Wisata Gunungkidul Meledak PAD Tembus Rp26 Miliar
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026 didorong lonjakan kunjungan ke Pantai Drini dan Pantai Sepanjang.
Ilustrasi obat-obatan (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Obat-obatan, Dinkes Gunungkidul belum mengambil tindakan penarikan obat anestesi karena masih menunggu instruksi.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan Gunungkidul belum mengambil tindakan terkait peredaran obat anestesi Buvanest Spinal produksi PT Kalbe Farma. Mereka berdalih masih menunggu instruksi Pemerintah Pusat terkait penarikan obat tersebut. (Baca Juga : http://jogja.solopos.com/baca/2015/02/18/obat-obatan-ups-1-241-obat-ditarik-karena-bermasalah-578008">OBAT-OBATAN : Ups, 1.241 Obat Ditarik karena Bermasalah)
Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, tidak tahu secara pasti peredaran obat tersebut. Sebab, obat itu termasuk kategori obat sekunder. Sementara berdasarkan fungsi pengawasan, Dinas hanya melakukan pengawasan terhadap obat dengan kategori primer.
"Kalau ingin tahu peredarannya bisa tanya ke dokter anestesi atau rumah sakit," kata Dewi, Rabu (17/2/2015).
Dia mengaku mengetahui penarikan obat anestesi itu dari media sosial. Penarikan tidak lepas dari dua korban meninggal saat dirawat di Rumah Sakit Siloam, Karawaci, Tanggerang, beberapa waktu lalu.
“Kalau secara resmi baik dari pemerintah atau Balai Pengawasan Obat dan Makanan [BPOM) belum ada,” paparnya.
Dewi menegaskan tidak akan mengawasi secara berlebihan. Menurut dia, kebijakan penarikan tergantung dari rumah sakit maupun dokter yang bersangkutan.
“Pastinya kalau ada informasi lebih lanjut BPOM pasti akan memberikan surat resmi,” tegas Dewi.
Terpisah, Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari Aris Suryanto menegaskan, di rumah sakit tidak ada peredaran maupun penggunaan obat anestesi dengan merek Buvanest Spinal. Rumah sakit sudah sejak lama tidak menggunakan obat bikinan PT Kalbe Farma tersebut.
“Apanya yang mau ditarik? Wong kami sudah lama tidak pakai. Untuk perawatan anestesi kami menggunakan obat yang lain,” kata Aris.
Meski tidak menggunakan obat itu, Aris mengakui sempat ada distributor obat tersebut datang ke rumah sakit. Tujuannya, untuk menanyakan apakah obat itu masih ada atau tidak.
“Kalau tidak salah, orang itu datang Senin lalu,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026 didorong lonjakan kunjungan ke Pantai Drini dan Pantai Sepanjang.
Trik aluminium foil di router WiFi memang bisa mengarahkan sinyal, tetapi tidak menambah kecepatan internet secara signifikan.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
11 manfaat beras kencur untuk kesehatan, mulai dari menambah nafsu makan, menjaga stamina, hingga membantu tidur lebih nyenyak.
Sekawan Limo 2 Gunung Klawih tembus 212 ribu penonton di hari pertama, catat rekor box office Indonesia 2026.