SAMPAH DI TEMPAT WISATA : Gunungkidul Perlu Tempat Pembuangan Sampah Dekat Pantai

David Kurniawan
David Kurniawan Senin, 14 September 2015 21:20 WIB
SAMPAH DI TEMPAT WISATA : Gunungkidul Perlu Tempat Pembuangan Sampah Dekat Pantai

Sampah di tempat wisata Gunungkidul mencapai tujuh meter kubik per hari

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Antusias wisawatan yang berkunjung ke kawasan pantai di Gunungkidul berdampak terhadap sampah yang dihasilkan. Setiap harinya volume sampah yang dihasilkan mencapai tujuh meter kubik, dan akan meningkat saat memasuki hari libur.

Jika terus dibiarkan, kondisi tersebut akan menganggu kenyamanan pegunjung. Oleh karenanya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul berencana membangun tempat pembuangan sampah di kawasan pantai.

“Masih dalam kajian, mudah-mudahan bisa direalisasikan di tahun depan,” kata Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Disbudpar Gunungkidul Hary Sukmono, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, sampah yang dihasilkan dari kawasan pantai mencapai tujuh meter kubik per hari. Jumlah ini akan meningkat saat memasuki hari libur. Rata-rata sampah yang dihasilkan berupa batok kelapa, plastik hingga sisa-sisa pengolahan ikan.

Hary menjelaskan, berhubung tidak adanya tempat penglolaan sampah yang memadai, sampah-sampah yang dihasilkan kemudian diangkut untuk diproses di Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Wukirsari, Baleharo.

“Berhubung lokasi TPAS jauh dari kawasan pantai maka pengambilan sampah dilakukan setiap dua hari sekali dengan menggunakan tiga unit armada pengangkut sampah,” ujar Hary.

Menurut dia, kondisi ini sangat tidak efektif. Terlebih lagi saat musim liburan tiba sampah yang dihasilkan meningkat tajam. Ditakutkan kondisi ini akan mengganggu kenyamanan pengunjung. “Untuk itulah kami mengajukan pendirian TPAS di sekitar pantai,” ungkapnya.

Mengenani lokasi pendirian, Hary belum bisa menentukan secara pasti. Saat ini disbudpar masih melakukan kajian dan belum menentukan titik pasti TPAS.

“Selain usulan tempat pengelolaan sampah, kami juga akan mengajukan tambahan pembelian truk amrol, dan 3 buah kontainer pengangkut sampah. Dengan tambahan alat ini diharapkan sebelum jam 08.00 WIB seluruh sampah sudah bisa diangkut,” tuturnya.

Permasalahan sampah juga dirasakan Ketua Kelompok Sadar Wisata Pantai Pulangsawal (pengunjung seringkali menyebut dengan nama Indrayanti), Tepus Hendro Pratopo. Menurut dia, masalah sampah harus bisa diselesaikan karena bisa menganggu kenyamanan wisatawan. “Jujur selama ini, kami mengelola sampah secara mandiri,” kata Topo kepada Harian Jogja, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, pengelolaan sampah secara mandiri mengharuskan pelaku usaha untuk iuaran kebersihan. Setiap minggunya, mereka ditarik iuran Rp8.000-13.000. Namun saat hari libur, pengunjung akan ditarik tambahan dengan jumlah nominal yang sama.

“Kalau hari biasa penarikan dilakukan setiap minggu. Tapi saat musim liburan penarikan dilakukan setiap hari,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selain iuran kebersihan, pengelola bersama dengan pedagang mengagendakan gerakan kebersihan yang dilakukan setiap minggu sekali. Gerakan bersih-bersih ini dilakukan setiap  hari Jumat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online