MERTI DUSUN : Melihat Praktik Kesetiakawanan Sosial di Dusun Plumbon
Prajurit bregodo ikut terlibat dalam kirab budaya acara merti dusun yang digelar warga Dusun Plumbon, Banguntapan, Bantul bersama Dinas Sosial DIY, Sabtu (12/12). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Merti dusun Plumbon menjadi bukti bentuk kesetiakawanan sosial
Harianjogja.com, BANTUL-Sebagai salah satu upaya mengangkat produk lokalnya, warga Pedukuhan Plumbon, Desa Banguntapan menggelarnya dalam bentuk bazaar, Minggu (13/12/2015) pagi. (Baca juga : http://solopos.com/2015/12/12/merti-dusun-kirab-budaya-dusun-plumbon-bawa-pesan-toleransi-beragama-670244" target="_blank">MERTI DUSUN : Kirab Budaya Dusun Plumbon Bawa Pesan Toleransi Beragama)
Kegiatan yang menjadi salah satu puncak rangkaian acara Gelar Budaya Pedukuhan Plumbon itu, memang menjadi andalan warga untuk memasarkan produk lokal mereka, mulai dari sandang, kuliner, hingga kerajinan.
Ketua Panitia Gelar Budaya Rusdiyanto menjelaskan, rangkaian acara Gelar Budaya itu sejatinya sudah ia gelar sejak 6 Desember silam. rencananya, acara itu akan ia pungkasi dengan menggelar pentas wayang kulit sebagai tonggak peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2015.
“Karena acara ini kami selenggarakan memang atas kerjasama dengan pihak Dinas Sosial DIY,” katanya saat ditemui di lokasi bazaar.
Dalam bazaar itu, pihaknya memang sengaja menampilkan produk lokal dari seluruh Rukun Tetangga (RT) yang ada di Pedukuhan Plumbon. Dijelaskannya, di Pedukuhan Plumbon, terdapat 6 Rukum warga (RW) yang terbagi menjadi 34 RT.
Sebelum menggelar bazaar, Sabtu (12/12/2015) lalu, pihaknya sempat menggelar kirab budaya yang diikuti oleh sekitar 400 orang. Uniknya, kirab itu tak hanya ditampilkan dalam bentuk tradisi Jawa saja, melainkan juga tradisi daerah lain.
Pasalnya, wilayah Pedukuhan Plumbon tak hanya ditempati oleh warga asli Suku Jawa saja, melainkan banyak warga pendatang yang berasal dari luar Pulau Jawa. Itulah sebabnya, dalam kirab tersebut, pihaknya memberikan ruang bagi komunitas dari luar Jawa untuk ikut tampil. “Ada yang dari Kalimantan juga,” sergahnya.
Terpisah, Kepala Dinsos DIY Untung Sukaryadi mengakui, pihaknya memang memiliki tanggung jawab untuk membudayakan kampanye kesetiakawanan sosial. Hanya saja, bentuk kesetiakawanan sosial itu bisa diwujudkan dalam bentuk yang bermacam-macam. “Salah satunya ya seperti ini, dengan menggelar acara bersama warga,” katanya.
Selain itu, acara yang didukungnya penuh itu juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemandirian masyarakat melalui program pemberdayaan. Setidaknya, melalui masyarakat yang berdaya itulah, program kesetiakawanan sosial bisa dibangun secara perlahan. “Karena program itu [kesetiakawanan sosial], prinsipnya memang adalah untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share