15.342 RTLH di Gunungkidul Masih Menunggu Perbaikan
15.342 RTLH di Gunungkidul masih menunggu perbaikan. Tahun 2026, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5,12 miliar untuk 256 rumah.
Ilustrasi komoditas perdagangan cabai rawit (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Harga cabai di pasar tradisional Gunungkidul mencapai Rp80.000 per kilogram. Diperkirakan harga akan terus naik jika tidak dikendalikan.
Cabai rawit di Pasar Argosari, Wonosari, dijual Rp80.000 per kilogram. Sedangkan cabai merah kerinting Rp70.000 per kilogram.
Sejumlah pedagang mengeluhkan cara penanaman cabai yang serempak oleh petani. Alhasil, kenaikan harga cabai sudah bisa diprediksi, karena terus berulang tiap tahun.
Sistem tanam yang dilakukan serempak seringkali membuat stok cabai tidak terkontrol. Biasanya, petani mulai menanam cabai saat musim panen padi berakhir. Akibatnya saat musim panen, harga cabai anjlok. Kondisi berbeda saat memasuki masa tanam padi, sangat sedikit petani yang menanam cabai.
Dampaknya, harga cabai pun terus terkerek karena pasokan minim.
Salah seorang pedagang di Pasar Argosari Deni, 45, mengatakan, saat memasuki pergantian musim dari kemarau ke penghujan bisa dipastikan harga cabai melambung tinggi.
Kondisi itu terus terjadi tiap tahun. Kenaikan harga disebabkan pasokan cabai di pasaran minim dan tidak sebanding dengan jumlah permintaan.
“Itu sudah hal biasa,” kata Deni, Rabu (10/12/2014).
Pola tanam yang tak terkoordinasi dengan baik membuat harga cabai terus fluktuatif. Ada kalanya harga cabai sangat tinggi, namun tidak jarang harganya anjlok.
Deni berharap pola tanam cabai bisa diatur sehingga harga bisa dikendalikan.
“Kalau bisa, masa tanam itu diatur sehingga harga terus stabil,” paparnya.
Dia mencontohkan, pada medio tahun ini, harga cabai merah keriting sempat anjlok di kisaran Rp7.000 per kilogram. Saat ini cabai merah kerinting dijual Rp70.000 per kilogram.
Sedangkan untuk cabai rawit Rp80.000 per kilogram. Menurut Deni, kenaikan harga BBM tak berpengaruh terhadap harga jual cabai. Sebab, sebelum ada kenaikan, harga sudah terus naik.
Hal senada diungkapkan Sumarsih, pedagang di Pasar Argosari. Menurut dia, setelah harga BBM dinaikan, harga cabai tembus Rp80.000 per kilogram. Namun, sebelum ada kenaikan harga BBM cabai sudah dijual Rp55.000 per kilogram.
“Kenaikan lebih dikarenakan pasokan yang kurang. Buktinya, barang-barang lain juga masih stabil. Hanya beras yang naik dari Rp9.000 menjadi Rp10.000 per kilogram,” ungkapnya.
Sumarsih yakin harga cabai akan kembali stabil dalam beberapa bulan. “Masalahnya hanya di pasokan, kalau pasokan lancar dengan ketersediaan barang aman, maka harganya akan berangsur-angsur turun,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang pembeli Tarmi mengatakan, meski harganya mahal, dia tetap membeli cabai. Pasalnya, komoditas itu termasuk dalam kebutuhan yang wajib dibeli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
15.342 RTLH di Gunungkidul masih menunggu perbaikan. Tahun 2026, Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5,12 miliar untuk 256 rumah.
Kenali gejala keracunan makanan, cara pertolongan pertama, tanda dehidrasi, hingga kondisi yang mengharuskan penderita ke dokter.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) memberikan apresiasi khusus kepada nasabah dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional 2026
Tunggakan gaji empat bulan eks pekerja RSGM Bantul belum dibayar sesuai perjanjian. Mereka kini mengajukan permohonan eksekusi ke PHI.
Polda Metro Jaya membongkar sindikat sabu di Tambun Selatan, Bekasi. Lima tersangka ditangkap dan polisi menyita sabu serta senjata api.
Jetour T2 i-DM resmi dibanderol Rp696 juta di GIIAS Bandung. SUV PHEV ini mengusung teknologi Intelligent Dual Mode.