Kamu Lulusan SMA/SMK dan Ingin Kerja di Dunia Penerbangan? Ada Info Menarik nih!
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Seorang mahasiswa yang indekos di Bantul meninggal karena terserang DBD
Harianjogja.com, BANTUL—Prestasi Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon sebagai penyandang predikat kampung bebas demam berdarah dengue (DBD) 2014 dari Puskesmas Sewon tercoreng. Penyebabnya, sampai awal tahun ini sudah ada tujuh orang yang menderita DBD.
Menurut Kepala Dusun Pandes, Setyo Raharjo, ketujuh orang penderita DBD dari kalangan anak dan tujuh penderita usia dewasa.
“Tiga orang di antaranya satu keluarga. Yang lain ada yang satu rumah dua orang,” katanya, Jumat (27/3/2015).
Setyo prihatin karena Pandes yang pernah menyandang dusun sampel untuk lomba desa tingkat nasional dan bebas DBD 2014, saat ini justru menyokong penderita terbanyak. Terlebih siklus lima tahunan DBD saat ini sampai merenggut korban jiwa.
“Ada satu meninggal pada Sabtu [21/3] kemarin tapi anak ISI [Institut Seni Indonesia] asal Trenggalek yang indekos di Pandes,” ujarnya.
Penderita DBD terbanyak berasal dari RT4, 5, dan 6. Sampai saat ini masih ada empat orang yang dirawat di Rumah Sakit Patmasuri, Bantul.
Salah satu warga Pandes, Purwanti, mengatakan penderita DBD mulai meningkat sejak Februari. Kegiatan gotong royong yang rutin dilakukan tampaknya belum mampu memberantas sarang nyamuk.
“Rabu [25/3/2015] lalu ada fogging dari Dinas Kesehatan tapi itu enggak satu dusun. Cuma RT4, 5 dan 6 saja yang di-fogging. Minta semuanya tapi enggak boleh,” katanya.
Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Bantul Pramudi Darmawan menjelaskan fogging hanya dilakukan radius 200 meter dari tempat tinggal penderita DBD.
“Dasarnya itu jarak terbang nyamuk. Nyamuk terbang hanya 100-300 meter sehingga yang di-fogging hanya daerah itu,” ucapnya.
Untuk kasus DBD di Pandes, sampai saat ini Dinkes belum menerima laporan resmi dari rumah sakit tempat pasien di rawat. Dinkes akan menunggu kewaspadaan dini rumah sakit (KDRS) untuk kemudian melakukan audit pada penderita DBD.
Menurutnya, ada 14 warga yang terkena DBD yang dimungkinkan tidak disebabkan gigitan nyamuk di Pandes. “Bisa jadi digigitnya itu di daerah lain. Maka Dinkes menunggu KDRS yang akan dilaporkan ke Puskesmas dan Dinkes,” papar Pramudi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.
Pemkab Bantul memantau harga pangan usai rupiah melemah. Sejumlah komoditas lokal masih aman, warga diminta tidak panic buying.