Dampak Rupiah Melemah, Pemkab Bantul Waspadai Harga Pangan yang Rentan

Kiki Luqman
Kiki Luqman Sabtu, 16 Mei 2026 11:17 WIB
Dampak Rupiah Melemah, Pemkab Bantul Waspadai Harga Pangan yang Rentan

Pedagang sayur mayur dan cabai di Pasar Kolombo menata dagangannya, Senin (13/1/2025).

Harianjogja.com, BANTUL - Pemerintah Kabupaten Bantul mulai meningkatkan pemantauan harga bahan pokok menyusul melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik maupun melakukan pembelian barang secara berlebihan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bantul, Fenty Yusdayati, mengatakan sejumlah komoditas pangan utama di Bantul hingga kini masih tergolong aman karena dipenuhi dari hasil produksi lokal.

“Kalau beras di Bantul masih aman karena sebagian besar berasal dari petani lokal. Ada Bawang merah juga yang stoknya cukup, karena tidak tergantung impor,” ujar Fenty, Jumat (15/5/2026).

Menurut dia, beberapa komoditas yang perlu mendapat perhatian antara lain cabai, minyak goreng, hingga kedelai impor. Kendati begitu, kondisi harga kebutuhan pokok di DIY sejauh ini disebut masih terkendali.

“Jadi di DIY itu masih belum masuk kategori warning, bisa dibilang aman. Harga eceran tertinggi juga masih relatif aman,” katanya.

Kendati demikian, Fenty mengakui pelemahan rupiah mulai berdampak pada sejumlah barang berbahan impor. Kedelai dan bahan plastik menjadi komoditas yang belakangan mengalami kenaikan harga.

“Kedelai perlahan naik. Plastik juga sempat naik karena dampak kondisi geopolitik dan perang di Timur Tengah,” ucapnya.

Karena masih banyak kebutuhan masyarakat yang dipenuhi dari produksi lokal, warga diminta tidak melakukan panic buying.

Karena menurutnya, aksi borong barang justru memicu lonjakan harga di pasaran.

“Masyarakat jangan panic buying, jangan takut lalu membeli barang dalam jumlah besar. Karena tidak semua kebutuhan di sini itu impor,” ujarnya.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, Pemkab Bantul juga rutin menggelar pasar murah di sejumlah kapanewon. Salah satunya baru digelar di wilayah Pandak.

“Pasar murah kami lakukan supaya masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” katanya.

Selain memantau harga kebutuhan pokok, Pemkab Bantul juga mencermati dampak pelemahan rupiah terhadap pelaku usaha dan pengrajin lokal. Meski begitu, Fenty optimistis para perajin di Bantul tetap mampu bertahan dengan menyesuaikan kebutuhan pasar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online