tahun lalu, hingga sekarang belum ada tanda-tanda akan selesai diperbaiki.
Apabila hal tersebut terus dibiarkan bisa mengakibatkan pencemaran lingkungan bagi warga sekitar, terlebih lagi saat ini memasuki musim penghujan.
Talud yang jebol bisa membuat air dari tumpukan sampah merembes ke parit di sekitar TPAS. Sementara, geomembran yang dijadikan penahan tidak bisa berfungsi maksimal karena ada yang robek.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan Harianjogja.com, Jumat (14/11/2014), selain kerusakan pada talud dan geomembran, kerusakan juga terjadi pada saluran pembuangan air dan gas. Padahal, saluran itu berfungsi sebagai akses air resapan dari tumpukan sampah yang ditahan menggunakan geomembran menuju ke saluran penampungan air limbah.
Namun kenyataannya, salah satu saluran pembuangan yang terbuat dari pipa besar dan drum setinggi sekitar empat meter kondisinya sangat memprihatinkan, karena posisinya hampir roboh.
Petugas TPAS Wukirsari Rusdi mengatakan, tahun lalu, di sekitar lokasi pembuangan sampah itu sempat terjadi banjir. Akibat terjangan air membuat talud dan geomemberan di TPAS rusak.
“Ada tiga titik yang rusak. Sudah ada perbaikan, namun belum menyentuh semua,” kata Rusdi, Jumat (14/11/2014).
Dia menambahkan perbaikan yang dilakukan masih sebatas pembenahan talud yang jebol. Sedangkan untuk pasangan geomembran yang robek belum dilakukan perbaikan. Sebab, selain harganya yang relatif mahal, juga harus mendatangkan dari Surabaya.
“Kalau berfungsi normal, air hasil tumpukan sampah bisa ditahan dan langsung dialirkan ke bak penampungan. Namun, berhubung rusak, maka kubangan air tidak bisa dihindarkan,” ungkap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Komisi B DPRD Bantul mencatat realisasi program OPD mitra sekitar 70% dan memastikan seluruh kegiatan tuntas hingga akhir tahun.
Dewan Pendidikan Nasional mengingatkan orang tua tak perlu memaksa anak ikut bimbel karena TKA bukan penentu kelulusan.
Lipstik Lipsing kembali setelah 16 tahun hiatus. Penampilan di Candi Prambanan menghidupkan nostalgia penggemar lewat lagu-lagu legendaris mereka.
ASN Pemkot Jogja kini bisa mengajukan cuti, termasuk cuti darurat, lewat JSS. Verifikasi hingga persetujuan dilakukan secara elektronik.
DPR menyoroti cost recovery 2027 yang naik menjadi US$10,1 miliar saat lifting migas masih turun dan realisasi di bawah target.