DESA INKLUSI : Ada Ratusan Difabel, 6 Desa di Lendah Dirintis Jadi Desa Inklusi

Rima Sekarani
Rima Sekarani Minggu, 06 Desember 2015 14:20 WIB
DESA INKLUSI : Ada Ratusan Difabel, 6 Desa di Lendah Dirintis Jadi Desa Inklusi

Penyandang disabilitas mendengarkan tausiyah saat mengikuti Pesantren Ramadan Anak-Anak Difabel di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (15/7/2014). Pesantren kilat tersebut diisi dengan tausiyah serta pemberian motivasi yang diikuti oleh anak penyandang disabilitas dari berbagai provinsi di Indonesia. (Septian Ade Mahendra/JIBI/Solopos)

Desa inklusi di Lendah akan dirintis di enam desa

Harianjogja.com, KULONPROGO-Enam desa di Kecamatan Lendah, Kulonprogo bakal dikembangkan menjadi rintisan desa inklusi. Program tersebut diharapkan menjadi langkah advokasi terhadap hak difabel yang lebih efektif.

Camat Lendah, Sumiran mengatakan, enam desa tersebut antara lain Desa Wahyuharjo, Bumirejo, Jatirejo, Sidorejo, Gulurejo, dan Ngentakrejo. “Ada lebih dari 200 orang berkebutuhan khusus di Lendah,” ungkapnya, Jumat (4/12/2015).

Sumiran menjelaskan, program rintisan desa inklusi merupakan kerja sama dengan Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB). Mereka juga didukung Difabel People Organization (DPO) Cahaya Mandiri yang selama ini mengadakan pertemuan rutin setiap bulan di kecamatan.

Rintisan desa inklusi ditargetkan mampu membuka pemahaman masyarakat mengenai peran kalangan difabel dalam interaksi sosial sehari-hari. Masyarakat diharapkan tidak membedakan atau memandang sebelah mata kepada orang berkebutuhan khusus. “Difabel dilibatkan dalam segala bentuk kegiatan dengan diberi peran yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan,” kata Sumiran.

Sumiran lalu mengatakan, fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) di wilayah Lendah jug akan diperbaikan dan disesuaikan dengan kebutuhan difabel secara bertahap. “Misalnya akses di tempat pelayanan publik. Bagaimana agar jalan masuk ke ruang layanan bisa dilalui dengan lebih mudah dan nyaman,” ucap Sumiran.

Aktivis difabel di setiap desa rintisan inklusi juga akan berupaya agar kebijakan pembangunan desa lebih inklusif dan ramah difabel. Jabatan kepala dusun bahkan sudah ada yang dipegang oleh seorang difabel, tepatnya di Dusun Senden, Desa Sidorejo.

“Namanya Wahyu Adi Nugroho. Dia lolos ujian seleksi pengisian kepada dusun dan sudah dilantik pada 1 Desember kemarin,” papar Sumiran.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis